Assalamu'alaikum wr.wb
Muhammad bin al-Mudzaffar berkata, “Diriwayatkan kepada kami bahwa semula kedua orang tua Abu Mahfudz Ma’ruf bin Fairuz al-Kurkhi adalah orang Persia yang beragama Nasrani.
Keduanya menyerahkan pendidikan anaknya (Ma’ruf) sejak dini untuk belajar menulis kepada seorang alim. Suatu hari sang guru memberi pelajaran, katakan, ‘Tuhan Bapak, Tuhan Anak, Dan Tuhan Ibu.’ Ma’ruf membantah dengan mengatakan, ‘Tuhan hanya satu.’ Kemudian sang guru memukulnya.
Guru pun melanjutkan pengajarannya untuk mengucapkan seperti yang semula. Lagi-lagi Ma’ruf menolak, dia mengucapkan, ‘Tuhan itu satu.’ Pada lain hari sang guru memukul dengan pukulan yang lebih keras, maka Ma’ruf pun melarikan diri.
Nampaknya kedua orang tua Ma’ruf tidak mampu lagi bersabar. Hampir-hampir keduanya berputus asa karena sangat khawatir dengan pembangkangan Ma’ruf. Akhirnya kedua orangtua Ma’ruf berkata, ‘Mudah-mudahan dia menemukan suatu agama yang berkenan di hatinya sehingga kita bisa turut memeluk agama itu.’
Ma’ruf, yang masih anak-anak itu terus berjalan mencari kebenaran sehingga bertemu dengan Ali bin Musa ar-Ridha, lalu menyatakan dirinya masuk Islam dihadapannya. Ia hidup dengan beliau dan membantu beliau dalam tempo yang tidak sebentar.
Tak berapa lama kemudian, ia minta izin kepada Ali bin Musa untuk pulang ke rumah orang tuanya. Ia tiba di rumah pada malam hari, setelah mengetuk pintu, orang tuanya bertanya, ‘Siapa?’ Ma’ruf menjawab, ‘Saya!’ Sebelum membuka pintu, orang tua Ma’ruf bertanya, ‘Sekarang kamu memeluk agama apa?’ Ma’ruf menjawab, ‘Islam.’ Kedua orang tuanya mempersilakan masuk dan memeluk Islam. Allah telah berkenan mengumpulkan keluarga ini dalam agama Islam’.”
Di antara riwayat yang sampai kepada kami adalah bahwa, “Ma’ruf mengajarkan agama yang dipeluknya dengan ucapan-ucapan yang tidak disukai kedua orang tuanya. Sehingga si Ibu berkata kepada sang ayah, ‘Anakmu ini masih sangat kecil, tidak pantas berkata-kata demikian. Jalan pikirannya telah dirusak oleh sebagian umat Islam, sebaiknya ia dilarang keluar rumah saja. Keputusan ini lebih baik untuk anak kita.’
Beberapa hari ia disekap dalam kamar rumahnya. Namun sang ayah tidak tega, lalu melepasnya. Akan tetapi Ma’ruf malah kembali mengunci diri di dalam kamar. Ia tidak mau keluar sebelum kedua orang tuanya memaksa untuk keluar kamar, sampai-sampai sang ayah bertanya, ‘Mau berapa lama lagi kamu akan mengunci diri dalam kamar?’
Ma’ruf menjawab, ‘Ayah, sebenarnya ketika aku berada di dalam kamar ini, aku mendapatkan seseorang yang mampu memberi pencerahan yang ayah ibuku sangka bahwa dia merusak jalan hidupku dan berdampak buruk pada ayah ibu berdua.’
Ayah Ma’ruf bertanya, ‘Siapa dia?’
Ma’ruf diam, tidak memberi jawaban. Sang Ayah marah kepada si Ibu, ‘Ini gara-gara kamu! Anak kesayanganku jadi gila!’ Sang ayah lalu membawa Ma’ruf pergi menemui seorang pendeta, untuk menceritakan kejadian tersebut dan agar pendeta bersedia menjampi dan mengobatinya.
Sang pendeta bertanya kepada Ma’ruf, ‘Siapakah yang dia maksud merusak jalan pikiranmu sehingga berdampak buruk kepada kedua orang tuamu?’
Ma’ruf menjawab, ‘Hati kecilku! Dia senantiasa merenungkan siapa yang telah menciptakan langit dan bumi juga memikirkan mengapa bisa demikian indah!’
Sang pendeta bertanya lagi, ‘Kalau begitu, bagaimana menurut pendapatmu wahai Ma’ruf mengenai renunganmu itu?’
Ma’ruf menjawab, ‘Menurutku, di sana hanya ada satu Dzat yang mampu mengatur seluruh alam raya ini, tidak boleh ada seorang pun yang menyerupai Dzat itu. Sebab sekiranya ada tentu ia ingin berbuat seperti yang telah diperbuatnya.’
Pendeta berkata, ‘Kalau demikian, tetaplah kamu di situ, sebentar lagi aku datang menemuimu.’
Kemudian pendeta kembali ke biaranya untuk mengambil tinta dan pena. Ia mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ma’ruf, lalu menulis jawabannya. Selanjutnya pendeta berkata kepada Fairuz (ayah Ma’ruf), ‘Wahai Fairuz, Sekiranya engkau berkata kepadaku bahwa anak ini adalah anakku, tentu aku akan mengatakan bahwa dia adalah salah satu murid para Malaikat.’
Fairuz bersama anaknya pulang dengan perasaan bahagia.
Ma’ruf berkata, ‘Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Ali bin Musa ar-Ridha, beliau pun berkomentar, ‘Memang kamu salah satu murid para Malaikat’.” (Anba’ Nujabail Abna’, hal. 185-187.)
Semoga dapat menjadikan suatu pelajaran bagi kita semua, Aamiin Ya Robbal 'Alamiin.
Wassalamu'alaikum wr.wb
Kamis, 28 Juli 2011
Sabtu, 23 Juli 2011
Khulu'
Assalamu’alaikum wr.wb
Wanita pun behak mengajukan cerai
Disaat seorang wanita yang menjabat sebagai serang isteri, merasakan buntu dalam kehidupannya berumah tangga dan tidak memiliki hak untuk menceraikan, tidak sedikit perempuan yang salah kaprah dalam menjalani rumah tangganya. Padahal Islam telah lama menjawab tentang problem ini.
Khulu'
Secara defenitif, khulu' merupakan tebusan yang dibayar oleh seorang istri kepada suami yang membencinya, agar ia (suami) mau menceraikannya (istri). Jadi, ketika seorang istri bermaksud meminta cerai " ingin bercerai ," ia harus membayar sejumlah tertentu kepada suaminya sebagai tebusan atas pengajuan cerainya itu ('iwadh).
Dan tentunya khulu' tersebut diperbolehkan jika telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Pada zaman Rasulullah pernah terjadi persoalan seperti ini, yang mana seorang istri sahabat mengeluhkan tentang persoalan rumah tangganya. Dia adalah istri Tsabit bin Qais.
" Wahai Rasulullah, terus terang aku tidak mencela suamiku, baik dalam hal akhak dan agamanya, tetapi aku tidak menyukai kekufuran setelah (memeluk) Islam," keluh wanita tersebut.
Tergambar jelas gurat keputusasaan dari istri yang menanggung ketidak bahagiaan dalam menjalani hidup berumah tangga. Dan Rasulullah memberi solusi terbaik bagi perempuan itu. "Apakah kau bersedia mengembalikan kebun yang menjadi maharnya?" tanya Rasulullah.
Istri Tsabit yang bernama Jamilah itu manjawab dengan mantab, "Ya, aku bersedia." Lalu Rasulullah pun segera berkata kepada suami Jamilah, Tsabit bin Qais,"Wahai Tsabit, terimalah kebun itu, dan ceraikanlah istrimu." (HR Bukhari)
Gegabhakah Rasulullah dalam membuat keputusan tersebut? bukankah perceraian adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Allah kendati diperbolehkan? Jawabannya tentu saja tidak. Sebab syariat talak pun bisa menjadi sunnah bahkan wajib dalam sebuah kasus tertentu, teutama semisal kasus diatas. Perceraian dibenci apabila pasangan suami istri sebetulnya masih bisa mempertahankan biduk rumah tangga namun tetap memilih untuk bercerai.
Ketentuan khulu'
Sebelum khulu' dilakukan, hendaknya istri memerhatikan hal berikut dibawah ini :
Seorang istri meminta suaminya untuk melakukan khulu', jika memang tampak adanya bahaya yang mengancam dan merasa takut keduanya tidak dapat menegakkan hukum Allah. Khulu' hendaknya berlangsung sampai selesai tanpa adanya perlakuan penganiayaan (menyakiti) yang dilakukan suami terhadap istinya. Dan jika memang penganiayaan itu terjadi maka suami tidak boleh mengambil sedikitpun harta dari istrinya.
Khulu' juga juga berfungsi seperti talak ba'in, sehingga suami tidak lagi diperbolehkan merujuk istrinya, kecuali setelah mantan istrinya menikah dengan laki-laki lain dan diceraikan olehnya, baru kemudian melakukan akad nikah yang baru.
Disunnahkan bagi suami untuk tidak mengambil harta istri melebihi jumlah mahar yang telah diberikan kepadanya, apalagi meminta atau menetapkan sendiri dengan jumlah yang diinginkan. Jika khulu' tersebut itu sebagai talak, maka menurut jumhur 'ulama, istri yang di-khulu' harus menjalani masa 'iddahnya selama tiga kali quru' (tiga kali masa suci), yang juga tedapat dalam Al Qur an: Qs. Al Baqaah:228.
Dan diperbolehkan bagi wali seorang wanita yang masih kecil untuk mewakilinya sebagai peminta khulu' dari suaminya, jika memang sang wali melihat adanya bahaya yang mengancam wanita tersebut. Klulu' diperbolehkan, baik dalam masa suci maupun ketika haid, karena khulu' tidak memiliki waktu tertentu, dengan kata lain dapat dilakukan kapan saja.
Nah, dari apa yang telah tersurat diatas semoga dapat memberikan sebuah kemnafaatan bagi anda, dan juga saya tentunya. Namun saya berharap agar tidak ada perceraian diantara anda, begitu juga halnya dengan saya. Akhiron ihdinash shiratal mustaqim
Wassalamu’alaikum wr.wb
Iim Cah Boenkzoe, Najiv Alaska, Bunga Ilalang dan 8 lainnya menyukai ini.
o
Iim Arrosyid syukron jempol manisnya ya akhi .............^_^
o
Iim Arrosyid syukron atas jempol manisnya ya ikhwani .....^_^
o
Dien Noer Wizz zmi2 akhi
Wanita pun behak mengajukan cerai
Disaat seorang wanita yang menjabat sebagai serang isteri, merasakan buntu dalam kehidupannya berumah tangga dan tidak memiliki hak untuk menceraikan, tidak sedikit perempuan yang salah kaprah dalam menjalani rumah tangganya. Padahal Islam telah lama menjawab tentang problem ini.
Khulu'
Secara defenitif, khulu' merupakan tebusan yang dibayar oleh seorang istri kepada suami yang membencinya, agar ia (suami) mau menceraikannya (istri). Jadi, ketika seorang istri bermaksud meminta cerai " ingin bercerai ," ia harus membayar sejumlah tertentu kepada suaminya sebagai tebusan atas pengajuan cerainya itu ('iwadh).
Dan tentunya khulu' tersebut diperbolehkan jika telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Pada zaman Rasulullah pernah terjadi persoalan seperti ini, yang mana seorang istri sahabat mengeluhkan tentang persoalan rumah tangganya. Dia adalah istri Tsabit bin Qais.
" Wahai Rasulullah, terus terang aku tidak mencela suamiku, baik dalam hal akhak dan agamanya, tetapi aku tidak menyukai kekufuran setelah (memeluk) Islam," keluh wanita tersebut.
Tergambar jelas gurat keputusasaan dari istri yang menanggung ketidak bahagiaan dalam menjalani hidup berumah tangga. Dan Rasulullah memberi solusi terbaik bagi perempuan itu. "Apakah kau bersedia mengembalikan kebun yang menjadi maharnya?" tanya Rasulullah.
Istri Tsabit yang bernama Jamilah itu manjawab dengan mantab, "Ya, aku bersedia." Lalu Rasulullah pun segera berkata kepada suami Jamilah, Tsabit bin Qais,"Wahai Tsabit, terimalah kebun itu, dan ceraikanlah istrimu." (HR Bukhari)
Gegabhakah Rasulullah dalam membuat keputusan tersebut? bukankah perceraian adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Allah kendati diperbolehkan? Jawabannya tentu saja tidak. Sebab syariat talak pun bisa menjadi sunnah bahkan wajib dalam sebuah kasus tertentu, teutama semisal kasus diatas. Perceraian dibenci apabila pasangan suami istri sebetulnya masih bisa mempertahankan biduk rumah tangga namun tetap memilih untuk bercerai.
Ketentuan khulu'
Sebelum khulu' dilakukan, hendaknya istri memerhatikan hal berikut dibawah ini :
Seorang istri meminta suaminya untuk melakukan khulu', jika memang tampak adanya bahaya yang mengancam dan merasa takut keduanya tidak dapat menegakkan hukum Allah. Khulu' hendaknya berlangsung sampai selesai tanpa adanya perlakuan penganiayaan (menyakiti) yang dilakukan suami terhadap istinya. Dan jika memang penganiayaan itu terjadi maka suami tidak boleh mengambil sedikitpun harta dari istrinya.
Khulu' juga juga berfungsi seperti talak ba'in, sehingga suami tidak lagi diperbolehkan merujuk istrinya, kecuali setelah mantan istrinya menikah dengan laki-laki lain dan diceraikan olehnya, baru kemudian melakukan akad nikah yang baru.
Disunnahkan bagi suami untuk tidak mengambil harta istri melebihi jumlah mahar yang telah diberikan kepadanya, apalagi meminta atau menetapkan sendiri dengan jumlah yang diinginkan. Jika khulu' tersebut itu sebagai talak, maka menurut jumhur 'ulama, istri yang di-khulu' harus menjalani masa 'iddahnya selama tiga kali quru' (tiga kali masa suci), yang juga tedapat dalam Al Qur an: Qs. Al Baqaah:228.
Dan diperbolehkan bagi wali seorang wanita yang masih kecil untuk mewakilinya sebagai peminta khulu' dari suaminya, jika memang sang wali melihat adanya bahaya yang mengancam wanita tersebut. Klulu' diperbolehkan, baik dalam masa suci maupun ketika haid, karena khulu' tidak memiliki waktu tertentu, dengan kata lain dapat dilakukan kapan saja.
Nah, dari apa yang telah tersurat diatas semoga dapat memberikan sebuah kemnafaatan bagi anda, dan juga saya tentunya. Namun saya berharap agar tidak ada perceraian diantara anda, begitu juga halnya dengan saya. Akhiron ihdinash shiratal mustaqim
Wassalamu’alaikum wr.wb
Iim Cah Boenkzoe, Najiv Alaska, Bunga Ilalang dan 8 lainnya menyukai ini.
o
Iim Arrosyid syukron jempol manisnya ya akhi .............^_^
o
Iim Arrosyid syukron atas jempol manisnya ya ikhwani .....^_^
o
Dien Noer Wizz zmi2 akhi
Jumat, 01 Juli 2011
Penemuan Ilmuan Islam (dalam celoteh santri melihat gerhana rembulan)
Assalamu'alaikum
ana mau cerita nich ikhwan
tadi malam lihat gerhana bulan mulai jam 01:22 WIB, dengan temen jadi bertiga dech ......
karena dingin banget ana pakai jaket, tutup kepala, sarung tangan + bawa selimut
yang satu duduk diatas motor, satunya lagi tiduran disebelah ana selimutan sarung. nunggu gerhana lama banget, ngobrol-ngobrol dech jadinya ............
Eh tidak cuma itu, ada pelajaran lho di celoteh kita bertiga ...^_^
* Ilmuan Islam telah menemukan sebuah penemuan terbaru dan subhanallah banget..............
ternyata bentuk dari alam semesta ini, itu ternyata seperti terompet !, telah ditemukan dengan alat tercanggih NASA
trus ana bilang " ooww wah berarti kita berada dalam sebuah terompet "
teman yang tiduran menjawab " sek ono meneh artikele, ditambahkan dari kitab Tanbihul Ghofilin ada sebuah hadits pada juz 1 halaman 60, dan di Al Qur an surat An Naml."
ternyata hadits tersebut juga menerangkan demikian, kalau mau tahu lebih jelas lihat sendiri yach di kitabnya/ di Al Qur an. Ana bilang lagi " wah malaikatnya pasti besar sekali ," temen ana bilang " iya wong terompete meliputi alam semesta sampai alam gaib," ana nyambung lagi sambil ngajak temen yang diatas motor ngobrol " Nas nek malaikate niup fuh gitu tok mesti guncang dunyo," dia jawab " alah ora tahun baruan kok."
agak lama kami diam sambil memandangi rembulan, tiba-tiba temen ana yang tiduran bilang lagi sambil lihat catatan di HPnya " ternyata tiupan sangkakala itu tiga kali, tiupan pertama untuk mengagetkan makhluk sealam semestam begitu juga yang dilangit, yang kedua membuat semua makhluk mati, yang ketiga pembangkitan kembali, dan hanya orang-orang shalih yang tidak takut dan tidak kaget karena kebangkitan mereka kembali," ana nyambungin " ooww begitu, wah kalau malaikat sing nyangga arsy bersin mesti guncang donyane,"
kami bertiga pun tertawa bersamaan he he he, ki kik kik, hem hem hem.
Dan sudah dulu dech ceritanya, semoga membawa manfaat dari qishoh yang ana sampaikan mohon maaf apa bila ada kesalahan. Ihdinas shiratal mustaqim
Wassalamu'alaikum
Mujahid Garis Keras, Iim Cah Boenkzoe, Najiv Alaska dan 5 lainnya menyukai ini.
Iim Arrosyid syukron jempol manisnya ya ukhti, smg menambah erat
persaudaraan......^_^
Suka · 2 orang
Iim Arrosyid syukron juga yang lain ^_^
Ain Nadziroh tanbihul ghofilin kaliii,,,bukn ghofulun. tp lucu kok,,,he
Iim Arrosyid eh salah tulis ....^_^, kok lucunya saja lha keilmuannya apa komennya ya ukhti ?
ana mau cerita nich ikhwan
tadi malam lihat gerhana bulan mulai jam 01:22 WIB, dengan temen jadi bertiga dech ......
karena dingin banget ana pakai jaket, tutup kepala, sarung tangan + bawa selimut
yang satu duduk diatas motor, satunya lagi tiduran disebelah ana selimutan sarung. nunggu gerhana lama banget, ngobrol-ngobrol dech jadinya ............
Eh tidak cuma itu, ada pelajaran lho di celoteh kita bertiga ...^_^
* Ilmuan Islam telah menemukan sebuah penemuan terbaru dan subhanallah banget..............
ternyata bentuk dari alam semesta ini, itu ternyata seperti terompet !, telah ditemukan dengan alat tercanggih NASA
trus ana bilang " ooww wah berarti kita berada dalam sebuah terompet "
teman yang tiduran menjawab " sek ono meneh artikele, ditambahkan dari kitab Tanbihul Ghofilin ada sebuah hadits pada juz 1 halaman 60, dan di Al Qur an surat An Naml."
ternyata hadits tersebut juga menerangkan demikian, kalau mau tahu lebih jelas lihat sendiri yach di kitabnya/ di Al Qur an. Ana bilang lagi " wah malaikatnya pasti besar sekali ," temen ana bilang " iya wong terompete meliputi alam semesta sampai alam gaib," ana nyambung lagi sambil ngajak temen yang diatas motor ngobrol " Nas nek malaikate niup fuh gitu tok mesti guncang dunyo," dia jawab " alah ora tahun baruan kok."
agak lama kami diam sambil memandangi rembulan, tiba-tiba temen ana yang tiduran bilang lagi sambil lihat catatan di HPnya " ternyata tiupan sangkakala itu tiga kali, tiupan pertama untuk mengagetkan makhluk sealam semestam begitu juga yang dilangit, yang kedua membuat semua makhluk mati, yang ketiga pembangkitan kembali, dan hanya orang-orang shalih yang tidak takut dan tidak kaget karena kebangkitan mereka kembali," ana nyambungin " ooww begitu, wah kalau malaikat sing nyangga arsy bersin mesti guncang donyane,"
kami bertiga pun tertawa bersamaan he he he, ki kik kik, hem hem hem.
Dan sudah dulu dech ceritanya, semoga membawa manfaat dari qishoh yang ana sampaikan mohon maaf apa bila ada kesalahan. Ihdinas shiratal mustaqim
Wassalamu'alaikum
Mujahid Garis Keras, Iim Cah Boenkzoe, Najiv Alaska dan 5 lainnya menyukai ini.
Iim Arrosyid syukron jempol manisnya ya ukhti, smg menambah erat
persaudaraan......^_^
Suka · 2 orang
Iim Arrosyid syukron juga yang lain ^_^
Ain Nadziroh tanbihul ghofilin kaliii,,,bukn ghofulun. tp lucu kok,,,he
Iim Arrosyid eh salah tulis ....^_^, kok lucunya saja lha keilmuannya apa komennya ya ukhti ?
Rabu, 29 Juni 2011
Qana'ah dan Ilmu
Assalamu'alaikum wr.wb
Penting pula untuk diketahui, bahwa sikap Qanâ`ah akan lahir bila kita membekali diri dengan ilmu. Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang diamalkan. Ilmu dicari untuk diamalkan, sebagaimana pena yang dibeli digunakan untuk mencatat atau cangkul yang digunakan untuk menggarap sawah, seperti itulah ilmu, ia berfungsi sebagai alat untuk beramal kebajikan. Tidak perlu banyak ilmu yang terpenting bisa termafaatkan. Kata Nabi saw : “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, Allah akan berikan ilmu yang tidak ia ketahui.”
Misal ilmu yang bermanfaat, bahwa Anda tahu keutamaan shalat berjamaah, maka setiap waktu Anda melaksanakan shalat secara berjamaah. Anda tahu dosa berbohong, maka jangan sampai Anda berbohong. Indikasi ketidakmanfaatan ilmu adalah bahwa tindak-tanduk Anda bertentangan dan berlawanan dengan ilmu yang Anda pelajari. Anda tahu bahwa berbohong adalah dosa, tapi lisan Anda “basah” dengan dusta dan kebohongan.
Ilmu tidak sama dengan harta. Allah memberi kita ilmu guna dikerjakan, diajarkan, di situlah Allah akan memberi bonus. Namun berbeda halnya dengan harta. Anda punya uang lima ribu lalu anda sedekahkan dua ribu sisanya tiga ribu. Ilmu semakin bertambah jika disedekahkan sedang harta justru menyusut jika diinfakkan.
Seorang Alim yang tidak mengamalkan ilmunya justru menjadi perusak bak pengembala kambing ditugaskan untuk menjaga domba piaraan agar tidak tersesat atau terjatuh ke jurang. Tentunya beda dengan pengembala yang jahat, ia justru menjadi sumber kecelakaan bagi domba-domba itu sendiri seperti ilustrasi kata bijak
وَرَاعِي الشَّاةِ يَحْميِ الذِّئْبَ عَنْهَا ، فَكَيْفَ إِذاَ الرُّعاَةُ لَهَا ذِئاَبُ
“Seorang penggembala kambing (bertugas) menjaga kambing dari sergapan serigala namun bagaimana halnya bila ternyata pengembala itu sendiri adalah serigala? .”
Ulama yang hidup di masyarakat, tugasnya melindungi masyarakat dari kemunkaran dan kerusakan akhlaq. Ironisnya, tidak sedikit di antara para ulama yang akhlaqnya seperti Yahudi dan Nashrani. Dengan kata lain, mereka bercirikhaskan
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Al Baqarah [02]:44)
Ayat di atas menceritakan sikap orang-orang Yahudi dan ternyata banyak dari kalangan orang-orang berilmu yang bersikap demikian pula. Akibat dari sikapnya itu, kaum Yahudi dan kaum Nashrani bertengger dalam kehinaan dan keburukan. Sebab mereka mengingkari kebenaran setelah mereka mengetahui. Kebenaran yang diperoleh bukan diamalkan malah diingkari. Jadilah mereka kaum yang hina.
الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri dan sesungguhnya sebagaian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Qs. Al Baqarah [02]: 146)
Sekian atas teks dari saya, semoga membawa manfaat bagi anda dan utamanya bagi saya, mohon maaf apa bila ada kesalahan. Ihdinas shiratal mustaqim
Wassalamu'alaikum wr.wb
Penting pula untuk diketahui, bahwa sikap Qanâ`ah akan lahir bila kita membekali diri dengan ilmu. Ilmu yang manfaat adalah ilmu yang diamalkan. Ilmu dicari untuk diamalkan, sebagaimana pena yang dibeli digunakan untuk mencatat atau cangkul yang digunakan untuk menggarap sawah, seperti itulah ilmu, ia berfungsi sebagai alat untuk beramal kebajikan. Tidak perlu banyak ilmu yang terpenting bisa termafaatkan. Kata Nabi saw : “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, Allah akan berikan ilmu yang tidak ia ketahui.”
Misal ilmu yang bermanfaat, bahwa Anda tahu keutamaan shalat berjamaah, maka setiap waktu Anda melaksanakan shalat secara berjamaah. Anda tahu dosa berbohong, maka jangan sampai Anda berbohong. Indikasi ketidakmanfaatan ilmu adalah bahwa tindak-tanduk Anda bertentangan dan berlawanan dengan ilmu yang Anda pelajari. Anda tahu bahwa berbohong adalah dosa, tapi lisan Anda “basah” dengan dusta dan kebohongan.
Ilmu tidak sama dengan harta. Allah memberi kita ilmu guna dikerjakan, diajarkan, di situlah Allah akan memberi bonus. Namun berbeda halnya dengan harta. Anda punya uang lima ribu lalu anda sedekahkan dua ribu sisanya tiga ribu. Ilmu semakin bertambah jika disedekahkan sedang harta justru menyusut jika diinfakkan.
Seorang Alim yang tidak mengamalkan ilmunya justru menjadi perusak bak pengembala kambing ditugaskan untuk menjaga domba piaraan agar tidak tersesat atau terjatuh ke jurang. Tentunya beda dengan pengembala yang jahat, ia justru menjadi sumber kecelakaan bagi domba-domba itu sendiri seperti ilustrasi kata bijak
وَرَاعِي الشَّاةِ يَحْميِ الذِّئْبَ عَنْهَا ، فَكَيْفَ إِذاَ الرُّعاَةُ لَهَا ذِئاَبُ
“Seorang penggembala kambing (bertugas) menjaga kambing dari sergapan serigala namun bagaimana halnya bila ternyata pengembala itu sendiri adalah serigala? .”
Ulama yang hidup di masyarakat, tugasnya melindungi masyarakat dari kemunkaran dan kerusakan akhlaq. Ironisnya, tidak sedikit di antara para ulama yang akhlaqnya seperti Yahudi dan Nashrani. Dengan kata lain, mereka bercirikhaskan
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Al Baqarah [02]:44)
Ayat di atas menceritakan sikap orang-orang Yahudi dan ternyata banyak dari kalangan orang-orang berilmu yang bersikap demikian pula. Akibat dari sikapnya itu, kaum Yahudi dan kaum Nashrani bertengger dalam kehinaan dan keburukan. Sebab mereka mengingkari kebenaran setelah mereka mengetahui. Kebenaran yang diperoleh bukan diamalkan malah diingkari. Jadilah mereka kaum yang hina.
الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri dan sesungguhnya sebagaian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Qs. Al Baqarah [02]: 146)
Sekian atas teks dari saya, semoga membawa manfaat bagi anda dan utamanya bagi saya, mohon maaf apa bila ada kesalahan. Ihdinas shiratal mustaqim
Wassalamu'alaikum wr.wb
Jumat, 10 Juni 2011
Manusia Yang Pertama Kali Diadili Pada Hari Qiyamat
Dari Abu Hurairah ra., diceritakan : Orang-orang berkelompok-kelompok dari Abu Hurairah, Natil penduduk Syam berkata padanya : "Wahai Tuan, ceritakanlah kepadaku sebuah hadits yang engkau dengar dari Rasulullah saw. !". Ia berkata : "Ya, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : "Sesungguhnya orang yang paling pertama diadili pada hari qiyamat adalah seseorang yang mati syahid, ia didatangkan dan ditanyakan ni'mat-ni'matnya, lalu ia mengakuinya. Dia berfirman : "Apakah yang kamu amalkan di dunia ? ". Ia menjawab : "Saya berperang sampai mati syahid". Dia berfirman : "Kamu berdusta, tetapi kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan itu telah dikatakan". Kemudian ia diperintahkan, lalu wajahnya ditarik sehingga ia dilemparkan kedalam neraka. Seorang yang memperlajari Ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur'an didatangkan. Nikmat-nikmatnya, ditanyakan dan ia mengakuinya. Dia berfirman : "Apakah yang kamu kerjakan di dunia ?". Ia menjawab : "Saya mempelajari Ilmu, mengajarkannya, dan saya membaca Qur'an karena-Mu". Dia berfirman : "Kamu berdusta, karena kamu mempelajari Ilmu agar dikatakan pandai dan kamu membaca Al Qur'an agar dikatakan sebagai qari', dan itu semua telah diucapkan". Kemudian diperintahkan, lalu wajahnya ditarik sampai dicampakkan kedalam neraka. Dan seorang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberi berbagai macam seluruh harta didatangkan dan ditanyakan ni'mat-ni'matnya lalu ia mengakuinya. Dia berfirman : "Apakah yang kamu kerjakan di dunia ?". Ia menjawab : "Saya tidak meninggalkan jalan yang mana engkau senang untuk di infakkannya (harta) melainkan saya menginfakkannya karena-Mu". Dia berfirman : "Kamu berdusta, tetapi kamu kerjakan agar dikatakan sebagai dermawan, dan itu telah dikatakan". Ia diperintahkan, lalu ditarik wajahnya kemudian dilemparkan kedalam neraka". (
SukaTidak Suka · · Bagikan · Hapus
*
Suka item ini
Muthia Dewie, Lutfi Noer, Ely Sofa Soepardjo dan 3 lainnya menyukai ini.
*
o
Iffa Fatma ILliyya ya ya. . . . jdi inget dulu pas dterangin guruku ttng hadits ni, aaaaaaaaaaaaaa
#waktu berlalu begitu cepat#
o
Iim Arrosyid ^_^
31 menit yang lalu · SukaTidak Suka
o
Iim Arrosyid syukron jempol manisnya smg menambah erat persaudaraan ya ikhwani..............^_^
SukaTidak Suka · · Bagikan · Hapus
*
Suka item ini
Muthia Dewie, Lutfi Noer, Ely Sofa Soepardjo dan 3 lainnya menyukai ini.
*
o
Iffa Fatma ILliyya ya ya. . . . jdi inget dulu pas dterangin guruku ttng hadits ni, aaaaaaaaaaaaaa
#waktu berlalu begitu cepat#
o
Iim Arrosyid ^_^
31 menit yang lalu · SukaTidak Suka
o
Iim Arrosyid syukron jempol manisnya smg menambah erat persaudaraan ya ikhwani..............^_^
Senin, 06 Juni 2011
LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN
Assalamu'alaikum wr.wb
Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini ?"
Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"
Tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?"
Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik mahupun yang buruk."
Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?"
Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."
Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."
Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlomba-lomba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."
Sekian semoga dapat membawa manfaat bagi anda, terlebih bagi saya, astaghfirullaha min qoulin bila 'amalin.
Wassalamu'alaikum wr.wb
Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini ?"
Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"
Tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?"
Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik mahupun yang buruk."
Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?"
Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."
Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."
Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlomba-lomba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."
Sekian semoga dapat membawa manfaat bagi anda, terlebih bagi saya, astaghfirullaha min qoulin bila 'amalin.
Wassalamu'alaikum wr.wb
Rabu, 13 April 2011
Ksempurnaan (kamilan) Dalam Menyusui Bagi Sang Ibu
Assalamu'alaikum wr.wb
Dalam proses tumbuh kembang sang bayi tentunya tidaklah lepas dari yang namanya ASI (air susu ibu ), yang mana asi sangat penting bagi bayi sebelum bayi tersebut dapat menerima atau mengkonsumsi makanan-makanan lain selain asi. Selain itu dipandang dari hukum islam, sang ibu dianjurkan memberikan asi kepada anaknya sampai berusia dua tahun jika menginginkan kesempurnaan dalam menyusui, bahkan tanpa diberikan apapun, asi saja sudah cukup untuk mewakili semua kebutuhan vitamin bagi bayi hingga berusia dua tahun. Dan ada juga perintah bagi kita sebagai seorang muslim dan muslimah atau yang sudah menjadi suami –istri oleh Allah Ta’ala, yang mana Allah telah berfirman dalam Al Qur anul karim :
233. Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Qs. Al Baqarah : 233
Nah sudah jelas bukan, bahwasanya sebagai seorang ibu yang mengnginkan kesempurnaan menyusui bayinya masanya adalah dua tahun, jangan malah dikasih susu sapi, nanti kalau niru sapi bagaimana ?, dan sebagai seorang suami atau seorang ayah, kita juga harusnya mendukung dengan itu semua.
Sekian terimakasih telah berkenan membaca taks diatas, semoga bermanfaat bagi anda terlebih lagi bagi saya, ihdinash shiratal mustaqim
Wassalamu'alaikum wr.wb
Afit Gbr Juventini, Malik Karim Deviana, Niswati Saniah Syarif dan 3 lainnya menyukai ini.
*
Dea Masyita makasih banyak ya mas udah di bantuin....
sangat bermanfaat
*
Malik Karim Deviana Bener !m,.,
ju5tru d9 dber! 5u5u 5ap! bay! akan mudah terkena penyak!t krna dlm 5u5u 5ap! tdk da anty b0dy ny 5pt a5!..,
*
Iim Arrosyid afwan ya ukhti dea
*
Iim Arrosyid syukron ya ukhti Malik, tambah lagi dech ilmunya ....^_^
Dalam proses tumbuh kembang sang bayi tentunya tidaklah lepas dari yang namanya ASI (air susu ibu ), yang mana asi sangat penting bagi bayi sebelum bayi tersebut dapat menerima atau mengkonsumsi makanan-makanan lain selain asi. Selain itu dipandang dari hukum islam, sang ibu dianjurkan memberikan asi kepada anaknya sampai berusia dua tahun jika menginginkan kesempurnaan dalam menyusui, bahkan tanpa diberikan apapun, asi saja sudah cukup untuk mewakili semua kebutuhan vitamin bagi bayi hingga berusia dua tahun. Dan ada juga perintah bagi kita sebagai seorang muslim dan muslimah atau yang sudah menjadi suami –istri oleh Allah Ta’ala, yang mana Allah telah berfirman dalam Al Qur anul karim :
233. Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Qs. Al Baqarah : 233
Nah sudah jelas bukan, bahwasanya sebagai seorang ibu yang mengnginkan kesempurnaan menyusui bayinya masanya adalah dua tahun, jangan malah dikasih susu sapi, nanti kalau niru sapi bagaimana ?, dan sebagai seorang suami atau seorang ayah, kita juga harusnya mendukung dengan itu semua.
Sekian terimakasih telah berkenan membaca taks diatas, semoga bermanfaat bagi anda terlebih lagi bagi saya, ihdinash shiratal mustaqim
Wassalamu'alaikum wr.wb
Afit Gbr Juventini, Malik Karim Deviana, Niswati Saniah Syarif dan 3 lainnya menyukai ini.
*
Dea Masyita makasih banyak ya mas udah di bantuin....
sangat bermanfaat
*
Malik Karim Deviana Bener !m,.,
ju5tru d9 dber! 5u5u 5ap! bay! akan mudah terkena penyak!t krna dlm 5u5u 5ap! tdk da anty b0dy ny 5pt a5!..,
*
Iim Arrosyid afwan ya ukhti dea
*
Iim Arrosyid syukron ya ukhti Malik, tambah lagi dech ilmunya ....^_^
Langganan:
Postingan (Atom)
