Sabtu, 25 Mei 2013

Aqidah Musti Bener

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَبَعْدُ
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Ummat Islam sekarang ini beragam. Dan persoalanpun beraneka ragam. Sehingga membuat non muslim memiliki sudut pandang yang juga tidak kurang-kurang keaneka ragamannya.  
Kebanyakan orang memandang bermacam persoalan, kemudian menyimpulkannya dengan kata-kata singkat, hanya karena dengan melihat apa yang ada pada diri kaum muslimin, dan apa yang dilakukan oleh kaum muslimin. Dan mereka menggunakan pengalaman pribadi, petuah-petuah dari orang tua, dengan sedikit ilmu, dan seabrek emosi. Yang membuat sebuah kesimpulan baru muncul dan radikal: Bahwasanya ummat Islam sedang RWT kata temen-teman (ruwet) dan kacau balau !
 
                Kenapa yang demikian bisa terjadi? Yang seperti anda lihat sendiri saat ini, banyak ummat Islam tak membangun sikap hati (rohaniyah), tingkah laku atau amal perbuatan (sikap lahiriyah) dengan dasar bangunan AQIDAH YANG BENAR. Oleh karenanya kita sering kesulitan untuk memahami kebenaran itu sendiri.
Sebuah Kaidah Dengan Beragam Makna
Sebuah kaidah berdasarkan ucapan Ibnu Mas’ud R.A yang terkenal,” banyak orang yang menginginkan kebenaran, tapi tidak samapai kepadanya.” Jadi bunyi kaidah itu: niat baik, belum tentu dapat menyelamatkan seseorang!
                Kaidah diatas sering diucapakan sebagian kelompok kaum Muslimin, untuk mendiskreditkan yang lain, akan tetapi lupa untuk dijadikan sebagai cerminan diri.Tetapi di saat yang sama, orang itu mungkin berdakwah, berjhad, berpidato(berceramah), melakukan aktivitas, dan hal-hal lainnya yang ternyata juga tidak pernah dicontohkan oleh Nabi, tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabat, oleh para ulama Salafus Sholih, juga para generasi terbaik ummat ini. Hal seperti inilah yang dapat menjadikan Islam yang carut-marut, sehingga para kelompok yang tidak menyukai akan Islam dapat dengan mudah mengadu domba antara sesama ummat Islam.
                Kaidah di atas adalah benar, tidak setiap niat yang baik akan dapat mewujudkan kebaikan. Karena bila hanya dengan niat baik sesuatu akan menjadi baik, lantas buat apa diutusnya para rasul. Maka cukup dengan niat baik dengan tujuan beribadah pada Allah saw, setiap orang bisa masuk surga. Dan mengenai cara, pilih sendiri saja, mana yang enak, yang mudah, atau dengan cara yang paling beresiko  karena dianggap berkelas. Kaidah di atas akan bernilai benar jika digunakan dengan tepat, bukan hanya untuk menilai orang lain, tetapi juga menilai diri kita pribadi.   
                Dan tentunya sebagai orang tua atau calon orang tua, kita semestinya mempersiapkan akan kita kemanakan anak kita nantinya, karena yang menjadikan baik dan buruknya anak adalah kedua orang tuanya, dan hal tersebut dapat ditanamkan oleh orang tua kepada anaknya sejak mulai dapat berkata, missal kita ajarkan bismillah sebelum melakukan sesuatu, Alhamdulillah ketika mendapat kenikmatan, insya Allah ketika berjanji dan lain sebagainya. Dan ketika anak sudah dapat kita ajak bicara, kita tanamkan aqidah yang benar dan pastikan bagaimana anak tidak terpengaruh oleh yang lain. Dengan salah satu cara mungkin dengan ditempatkan anak kita dilingkungan pergaulan yang baik, bersama dengan orang-orang yang baik pula, guna menanamkan kebaikan sejak dini. 
                Karena jaman sekarang ini banyak sekali orang pintar akan tetapi kepintarannya untuk membodohi orang lain, lain halnya apabila orang yang tahu dan mau mengajak kedalam kebaikan, itu baru dapat kita tiru akan kebaikannya. Syariat itu tidak diadakan oleh Allah guna mengekang hambanya, akan tetapi guna menjaga agar hambanya menjadi yang terbaik sesuai apa yang hambanya sumpahkan semenjak jaman azali, manusia sebelum dilahirkan kedunia mereka berjanji kepada Allah akan menyembah dan beribadah kepada-Nya, akan tetapi lain kenyataanya apabila mendurhakai Allah setelah hidup di dunia yang juga diciptakan oleh-Nya, meski terlahir dari pasangan muslim dan muslimah. Kita sebagai kaum muslimin yang baik mudah menjalankan syariat Islam, kita hanya tinggal menjalankan apa yang telah diajarkan Baginda Nabi dan para ‘alim ulama’, dan ketika adanya perubahan jaman, pastinya para Ulama’ juga memikirkan akan kebaikan bagi ummat Islam dalam menyikapi permasalahan kehidupan (dengan ijma’ dan kias), tentunya dengan toleransi yang dapat diambil dari Al Quran dan hadits.
                Sehingga bukan hanya kita menjadi bingung karena ulah para orang pintar yang dengan mudah mengatakan ini bid’ah, itu bid’ah, Nabi tidak melakukan hal tersebut kata mereka, lantas kenapa… mereka naik mobil, motor, atau pesawat. Coba kita pikir apa Nabi berhijrah, bepergian naik motor, mobil, atau pesawat?!, Nabi mengendarai unta atau kuda, bukan kendaraan yang lain, Nabi juga tidak  makan menggunakan sendok, Nabi juga tidak menggunakan Hand phone, jadi semua jenis kendaraan adalah bid’ah hukumnya bila kita menaikinya selain yang pernah dinaiki Nabi, juga segala yang tidak dekerjakan Nabi adalah bid’ah. Jadi jangan gampang-gampang ngomong bid’ah wahai saudaraku, kita harus hidup pada jaman dan tempat yang ada dengan syariat yang ada, bukan kembali ke masa lalu, tetapi jangan juga lepas dari koridor aurat dan sopan santun, baju mentang-mentang beli sendiri udel, dada, sama paha diumbar, mentang-mentang gaul, lantas dengan orang tua tidak ada tata karma kalau ngomong, elu gue-elu gue, apaan itu… gaul gundulmu.
                Nah sekali lagi, aqidah yang benar musti kita tanamkan sejak dini kepada anak-anak kita, adek, atau saudara kita, sehingga tidak lagi mudah bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk membuat bimbang dan mengombang-ambingkan akan keyakinan dan amalan-amalan baik yang telah diajarkan para ‘alim ulama’ dan salafush sholih. Tentunya dengan berbekal dengan pergaulan dan pengetahuan serta mau sering-sering berkonsultasi/ mendengarkan pengajian dan berbaur dengan orang-orang sholih, insya Allah akal dan amal kita akan sejalan dengan apa yang telah menjadi ketetapan Al Qur an dan hadits.
                Sekiranya apa yang saya sampaikan dapat memberi kemanfaatan bagi anda sekalian dan terlebih bagi saya hamba Allah yang berusaha menjadi manusia yang berguna bagi sesama, mohon maaf kiranya ada kata-kata yang salah dan tidak berkenan di hati anda, ihdinash shiratal mustaqim, astaghfirullaha min qoulin bila ‘alamin.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh 

Kamis, 21 Maret 2013

Amalan yang tertolak


الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَبَعْدُ

Asslamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
 
‘an ummil mukminiina ummi ‘abdillah ‘aaisyah radhiyallahu ‘anha qoolat : qoola Rasulullah sholla allahu ‘alaihi wa sallam : man ahdatsa fii amrinaa hadhaa maa laisa minhu fahuwa raaddun. (rowahu al bukhori wa muslim). Wa fii riwaayatin limuslimin : man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa raaddun.
Artinya : Ummul Mukminin, Ummu Abdillah ‘Aisyah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, ”Barang siapa membuat-buat dalam urusan (agama) kami ini amalan yang bukan bagian darinya, ia tertolak.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim).
Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang bukan berdasar perintah kami, ia tertolak.”

Jadi anda tidak perlu mengikuti apalah itu namanya, sholat yang menggunakan terjemah, masak semisal demilian, “saya niat sholat magrib tiga rokaat fardlu karena Allah, Allah Maha Besar.” Nabi tidaklah pernah mengajarkan demikian, Nabi hanya bersabda: Shollu kamaa roaitumuuni usholli. Yang artinya: sholatlah kalian seperti apa aku melaksanakannya. Nabi mencontohkan bagaimana sholat  itu sekaligus dengan bacaannya, jadi janganlah kita mengubah atau menciptakan sendiri gerakan atau bacaan di dalam sholat, ya mungkin ada juga ulama yang berpendapat diperbolehkan berdo’a disujud yang terahir, tepi pendapat demikian adalah lemah sanadnya.

Jadi sepintar apapun seseorang, tidak boleh mengubah apa yang telah ditetapkan Allah dan rasul-Nya, kecuali dalam hal keseharian, oh iya saya jadi teringat, ada suatu golongan yang suka berdakwah dengan mengembara, hehehehe….. mengikuti sunnah rasul katanya, mereka meninggalkan keluarga, anak dan istri untuk berdakwah, dengan membawa kompor, alat makan dan sebagainya. 

Pada suatu hari bertemu dengan seorang Kyai di suatu daerah di Jawa Timur, tetapi dia (sang pengembara) tidak tahu kalau yang diceramahi adalah seorang kyai, dengan panjang lebar dia mengutarakan tujuan dia mengembara, bla bla bla bla yang intinya mengikuti sunnah rasul katanya, dan Kyai tersebut bertanya kepadanya,” apa rasulullah makan menggunakan sendok, dan memasak menggunakan kompor?,” sang pengembara kebingungan menjawab, dan kyai tersebut menambahkan lagi,” rasulullah pergi hanya untuk berdakwah, berperang, dengan satu tujuan, lillahi ta’ala. Beliau tidak menerlantarkan anak dan istrinya, beliau makan dengan tiga jari, karena yang beliau makan adalah kurma dan roti, masak orang makan nasi pakai tiga jari, sampean saja makan memakai sendok, katanya mengikuti sunnah rasul?, rasulullah tidak naik mobil, tidak memakai hp, dan panjang lah pokoknya. Jadi kalau sampaian mau mengikuti sunnah rasul, cari tahu bagaimana rasulullah tidur, cara istinjaknya, makan saat lapar dan berhenti sebelum kenyang dan seterusnya… .”

Dan setelah itu sang pengembara dan teman-tennya tidak lagi pernah mendatangi daerah tersebut, nah intinya dari cerita di atas, yakni kita jangan mudah mengaku menjalankan sunnah rasul, sedikit-sedikit sunnah rasul, sunnah rasul, akan tetapi bertujuan materi, yang sebaiknya kita ucapkan adalah ittiba’ birrosul (mengikuti rosul), missal makan dan minum dengan memakai tangan kanan dan tidak lupa membaca do’a, berjihad di jalan Allah, tentunya dengan tata  dan caranya yang  telah dicontohkan oleh Rasullullah, meski tidak dengan cara yang sama persis, karena sudah berbeda zaman dan tempatnya.

Jadi, anda tidak perlu ragu lagi untuk melaksanakan apa yang membawa terhadap sesuatu yang baik dan benar disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulnya, apalagi hal tersebut sudah menjadi adat dilingkungan tempat anda tinggal, yang tidak boleh adalah melestarikan adat yang salah, semisal membawa makanan dan sesajen di bawah pohon besar, makam keramat dan sebagainya, karena itu sama halnya dengan kita mencari berkah terhadap sesuatu tersebut. Sudah jelas bahwasanya tidak ada yang dapat memberi berkah dan menimbulkan madhorot selain Allah  Subhanahu wa Ta’ala, sehingga hal tersebut dapat menimbulkan kemusyrikan, na’udhu billahi min dzalik.

Yang intinya kita dalam melaksanakan segala jenis ibadah, memang harus ada tendensinya, akan tetapi tidaklah harus berupa dalil dalam Al Qur an atau Al – Hadits untuk menguatkan terhadap ibadah apa yang akan kita kerjakan, bersholawat itu ibadah, tetapi tidak ada hadits atau dalil yang menyebutkan berapa jumlah yang harus kita baca saat kita membaca sholawat. Bergaul dengan istri itu ibadah, tetapi tidak ada hadits atau dalil yang menyebutkan agar berapa kali dalam sehari, satu minggu, atau berapa mungkin, untuk kita melakukannya. Jadi yang menjadi tolok ukur kita dalam beribadah adalah niatan yang baik dan semata karena Allah itulah yang terbaik, dan tentunya dengan cara yang baik dan benar pula ikhwani, tidak usah memperdulikan orang yang gembar-gembor ini bid’ah ituuu bid’ah, memangnya ada apa yang sekarang ini 100% tidak bid’ah, tinggal kita menyikapinya bagaimana, asal bid’ah tersebut hasanah dan tidak merugikan orang lain, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan ganjaran kebaikan kok kepada kita.

“Innamal a’malu binniyah” segala sesuatu itu tergantung niatnya. Marilah kita dasari akan setiap suatu perkara yang akan kita kerjakan dengan niyat yang baik guna mandapat ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita kuatkan pondasi keimanan dan landasan aqidah dengan benar dimulai dari pribadi dan sanak family sejak dini. Kiranya sampai disini yang dapat saya sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan, karena kesempurnaan dan kebaikan hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Ihdinash shiraathal mustaqiim, astaghfirullaha min qoulin bilaa ‘amalin, ilalliqo’ ma’as salamah.
 
Wasslamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh



               

Selasa, 01 Januari 2013

Beruntung Jadi Pemuda dan Pemudi Islam



الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَبَعْدُ

Asslamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Man balagho ‘umruhu arba’ata ‘isyrina sanatan, wa lam yaghlibal hasanatus saiata, fal yatabawwagh maq’adahu minan naar. Al-hadits

Artinya : barang siapa yang usianya mencapai 40 tahun, dan kebaikannya tidak dapat mengalahkan kejelekannya, maka sama halnya dengan melempar dirinya sendiri ke dalam neraka.
Sungguh hadits di atas mengingatkan kepada kita akan betapa pentingnya beramal kebajikan dari mulai dini, bukan menunggu saat kita sudah tua nanti, iya kalau kita dapat mencapai usia tua dan kita dapat bertaubat atau berbuat kebajikan, hingga amal kebajikan kita dapat mengalahkan akan amal-amal keburukan selama kita masih bernafas di dunia.  
Kalau keburu mati bagai mana?, mau disiksa?, mau masuk neraka ?, ditonjok sesama manusia saja sakit apalagi dipukul sama malaikat!, kita kan tidak tahu  kapan kita akan berhadapan dengan yang namanya mati (maut), jd selagi kita masih bernafas mari kita usahakan berbuat kebajikan sebanyak dan sebisa mungkin, agar tidak hanya dapat menyesal dikemudian nanti dan minta untuk dihidupkan kembali. Percumaaaa…..lagu lama!, karena sejak zaman azali kita sudah disumpah kalau diciptakan ke dunia apakah kita akan beriman?, kita pun menjawab,“kita akan beriman”, tapi apa kenyataannya yang mengaku Islam saja tidak sholat, tidak puasa, tidak zakat, padahal hal tersebut merupakan rukunnya Islam, yang namanya rukun kan harus dipenuhi untuk menjadi sah, jd mereka yang tidak sholat, tidak puasa, dan tidak zakat, tidak harus ditakziahi dan di sholati ketika mati.
Jadi merinding melihat KTP kebanyakan orang Indonesia, di KTP itu tertera Agama: Islam, patut diacungi jempol mayoritas Islam warga di Indonesia, tapi apa hanya dengan dapat acungan jempol kita  yang mengaku Islam lantas bangga, apaan cuma Islam KTP. Jadi nanti KTP-nya saja ya yang masuk surga! yang punya langsung saja ke neraka!,hehehe……maaf agak kesar kata-katanya.
Akan tetapi ada kabar baik juga yang disampaikan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam:
“idza mata syabun tsaqibun, yarfa’ullahu ta’alal ‘adzabal qobri min maqobiril muslimina arba’iina sanah”.
Artinya: ketika ada pemuda mati setelah bertaubat, Allah akan memulyakannya dengan diangkat siksa kubur  dari para muslimin selama 40 tahun.
        Sehingga beruntunglah para pemuda Islam yang sejak dini telah berbuat amal kebajikan yang diridloi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mana juga akan dimulyakan oleh Allah dengan diangkat siksa kuburnya juga beserta muslim lainnya selama 40 tahun lamanya ketika ia meninggal dimasa muda dan ia menjalankan syariat Islam, subhanallah… laa haula wala quwwata illa billah. Kita tentunya patut bersyukur jika kita sebagai pemuda/ pemudi yang telah memeluk islam sejak kecil dan menjalankan syari’at Islam yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tinggallah kita ikut mensyiarkan serta mengajak kepada saudara, teman, dan lingkungan dimana kita berada, entah itu dari mengajari ngaji adik-adik kecil, mengajari berwudlu dan sholat dengan baik juga benar.
         Dan juga mengajarkan dan mengingatkan akan tradisi-tradisi dalam Islam, seperti adanya maulid Nabi, barzanji, dziba’, burdahan, dan isro’ mi’roj, manaqib, hari-hari yang disunnahkan berpuasa, hal-hal yang baik yang bisa membangun mental generasi anak muslim dan sebagainya. Bukan malah semangat Valentine, tahun baruan (masehi) ayo ke alun-alun nyambut tahun baruuuu kayak tadi malam itu semangat banget, lah giliran tahun barunya sendiri tidak dirayakan(hijriyyah), padahal pada zaman Nabi, bahkan Wali Songo, mengajarkan agar merayakan tahun baru islam, dengan berpusa sebelum/ sesudah tahun baru, membaca do’a akhir dan awal tahun, dan juga berkasaih saying dengan sanak family mungkin dengan membeli makanan-makanan yang enak kemudian dimakan bersama-sama, jadi islam juga punya hari kasih saying khusus atau tanpa menunggu satu tahun, alias bisa dialakukan setiap saat dan juga memiliki tahun barunya sendiri, yakni hijriyyah...^_^.
       Islam itu indah, islam itu mudah, dan islam cinta damai, itu dapat kita semboyankan dan kita laksanakan, tentunya dengan menambah ilmu pengetahuan bukan untuk membuat kita bingung, bolehlah mereka bilang bid’ah tapi kalau kita laksanakan dan tidak membawa madhorot apa salahnya, bolehlah mereka katakan tahlil dan mendo’akan orang yang sudah meninggal itu tidak perlu, tapi Nabi mengajarkan apa salah kalau dilakukan, dan Sang Imam kita dari keempat Imam yakni juga mengajarkan kalau do’a atau amal yang ditujukan kepada orang yang telah meninggal itu akan sampai Insya Allah, dengan catatan yang kita kirimi do’a juga seorang muslim, itulah salah satu ilmu yang musti kita ketahui, namun bukan untuk membuat kita menjadi bingung karenanya, tapi kita harus mawas diri dan berpendirian.
      Majulah dan jayalah pemuda-pemudi Islam agar kokoh serta bertambah kuat, karenanya pemuda adalah harapan, harapan Bangsa, Negara dan juga Agama. Sekian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf atas segala kekhilafan yang semata-mata dari saya pribadi, kebaikan dan kebenaran adalah milik Allah semata. Al ‘afwu min kum, ihdinash shiratal mustaqim, astaghfirullaha min quolin bila ‘amalin.  

Wasslamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
               

Rabu, 12 Desember 2012

Wali Bersenandung


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَبَعْدُ
Wali Bersenandung
Eei ... dayohe téko
Eei ... bébérno kloso
Eei ... klosone bédah
Eei ... témbélo jadah
Eei ... jadahe mambu
Eei ... paka’no asu
Eei ... asune mati
Eei ... gua’en kali

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
                Alhamdulillah bisa update lagi, mau beli modem belum jadi, data untuk unggah artikel baru di computer semua, eh komputernya rusak, jadi agak lama juga tidak bisa mengunggah artikel yang baru, tapi berangkat ke warnet ngetik juga sekalian langsung di unggah…^_^
Langsung saja ya ikhwani tembang diatas bukan sembarang tembang, karena pengarangnya adalah seorang waliyullah, tembang diatas sangat berisi dan berbobot pengertiannya untuk dapat diamalkan dalam kehidupan seorang muslim. Mari kita ungkap dan coba kita resapi akan makna yang terkandung dalam tembang jawa diatas.
*dayohe téko
 Arti dalam Bahasa indonesianya dayoh (tamu), sedangkan téko (datang), yang berarti dayohe téko (tamunya datang), namun yang dimaksud bukanklah tamu-tamu pada umumnya yang datang di rumah kita, akan tetapi yang dimaksud adalah datangnya bulan suci Ramadlan nan mulia dan paling utama-utamanya bulan dari dua belas bulan yang telah diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
* bébérno kloso
Bébérno (beberkanlah), kloso (tikar), yang berartikan menyiapkan dan memberi sambutan kepada tamu kita dengan “membeber” membuka sepenuhnya, dan “tikar” yang bermaknakan kerendahan. Jadi agar supaya kita menyiapkan dan menyambut bulan suci Ramadlan penuh suka cita dengan penuh kesiapan yang dimulai dari Rojab, Sya’ban hingga datangnya tamu kita yakni bulan nan penuh rohmah, maghfiroh, dan dijanjikannya terbebasnya kita dari api neraka. Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:
Man fariha fi dukhuli ramadlan faharromallahu jasadahu ‘alan niiroon.
“Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadlan, maka Allah mengharamkan jasad seseorang tersebut atas api neraka.”


*klosone bédah
klosone bédah (tikarnya jebol), yang berartikan adanya kekurang sempurnaan pada diri kita, yang mengakibatkan kurang sempurnanya kita dalam melakukan amal kebaikan yang diridloi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
* témbélo jadah
                Makanan sejenis ketan terdapat di Jawa Timur ada kalanya ketan yang digoreng (jadah), dan pengarang mengambil dari Bahasa Arab “jaddun” yang artinya bersunggguh-sungguh. Yang berartikan kita agar bersungguh-sungguh dalam beribadah dan beramal sholih.
* jadahe mambu
                Ternyata jadahnya “mambu” (busuk), karena jadah tersebut basi ya dibuang saja, atau diberikan kepada binatang saja, seperti nasi yang sudah tidak layak makan biasanya kita memberikannya kepada ayam, itik, atau bebeklah biasanya kalau di desa-desa.
* paka’no asu
                paka’no untuk diberikan makan, asu (anjing), dengan perumpamaannya adalah anjing “Waliyullah” pengarang tembang ini mengingatkan kepada kita, yang mana anjing adalah hewan yang dihukumi najis oleh syara’ begitu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi berikan saja kepada anjing, dengan kata lain kita tinggalkan saja amal yang tidak baik menurut syariat dan dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
* asune mati
                (anjingnya mati), maka matinya anjing atau amal yang tidak baik pada diri manusia, maka buanglah jauh-jauh, sifat anjing yang selalu rakus dan tidak pernah kenyang, tidak percaya lihat saja anjing, apa pernah dia menutup mulutnya barang dua menit saja!, pasti tidak pernah, yang ada anjing itu melet-melet/ menjulur-julurkan lidahnya.
* gua’en kali
                (buanglah ke sungai), yang mana pengertian tersebut, kali adalah sumber yang akan mengalir ke laut yang tidak pernah surut, sehingga kita seyogyanya membuang jauh-jauh kejelekan/ amal-amal yang tidak baik/ dilarang oleh syara’ dan juga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
                Dari tembang di atas dapat kita amalkan dan kita ajarkan kembali, dari satu tembang namun berisikan banyak pelajaran dan pengertian. Kiranya dapat bermanfaat bagi anda dan utamanya kepada saya pribadi, sikian dari saya kesalahan adalah semata-mata dari saya dan benar serta hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Astaghfirullah min qoulin bila ‘amalin
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Selasa, 25 September 2012

Al Firqatun Najiyyah


الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَبَعْدُ

Asslamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillah dapat menambah artikel baru lagi setelah fakum lama gara-gara error mau unggah artikel tidak bisa, namun sekarang saya bersyukur sudah dapat lagi mengunggah artikel dengan tema yang menarik, yakni tentang Firqoh(golongan) yang kian marak diperselisihkan di dunia maya dan di Facebook khususnya, banyak grup-grup yang didirikan dengan nama atau tujuan yang mengatas namakan diri Ahlus Sunnah wal Jamaah, namun kita harus teliti dan jeli dengan grup-grup tersebut. Dan anda dapat mengetahui apa sih Ahlus Sunnah wal Jamaah itu?, mari kita simak sedikit tulisan di bawah ini.

Satu-satunya golongan yang selamat dari kesesatan Al Firqatun Najiyyah. Sebetulnya dan sejatinya, kelompok ini memiliki nama-nama yang agung sehingga membedakan dengan kelompok-kelompok lain. Diantara nama-nama tersebut adalah Ath Thaaifatul Manshurah (golongan yang di tolong) dan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
            Firqoh (golongan) ini menjadi begitu istimewa karena memiliki beberapa karakteristik yang membedakan dengan firqoh lain seperti :
'Itqum Minan Naar (selamat dari neraka)
            Firqah ini adalah kellompok yang diselamatkan dari api neraka, yang telah dikecualikan oleh Allah sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw ketika menyebutkan firqoh-firqoh yang ada pada umat beliau dengan sabdanya : "seluruhnya di neraka kecuali satu; yakni yang tidak masuk kedalam neraka"
Berpegang Teguh Dengan Sunnah
            Firqah ini berpegang teguh kepada Al Qur an dan As Sunnah dan menipak tilas jejak assabiqunal awwalun (para pendahulu yang pertama) baik yang dari qoum Muhajirin maupun Anshar, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw. "Mereka itu adalah orang-orang yang berjalan di atas apa yang aku dan sahabatku lakukan hari ini". Yang mana firqah tersebut senang dan mau melaksanakan yang disunnahkan  oleh Rasulullah saw.
Bernisbat Kepada Sunnah Dengan Harapan Pertolongan Allah SWT
            Yang mana pemeluk kelompok ini adalah mereka yang mengikuti paham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Firqah itu dapat kita bedakan dari firqah yang lain pada dua hal yang penting: yang pertama, mereka selalu berpegang teguh kepada As Sunnah sehingga mereka sering disebut juga sebagai pemeluk sunnah (Ahlus Sunnah).
            Yang membedakan dengan kelompok-kelompok lain, karena kelompok lain tersebut berpegang teguh atas pendapat-pendapat mereka, hawa nafsunya, dan perkatan atau perintah dari pimpinannya. Karena kelompok yang lain tersebut, tidak dinisbatkan kepada Sunnah. Tetapi mereka itu dinisbatkan atas bid'ah-bid'ah dan kesesatan yang ada pada firqoh itu sendiri.      
Dan yang ke dua, mereka itu Ahlul Jama'ah karena kesepakatan mereka untuk memeluk dan berpegang teguh atas Al Haq dan jauhnya mereka dari perpecahan, karena mereka menjaga keutuhan firqah dengan memupuk dan meyakinkan bahwasanya dengan As Sunnah mereka adalah firqah yang satu-satunya dijauhkan dari kesesatan. Dan mempersatukan pemeluknya dari gangguan dan iming-iming yang dapat menyesatkan dari firqah lain.

“Jika kamu menolong Allah niscaya Allah akan menolong kalian”(Muhammad: 7)
Karenanya Rasulullah saw juga bersabda yang artinya:
“Tidaklah yang menghina dan menentang mereka itu akan mampu memadharatkan (membahayakan) mereka sampai datang keputusan Allah tabaaraka wata’ala sedang mereka itu tetap dalam keadaan demikian”
Berdiri Di Atas Prinsip-Prinsip Jelas
            Ahlus Sunnah Wal Jamaah terang berjalan diatas prinsip-prinsip yang jelas dan kukuh, baik dalam beri’tiqad, amal ataupun berperilaku. Mereka berprinsip agung dari sumber yang jelas yakni pada kitabullah dan sunnatur Rasulullah, para pendahulu ummat dari kalangan sahabat, tabi’in, ulama dan salafush sholih.
Diaantaranya prinsip tersebut adalah:
Yang pertama: beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari akhir, dan taqdir yang baik maupun yang buruk (qodho’ dan qodar) 
Yang kedua: Menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah, iman itu perkataan, perbuatan, dan keyakinan yang bisa bertambah dengan ketaatan dan bisa berkurang dengan kemaksiatan. Berarti iman bukan hanya perkataan dan perbuatan kanpa keyakinan sebabyang demikian itu merupakan keimanan kaum munafiq, dan bukan pula iman itu hanya sekedar ma’rifah (pengetahuan) dan meyakini tanpa ikrar dan amal, sebab yang demikian itu merupakan keimanan orang-orang kafir yang menolak kebenaran.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan (juga) kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam.” (Al Ankabut : 38)
Demikian halnya iman bukan hanya satu keyakinan dalam hati, perkataan, keyakinan tetapi tanpa amal perbuatan, karena yang demikian adalah keimanan golongan murjiah, sering kali Allah menyebutkan bahwa amal perbuatan termasuk iman sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala didalam kitab-Nya:  
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman[1] ialah mereka yang bila disebut nama Allah[2] gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.” [Al Anfaal : 2-4]

Dan yang ketiga : Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak mengkafirkan seseorang dari kaum muslimin kecuali apabila dia melakukan perbuatan yang dapat membatalkan/ merusak keislamannya. Yang mana perbuatan dosa besar adalah semisal bagi yang meninggalkan sholat,( pelaku dosa) tersebut dihukumi fasiq bukan kafir. Lain lagi dengan yang melakukan kemusyrikan dia (pelaku dosa) yang mendapat predikat sebagai orang kafir. Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam hal permasalahan ini, di antara tengah-tengah khawarij yang menyatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar walaupun bukan syirik adalah kafir, dan murjiah yang mengatakan bahwa si pelaku dosa besar yang sempurna imannya.
            Begitulah Ahlus Sunnah wal Jamaah selalu berada di tengah antara kelompok yang menyimpang. Tidak bersikap melebihi batas atau pun meremehkan dalam hal menjalankan syariat. Mencintai akan kebersamaan dan keselarasan dalam bermasyarakat meski dengan orang yang tidak beragama sekalipun, seperti yang telah diajarkan oleh Baginda Nabi yang mana tetap menjaga kerukunan meski dengan orang kafir sekalipun ^_^.
            Semoga dapat menjadi acuan dan menambah keyakinan bagi anda yang bermadzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan mengetahui apa Ahluss Sunnah wal Jamaah itu sendiri. Jadi jangan pernah menghina kelompok lain kalau anda memang seorang yang mengaku Ahlus Sunnah wal Jamaah, lain lagi kalau kalau mereka menghardik dan mengatakan bahwa apa yang kita lakukan itu adalah bid’ah, kita tidak boleh tinggal 
diam akan tetapi jangan sampai juga kita mempermalukan mereka...^_^

Sekian dari saya mohon maaf atas segala kekhilafan, karena kesempurnaan hanya milik Allah semata, dan kesalahan serta kekurangan semata dari diri pribadi. Ihdinas shiratal mustaqim, astaghfirullaha min qoulin bila ‘amalin.


Wasslamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh


NB:
[1]. Maksudnya: orang yang sempurna imannya.

[2]. Dimaksud dengan disebut nama Allah ialah: menyebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakanNya.