Selasa, 13 Agustus 2019

Islam Nusantara Vs Khilafah

Assalamualaikum wr.wb.

Peranan NU (Para Ulama dan Habaib) yang mengusung islam dalam kemerdekaan dan terciptanya PANCASILA.

KH. Adnan Anwar menyatakan bahwa NKRI sudah sangat islami karena bangunan dan konsepsi NKRI banyak ulama terlibat di dalamnya. “Habib Idrus Salim Al Jufri,  pendiri Al Khairaat di Kota Palu (Sulawesi Tengah) yang juga adik kelas Mbah Hasyim Asyari  pernah mengatakan bahwa beliau pernah bermimpi Nabi Muhammad SAW dan pesan dalam mimpi itu adalah nanti kalau Indonesia merdeka benderanya adalah Merah Putih,” tambahnya.

Bahkan Muktamar NU tahun 1937 atas pesan Habib Idrus Salim Al Jufri, Mbah Hasyim Asyari  mengusulkan bahwa bendera Indonesia adalah Merah Putih dan Soekarno adalah pemimpinnya. “Ulama-ulama kita sangat cinta NKRI. Mbah Hasyim Asyari sering menangis ketika menyanyikan Indonesia Raya. Bahkan, pencipta lagu Padamu Negeri adalah habib atau ulama. Makanya jika ada yang ingin mengganti Indonesia dengan negara Islam atau khilafah, maka sesungguhnya mereka tidak mempelajari sejarah dan mengingkari akan perjuangan dari ulama-ulama Nusantara,” tandasnya.

****

Diketahui Guru Tua (Habib Idrus) memang memiki kecintaan yang tinggi terhadap bangsa Indonesia. Hal itu pernah ditunjukkan melalui syair-syairnya. Salah satu Syairnya tentang Indonesia yaitu, ketika menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia:

إن يوم طلوعها يوم فخر * عظمته الأبآء والأبنآء
Sungguh hari kebangkitannya ialah hari kebanggaan | orang-orang tua dan anak-anak memuliakannya

راية العز رفرفي في سمآء * أرضها وجبالها خضرآء

Bendera kemuliaan berkibar di angkasa | hijau daratan dan gunung-gunungnya

 كل عام يكون لليوم ذكرى * يظهر الشكر فيها والثنآء

Tiap tahun hari itu menjadi peringatan | muncul rasa syukur dan pujian-pujian padanya

يا سوكارنو حييت فينا سعيدا * بالدواء منك زال عنا الدآء

Wahai Sukarno!Tlah kau jadikan hidup kami bahagia|dengan obat dirimu hilang sudah penyakit kami

أيها الرئيس المبارك فينا * عندك اليوم للورى الكميآء

Wahai Presiden yg penuh berkah bagi kami | engkau hari ini laksana kimia bagi masyarakat

باليراع وبالسياسة فقتم * ونصرتم بذا جائت الأنبآء

Dengan perantara pena dan politikmu kau unggul | telah datang berita engkau menang dengannya

لا تبالوا بأنفس وبنين * في سبيل الأوطان نعم الفدآء
Jangan hiraukan jiwa dan anak-anak | demi tanah air alangkah indahnya tebusan itu

فستلقى من الرعايا قبولا * وسماعا لما تقوله الرؤسآء

Pasti kau jumpai dari rakyat kepercayaan | dan kepatuhan pada apa yang diucapkan para pemimpin

واعمروا للبلاد حسا ومعنى * وبرهنوا للملا أنكم أكفآء

Makmurkan untuk Negara pembangunan materiil dan spirituil | buktikan pada masyarakat bahwa kau mampu

أيد الله ملككم وكفاكم * كل شر تحوكه الأعدآء

Semoga Allah membantu kekuasaanmu dan mencegahmu | dari kejahatan yang direncanakan musuh-musuh

Dahulu, saat  kondisi Indonesia tengah kritis karena banyaknya pemberontakan, ia teguh.  Selain itu Indonesia masih dianaktirikan, tapi baginya Republik Indonesia merupakan pilihan utama.

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2017/06/pbnu-bendera-merah-putih-amanat-rasulullah-melalui-mimpi-habib-idrus-salim-aljufri.html#ixzz5wIstAUcz

**********

Lantas apa yang diperbuat oleh khilafah:

Baru-baru ini kabar bahwa KSAD Jenderal Andika Perkasa tetap mempertahankan Enzo Allie sebagai  calon perwira militer.

Suara penolakan yang selama ini kita gaungkan sudah didengar oleh TNI.  Bukan saja kita warga negara biasa yang bukan siapa-siapa bersuara,  kalangan tokoh nasional sekelas Prof Mahfud MD,  Menhan Ryamizar dan Moeldoko juga ikut bersuara.

Kita lakukan ini bukan karena kebencian pada individu.  Bukan karena kita diskriminatif pada individu. Bukan sama sekali.

Kita sekali lagi sedang berada dalam garis demarkasi pertarungan dua ideologi yang sedang saling berhadapan. Dua ideologi yang lahir sejak jaman kemerdekaan.  Ideologi Pancasila dan Ideologi Khilafah.
Sejarah mencatat bagaimana berdarah-darah ibu pertiwi ini mempertahankan negara dari pemberontakan DI TII Kartosuwiryo di Jabar.  Juga Kahar Muzakar di Sulawesi.

Kita tahu bagaimana upaya pembunuhan oleh pendukung khilafah pada Presiden Soekarno saat sedang Sholat Idul Adha pada 1962. Peluru yang ditembakkan dari jarak dekat untung saja tidak mengenai tubuh Presiden Soekarno.  Padahal hanya 8 meter jaraknya atau beberapa shat dari barisan sholat ied itu.

Kita juga belajar dari sejarah bagaimana Presiden Mesir Anwar Sadat tewas diberondong peluru pada 6 Oktober 1981 oleh perwira militernya sendiri pada parade militer hari Nasional Mesir.  Presiden Anwar Sadat terkena tembakan di dada dari prajuritnya yang terpapar faham kelompok jihad islam.

L'histoire se repete kata orang Francis. Sejarah selalu berulang.  Tidak ada sesuatu yang baru di kolong langit ini.  Peristiwa ulangan itu sering terulang karena kita lengah dan menganggap enteng permasalahan ideologi. Kita memberi toleransi. Kita membuka pagar dan benteng pertahanan kita sendiri.

Kita bisa ada gambaran membayangkan bagaimana Enzo yang pulang ke rumahnya. Di Akmil kepalanya didoktrin tentang kecintaan negara kita.  Sesampai di rumah, ibunda tersayangnya terus berucap pemerintahan Jokowi ini thogut,  Islam Nusantara itu sesat. Pemerintah/rezim saat ini jahat, dholim dan curang.  Dan ucapan doktrin-doktrin lain yang buruk pada anaknya.

Sehingga anak semata wayangnya ini yang telah dipersiapkannya sejak kecil menjadi perwira sehingga diberikan latihan dan gemblengan fisik di atas rata-rata siswa SMA untuk menjadi perwira pembela agama. Pembela agama siapa? agama yang mana? Tentu agama yang diyakininya itu berafiliasi dengan akidah khilafah (HTI). Bukan ahlus sunnah dengan madzhab 4 imam dan guru besar imam Al Ghozali yang diemban NU.  Bukan Islam Nusantara.

Sayangnya,  kasus Enzo telah menjadi preseden buruk.  Kasus Enzo menjadi yurispundensi paling sahih bagi para anggota HTI dan faham radikal di seluruh Indonesia untuk tidak takut menyebarkan faham HTI dan radikal.

Hadiati Basjuni Allie menjadi contoh terbaik bahwa sekalipun dia menyebarkan kebencian dan pendukung HTl, ia tidak mendapat hukuman. Ia malah dapat bonus hadiah anak kebanggaannya menjadi calon jenderal di masa mendatang sekalipun selama  ini Hadiati menghembuskan suara kebencian pada pemerintah  dan kampanye faham HTI. Preseden  ini buruk  sekali.

Teman2 seperjuangan...
Gonggongan kita sudah sangat kencang. Kita sudah berjuang sekerasnya untuk memberitahu user TNI.  Kita menyalak kencang karena ini menyangkut nasib negara bangsa kita ke depan. Menyangkut nasib keberlangsungan Indonesia kedepan.

Tapi harus jujur saya akui,  dengan penerimaan Enzo masuk Akmil sekalipun terang benderang kita melihat warna asli ibu dan Enzo ini membuat saya kehilangan semangat untuk bersuara melawan isu khilafah,  radikalisme atau intoleransi.

Menurut saya tak lagi ada guna suara kita ini. Ketika dalam tataran eksekusi lagi-lagi semua seruan anti khilafah,  anti radikalisme itu ternyata manis di bibir saja. Jutaan tulisan dengan sejuta narasi soal HTI,  khilafah hanya jadi sampah ketika saat penentuan pilihan tolak atau rangkul, ternyata negara merangkul.

Saya kira,  tugas dan tanggung jawab kita sudah selesai soal ini.  Ketika perjuangan kita sebagai anjing penjaga republik berhasil membangunkan majikan kita, dan majikan kita memutuskan memasukkan musuh yang kita cium aromanya itu dalam rumah kita.  Maka hanya berdoa saja yang bisa kita lakukan.  Semoga dugaan kita keliru.

Sumber: Birgaldo Sinaga

Terimakasih untuk kalian yang segagasan dan sepemikiran dengan saya, mari kita ingatkan kita dekati pada anak muda adik-adik kita yang baru belajar akan islam dan ingin mengenal islam lebih dalam, kita kuatkan akidah kita dan orang-orang yang kita kenal. Salam dari al faqir

Wassalamu'alaikum wr.wb.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar