Rabu, 05 Oktober 2011

KARENA MEMBERI SEDEKAH TANGAN DIPOTONG

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh Dikisahkan bahwa semasa berlakunya kekurangan makanan dalam kalangan Bani Israel, maka lalulah seorang fakir menghampiri rumah seorang kaya dengan berkata, "Sedekahlah kamu kepadaku dengan sepotong roti dengan ikhlas kerana Allah SWT."

Setelah fakir miskin itu berkata demikian maka keluarlah anak gadis orang kaya, kemudian memberikan roti yang masih hangat kepadanya. Sebaik sahaja gadis itu memberikan roti tersebut maka keluarlah bapak dari gadis tersebut yang bakhil, lantas sang bapak memotong tangan kanan anak gadisnya sehingga putus. Semenjak dari peristiwa itu maka Allah SWT pun mengubah kehidupan orang kaya itu dengan menarik kembali harta kekayaannya sehingga dia menjadi seorang yang fakir miskin dan akhirnya dia meninggal dunia dalam keadaan yang paling hina.

Anak gadis itu menjadi pengemis dan meminta-minta dari satu rumah ke rumah. Dan pada suatu hari anak gadis itu menghampiri rumah seorang kaya sambil meminta sedekah, maka keluarlah seorang ibu dari rumah tersebut. Ibu tersebut sangat kagum dengan kecantikannya, sehingga mempersilahkan dan membawa anak gadis itu masuk ke rumahnya. Ibu itu sangat tertarik dengan gadis tersebut dan dia berhajat untuk mengawinkan anaknya dengan gadis tersebut. Maka setelah perkawinan itu selesai, maka si ibu itu pun memberikan pakaian dan perhiasan bagi menggantikan pakaiannya.

Pada suatu malam apabila sudah dihidangkan makan malam, maka si suami hendak makan bersamanya. Oleh kerana anak gadis itu tangan kanannya putung dan suaminya juga tidak tahu bahwa dia itu kudung, manakala ibunya juga telah merahasiakan tentang tangan gadis tersebut. Maka apabila suaminya menyuruh dia makan, lalu dia makan dengan tangan kiri. Apabila suaminya melihat keadaan isterinya itu dia pun berkata, "Aku mendapat tahu bahwa orang fakir tidak tahu dalam tatacara harian, oleh itu makanlah dengan tangan kanan dan bukan dengan tangan kiri."

Setelah si suami berkata demikian, maka isterinya itu tetap makan dengan tangan kiri, walaupun suaminya berulang kali memberitahunya. Dengan tiba-tiba terdengar suara dari sebelah pintu, "Keluarkanlah tangan kananmu itu wahai hamba Allah, sesungguhnya kamu telah mendermakan sepotong roti dengan ikhlas kerana Ku, maka tidak ada halangan bagi-Ku memberikan kembali akan tangan kananmu itu."

Setelah gadis itu mendengar suara tersebut, maka dia pun mengeluarkan tangan kanannya, dan dia mendapati tangan kanannya berada dalam keadaan seperti sediakala, dan dia pun makan bersama suaminya dengan menggunakan tangan kanan. Hendaklah kita sentiasa menghormati tamu kita, walaupun dia fakir miskin apabila dia telah datang ke rumah kita maka sesungguhnya dia adalah tamu kita. Rasulullah S.A.W telah bersabda yang bermaksud, "Barangsiapa menghormati tamu, maka sesungguhnya dia telah menghormatiku, dan barangsiapa menghormatiku, maka sesungguhnya dia telah memuliakan Allah S.W.T. Dan barangsiapa telah membuat kemarahan terhadap tamu, dia telah menjadikan kemarahanku. Dan barangsiapa menjadikan kemarahanku, sesungguhnya dia telah menjadikan murka Allah S.W.T."

Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud, "Sesungguhnya tetamu itu apabila dia datang ke rumah seseorang mukmin itu, maka dia masuk bersama dengan seribu berkah dan seribu rahmat."

Sekian dari saya semoga dapat memberikan secercah cahaya rahmat dan ridlo Allah atas apa yang telah tertulis dia atas, kepada kita yang mau melaksanakan apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw.
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Minggu, 25 September 2011

Rayuan Si Mbah Setan (Dalam Hal Pacaran)

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap perkara yang dinginkannya berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenagan hidup di dunia. Dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran: 14)

Adab Bergaul Antara Lawan Jenis

Islam adalah agama yang sempurna, yang mana didalamnya diatur seluk-beluk kehidupan manusia. Di antaranya adalah adab bergaul dengan lawan jenis, sebagaimana yang telah diajarkan oleh agama kita:

1. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis

Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendahlah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur: 30). Allah juga berfirman yang artinya,”Dan katakalah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. an-Nur: 31)

2. Tidak berdua-duaan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahromnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

3. Tidak menyentuh lawan jenis

Di dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR. Bukhari).
Dikarenakan menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang tidak diperkenankan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan)
Jika memandang saja terlarang, tentu bersentuhan lebih terlarang karena godaannya tentu jauh lebih besar.

Salah Kaprah Dalam Bercinta

Tatkala adab-adab bergaul antara lawan jenis mulai pudar, luapan cinta yang bergolak dalam hati manusia pun menjadi tidak terkontrol lagi. Akhirnya, setan berhasil menjerat para remaja dalam ikatan maut yang dikenal dengan “pacaran“. Allah telah melarang berbagai aktifitas yang dapat mengantarkan ke dalam perzinaan. Sebagaimana Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesugguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra’: 32). Lalu pintu apakah yang paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran?!!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan atau mendustakannya.” (HR. Bukhari & Muslim). Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka orang yang berpacaran adalah orang yang telah memiliki semua kuncinya. Kapan saja ia bisa masuk. Bukankah saat berpacaran ia tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang? Bukankah dengan pacaran ia sering melembut-lembutkan suara di hadapan pacarnya? Bukankah orang yang berpacaran senantiasa memikirkan dan membayangkan keadaan pacarnya? Maka farjinya pun tidak khayal akan segera mengikutinya. Akhirnya penyesalan tinggallah penyesalan.karena waktu tidaklah bisa dirayu untuk bisa kembali, sehingga dirinya dapat kembali lagi menjadi sosok yang masih suci dan belum ternodai. Setan pun bergembira atas keberhasilan usahanya….

Iblis, Sang Penyesat Ulung

Tentunya akan sulit bagi Iblis dan bala tentaranya untuk menggelincirkan sebagian orang sampai terjatuh ke dalam jurang pacaran gaya cipika-cipiki atau yang semodel dengan itu. Akan tetapi yang perlu kita ingat, bahwasanya Iblis telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan semua manusia. Iblis berkata, “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shaad: 82). Termasuk di antara alat yang digunakan Iblis untuk menyesatkan manusia adalah wanita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian) yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (HR. Bukhari & Muslim

Sekian semoga dapat membawa manfaat bagi anda sekalian yang membaca, dan tentunya bagi saya, kurang lebihnya mohon maaf. Astaghfirullaha min qoulin bila 'amalin.

Selasa, 16 Agustus 2011

Fadilah Di Bulan Yang Suci


Seyogyanya seorang muslim dalam penantiannya mengatakan kepada dirinya
“Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi” (QS. An Najm: 8).

Ya semakin dekat dengan hari permulaan, bahkan sudah tercium aroma harum diwaktu penantian, hari-hari termulia. Ya SYAHRU RAMADHAN AL MUBARAK, yang Allah jadikan didalamnya limpahan kebaikan, Allah telah memberi keutamaan umat yang dirahmati ini dengan bulan mulia yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya. Tetapi Allah Subhanahuwata’ala juga hanya akan memberikan kemuliaan itu kepada hamba-hambanya dari umat ini yang dikehendaki saja, sesungguhnya Dia adalah Zat yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Kita semua berharap kepadaNya agar tidak terhalang mendapatkan segala keutamaan di bulan ramadhan ini.

Seorang mukmin pastilah mengetahui bahwa hari-hari Allah Subhanahuwata’ala itu bertingkat-tingkat kemuliaannya, sebagaimana pula waktu-waktuNya juga berbeda, sesungguhnya Allah Subhanahuwata’ala telah memilih hari dan waktu-waktu termulianya pada bulan ramadhan. Oleh karena itu jiwa-jiwa mulia merindukan Ramadhan, dan meminta kepada Rabbnya agar dipertemukan dengannya. Tetapi di sisi lain ada sekelompok orang yang hatinya dipenuhi cinta dunia dan kelalaian pada musim-musim yang diberkahi, oleh karena itu kami mengajak kepada jiwa-jiwa yang lalai untuk mempersiapkan diri dan sama-sama merindukannya.

Ketahuilah wahai jiwa yang lalai… anda pasti merindukan ramadhan, karena:

1. Dibulan Ramadhan pintu surga dibuka luas-luas

Maka akan diterima amal dan berbahagia orang yang bekerja keras, orang-orang yang ikhlas beribadah kepadaNya, engkau akan merindukan ramadhan karena engkau akan berkumpul dengan orang-orang yang mengumpulkan kebaikan ini, mereka memenuhi masjid-masjid, mereka tidak mau lepas dari Al Qur’an, akan disatukan hatimu dengan hati-hati mereka dalam ketaatan, serta jiwamu bisa dikumpulkan bersama jiwa-jiwa mereka yang ikhlas.

2. Dibulan Ramadhan ditutup pintu-pintu neraka

Ini adalah kesempatan dijauhkannya engkau dari perbuatan dosa dan maksiat, diperingatkan dari neraka, akan dijaga pandanganmu dari pemandanga yang haram, dijaga pendengaranmu dari suara-suara yang haram dan jika ada yang mengajakmu kepada maksiat maka katakanlah: “Aku takut kepada allah.”

3. Dibulan Ramadhan setan dibelenggu

Maka mereka tidak mengganggu seperti saat diluar ramadhan, akan ditahan keburukan yang dibawa oleh mereka, karena berbagai ketaatan yang dilakukan hamba-hambaNya serta sedikitnya dari orang-orang mukmin yang terjerembab dalam maksiat, akan tetapi memang ada saja setan yang masih berlindung dihati sebagian orang, ini dikarenakan mereka tidak berusaha melepaskan diri dari setan, karena dia selalu meninggalkan shalat berjamaah, membiarkan dirinya bergelimang dalam maksiat, tidak menjaga pandangan, tidak menjaga pendengaran, hatinya selalu terikat dengan kenikmatan semu, kapan engkau akan kembali wahai jiwa yang lalai?

Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam: “Jika datang bulan ramadhan maka dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu syaithan” (Muttafaqun’alaih).

4. Dibulan Ramadhan dosa-dosa diampuni

Kami menginginkan anda merenungi karunia Allah untuk hamba-hambaNya, kasih sayangNya kepada hamba-hambaNya, lihatlah bagaimana Allah menyiapkan kepada mereka dimusim keberkahan ini, dengan mengampuni dosa-dosa mereka, menghapus kesalahan-kesalahan mereka, adakah yang lebih mulia daripadaNya?

Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam: “Shalat lima waktu, jum’at ke jum’at, ramadhan ke ramadhan penghapus dosa diantaranya selama menjauhi dosa-dosa besar “ (HR. Muslim 1/144).

Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam: “Barangsiapa berpuasa karena iman dan berharap pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun’alaih).

Sudahkah engkau melihat keutamaan ini? Apakah engkau tidak memikirkan karunia ini? Dosa-dosamu yang telah lalu… Kesalahah-kesalahanmu yang telah menahun… Allah mengampuni semuanya disebabkan keutamaan amal di bulan ini. Sungguh tidak terbayang apabila engkau tidak merindukan ramadhan ini. Tidakkah engkau berharap ampunan ini? Tidakkah engkau berharap keselamatan dengan karunia ini? Jika Allah telah mengenalkan kerinduan dihatimu, kenapa engkau tidak merindukan ramadhan!!!

5. Dibulan Ramadhan ada amalan yang paling murni/ikhlas

Tidaklah orang yang berpuasa mereka menunggu sesuatu kecuali hanya pahala dariNya, pahala yang tidak terukur dan tidak ada padanannya, karena Allah berfirman: “Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya” (Muttafaqun’alaih), sampai-sampai Malaikatpun tidak mengetahui kadar pahala orang yang berpuasa.

Wahai penyambut ramadhan, engkau bersungguh-sungguhlah dalam menahan lapar dan dahaga, menahan hawa nafsumu, sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagimu, karunia yang tak terbayang sebelumnya, jika engkau merasa gembira saat berbuka dan menyelesaikan puasa sehari sesungguhnya engkau akan merasakan kebahagiaan yang hakiki nanti di depan jannah an na’im.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman: “Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa, sesungguhnya itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya. Puasa itu adalah perisai. Jika datang hari puasa seseorang di antara kalian maka janganlah ia berkata kotor dan jangan memaki; jika ada orang mencacinya atau memancingnya berkelahi, hendaknya ia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi daripada wangi misik. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan; jika ia berbuka, ia berbahagia; dan jika bertemu Rabbnya, ia berbahagia karena puasanya” (Muttafaqun’alaih).

6. Dibulan Ramadhan pahala umrahmu seperti pahala berhaji bersama Rasulullah Shalallhu’alaihi wassalam

Apabila engkau menunaikan umrah dibulan ramadhan dengan ikhlas dan mengikuti tuntunan yang datang dari Rasulullah maka engkau mendapatkan pahala berhaji bersama Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam, beliau bersabda :“Umrah dibulan ramadhan seperti berhaji bersamaku” (Shahih al Jami’ no 4098)

7. Do’amu saat berpuasa mustajab

Rasulullah Shalallhu’alaihi wassalam bersabda:” Tiga do’a mustajab: do’a orang yang berpuasa, do’a orang yang didholimi, dan do’a musafir” (Shahih al Jami’ no 3030).

8. Dibulan Ramadhan ada malam-malam yang istimewa

Hal ini dapat kita lihat dari kesungguhan Rasulullah Shalallhu’alaihi wassalam, kesungguhan beliau tidak sama dengan waktu-waktu yang lain, Aisyah Radhiallahu’anha berkata:” Rasulullah Shalallhu’alaihi wassalam sangat bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir dibulan ramadhan tidak seperti diwaktu-waktu lain.” (Shahih al Jami’ no 4910).

9. Dibulan Ramadhan ada lailatul qodr

Disinilah Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam sangat mengagungkan waktu ini, sangat berharap mendapatkan kemuliaan didalamnya, karena malam ini adalah malam yang mana amal seseorang sepadan dengan amal yang dikerjakan selama 83 tahun bahkan lebih. Rasulullah Shalallhu’alaihi wassalam bersabda:” Barangsiapa menghidupkan malam lailatul qodr karena iman dan mengharap pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(Muttafaqun’alaih). Allah Subhanahuwata’ala berfirman:” Lailatul qodr lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qodr: 3)

Sungguh bulan ramadhan adalah bulan yang dirindukan oleh setiap insan, maka kita semua senantiasa meminta kepada Rabb yang maha pemurah agar mempertemukan kita dengan bulan mulia, dan termasuk dari golongan orang-orang yang beruntung, karena ada saja sebagian yang Allah pertemukan tetapi mereka tetap saja termasuk orang-orang yang merugi wal ‘iyadzu billah, itu dikarenakan mereka mendholimi diri mereka dengan melarutkan diri dalam maksiat dan dosa, sebagaimana disabdakan :”Sungguh merugi seorang dipertemukan dengan bulan ramadhan kemudian meninggalkannya sebelum diampuni dosanya.” (HR. Tirmidzi 2/271). Semoga bermanfaat . Allah Subhanahuwata’ala a’lamu bishshawab.

Kamis, 11 Agustus 2011

Pendididk Sejati Dari Mulai Lahir


Kisah hidup Saidatina Aisyah r.a. telah membuktikan bahawa wanita mampu menguasai bidang keilmuan mengatasi kaum lelaki serta mampu menjadi pendidik kepada para ilmuan dan pakar-pakar diberbagai bidang.

Kehidupan beliau juga menjadi bukti kemampuan wanita dalam mempengaruhi pandangan masyarakat, baik lelaki maupun perempuan, serta membekalkan sumber inspirasi dan kepimpinan yang mantap. Wanita yang kaya dengan pekerti tinggi,lemah lembut serta sopan santun ini juga telah membawa kebahagiaan dan ketenangan hati yang tidak putus kepada suaminya.

Saidatina Aisyah r.a. bukan seorang graduan dari mana-mana universiti memandangkan belum wujud lagi institusi sedemikian pada ketika hayat beliau seperti yang ada sekarang. Namun begitu, lafaz ucapan beliau menjadi bahan kajian dalam bidang sastera, fatwa- fatwa syariah yang beliau keluarkan dikaji di institusi-instusi perundangan, hidup dan hasil pengkajian beliau diteliti oleh para mahasiswa dan pendidik dalam pengkajian sejarah Islam sejak seribu tahun yang lalu.

Khazanah pengetahuan yang dimiliki Saidatina Aisyah r.a. diperoleh sejak beliau masih seorang kanak-kanak. Pada usia mudanya, Aisyah r.a. dibesarkan oleh bapanya, seorang Muslim yang dihormati dan disegani ramai lantaran ketinggian ilmunya, kelembutan budi pekertinya serta peribadinya yang disegangi ramai. Tambahan pula, beliau sahabat yang paling rapat dengan Rasulullah s.a.w. serta merupakan pengunjung setia ke rumah Rasulullah s.a.w. sejak zaman awal kerasulan baginda.

Semenjak beliau muda, Aisyah r.a. yang terkenal dengan paras rupanya yang menawan serta daya ingatan yang kuat, diletakkan di bawah jagaan Rasulullah s.a.w. sendiri. Sebagai isteri serta pendamping baginda Rasulullah, Aisyah r.a. berpeluang menimba ilmu pengetahuan dari baginda sehingga ke tahap yang tidak mungkin ditandingi oleh wanita-wanita lain.

Aisyah r.a. menjadi isteri Rasulullah s.a.w. di Mekah di sekitar usia beliau mencecah sepuluh tahun, namun hanya mula menjalankan tanggungjawab sebagai seorang isteri setelah tahun kedua Hijrah, iaitu ketika usia beliau sekitar empatbelas hingga limabelas tahun. Pada waktu sebelum dan selepas pernikahan beliau, Aisyah r.a. tetap mempamerkan kegirangan serta sifat semulajadi seorang kanak-kanak. Beliau seidkit pun tidak teruja dengan statusnya sebagai isteri kepada seorang Nabi Allah yang begitu disanjungi dan dikasihi oleh para sahabat. Ini termasuklah kedua ibubapa Aisyah sendiri yang menumpukan sepenuh kasih saying serta hormat mereka kepada Rasulullah s.a.w. berbanding orang lain.

Berkenaan pernikahan beliau kepada Rasulullah s.a.w., Aisyah r.a. menceritakan, sejurus sebelum beliau ditetapkan meninggalkan rumahnya, beliau telah keluar ke halaman rumah untuk bermain-main dengan rakannya yang sedang berlalu di situ:”Aku sendang bermain di atas jungkang-jungkit dan rambutku yang panjang telah menjadi kusut” kata beliau. “Mereka datang mendapatkan ku dari permainan ku lalu menyiapkan ku.”

Saidatina Aisyah r.a. dipakaikan pakaian pengantinnya yang diperbuat dari sutera halus berjalur merah dari Bahrain. Seterusnya beliau dibawa oleh ibunya ke rumahnya yang baru siap dibina serta disambut oleh wanita-wanita Ansar di muka pintu. Mereka manyambutnya dengan ucapan “Demi kebaikan dan kebahagiaan dan semoga diiringi kesenangan.” Dalam kehadiran baginda Rasulullah yang sedang tersenyum lembut, semangkuk susu dibawa kepada mereka. Rasulullah s.a.w. minum darinya lalu memberikan susu itu kepada Aisyah. Aisyah dengan segan silu menolak pelawaan Rasulullah itu. Namun apabila Rasulullah sekali lagi menyuruh Aisyah minum dari semangkuk susu itu, Aisyah pun berbuat demikian. Seterusnya mangkuk itu diberikan kepada kakak beliau, Asma, yang berada di sisinya serta diedarkan kepada mereka yang hadir di situ. Itulah keraian yang menandai pernikahan baginda Rasulullah dengan saidatina Aisyah yang dijalankan dalam penuh kesederhanaan.

Status beliau sebagai isteri Rasulullah s.a.w. tidak merubah sifat riang Aisyah sebagai seorang kanak-kanak. Rakan-rakan beliau sering berkunjung ke rumah untuk bermain-main dengannya.

Sedang aku bermain dengan permainanku,cerita Saidatina Aisyah r.a.,bersamaku ada kawan-kawanku, dan datang baginda Rasulullah kepadaku, lalu mereka akan keluar meninggalkanku, akan tetapi Rasulullah keluar mendapatkan rakan-rakanku itu dan membawa mereka kembali kerana baginda senang denganku bermain dengan mereka. Kadangkala baginda berkata, “Tinggal di situ, wahai Aisyah,” dan sebelum sempat rakan-rakanku meninggalkanku, baginda akan turut serta dalam permainan kami. Kata Aisyah r.a. Suatu hari, baginda Rasulullah datang ketika aku sedang bermain-main dengan anak patungku, dan baginda berkata, “Wahai Aisyah, permainan apakah ini?” “Inilah kuda-kuda Sulaiman,” kata ku dan baginda pun tertawa. Ada ketika apabila baginda pulang ketika Aisyah sedang bermain dengan rakan-rakannya, baginda Rasulullah akan berselindung di sebalik jubahnya agar tidak mengganggu Aisyah dan rakan-rakan beliau yang sedang bermain.

Detik-detik awal kehidupan Aisyah r.a. di Madinah turut melalui saat-saat yang mencabar. Pada suatu ketika, bapa beliau bersama dua orang sahabat yang tinggal bersamanya ketika itu telah diserang demam panas yang sering melanda Madinah pada musim-musim tertentu. Ketika Aisyah menziarahi bapanya, beliau terkejut melihat ketia-tiga orang lelaki itu sedang terlantar dalam keadaan tenat dan lemah. Aisyah bertanyakan khabar bapanya itu namun jawapan yang diberi bapa beliau tidak dapat difahami. Dua orang sahabat yang sedang tenat itu juga mengeluarkan baris-baris puisi yang difikirkan Aisyah hanyalah ratapan seorang yang sedang sakit tenat. Saidatina Aisyah berasa gusar lalu pulang menceritakan peristiwa itu kepada baginda Rasulullah s.a.w.:

Mereka maracau-racau, tidak keruan, disebabkan demam panas itu, Kemudian Rasulullah bertanya kepada Aisyah apa yang diperkatakan oleh bapanya serta dua orang sahabat yang sedang sakit tadi. Baginda berasa lega setelah Aisyah mengulangi setiap apa yang dikatakan oleh mereka walaupun kata-kata itu belum mampu difahami oleh Aisyah sendiri. Peristiwa ini menggambarkan daya ingatan Aisyah yang begitu kuat yang bakal memainkan peranan penting dalam meriwayatkan hadith-hadith baginda Rasulullah s.a.w.

Di kalangan isteri-isteri baginda di Madinah, Aisyah nyata sekali merupakan kesayangan Rasulullah s.a.w. Dari masa ke semasa, salah seorang sahabat baginda akan bertanya,:

Wahai Rasulullah, siapakah yang paling kau sayangi di dunia ini? Jawab baginda sering berbeda-beda karena baginda begitu mengasihi anak-anak serta cucu-cucunya, sahabat baginda Abu Bakar, Ali, Zaid serta anak beliau Usamah. Namun di kalangan isteri baginda yand sering disebut hanyalah Aisyah. Aisyah sendiri begitu mengasihi baginda Rasulullah serta sering meminta kepastian tentang kasih baginda terhadapnya. Pernah suatu ketika Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah, Bagaimanakah kasihmu terhadapku?

Seperti ikatan simpulan tali, jawab baginda yang bermaksud kasihnya itu kuat dan kukuh. Lalu pada waktu-waktu seterusnya Saidatina Aisyah r.a. akan bertanya kepada Rasulullah, Bagaimana keadaan simpulan itu? dan jawab baginda Demi Allah, masih sama (kukuh).

Begitu kasihnya Aisyah kepada baginda Rasulullah sehinggakan lahir rasa cemburu dan tidak berpuas hati sekiranya perhatian Rasulullah dicurahkan kepada orang lain melebihi dirinya sendiri. Aisyah bertanya kepada baginda,:

Wahai Rasul Allah, katakan sendiri padaku. Sekiranya engkau berada di antara dua lembah, yang satunya tidak pernah diragut rumputnya sedangkan yang satu lagi sudah pernah diragut rumputnya, dimanakah akan engkau lepaskan ternakkanmu?

Di lembah yang rumputnya belum pernah diragut, jawab Rasulullah. Namun begitu,kata beliau aku tidaklah seperti isteri-isterimu yang lain. Setiap orang dari mereka pernah mempunyai suami yang lain sebelum mu kecuali diriku. Rasulullah hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Cerita Aisyah lagi tentang sikap cemburunya itu:

Aku tidak mencemburui isteri-isteri Rasulullah yang lain sebagaimana aku mencemburui Khadijah, disebabkan baginda sering menyebut-nyebut nama Khadijah serta telah diperintahkan Allah untuk menyampaikan berita gembira kepada Khadijah tentang mahligainya di syurga yang bertatahkan permata. Setiap kali baginda Rasulullah membuat sembelihan, pasti akan diberikan sebahagian daripada daging sembelihan itu kepada teman-teman rapat Khadijah. Berkali-kali pernah ku katakan kepada baginda, “Seolah-olah tidak pernah ada wanita lain di dunia in selain Khadijah,”

Pernah suatu ketika Aisyah mengadu tentang sikap Rasulullah yang begitu memandang tinggi terhadap seorang wanita tua Quraisy, baginda berasa tersinggung lalu berkata: Dialah isteri yang mempercayai diriku sedangkan orang lain menafikan diriku. Sedangkan orang lain mendustai ku, dia meyakinkan kebenaranku. Sedang aku dipulaukan, dia membelanjakan segala harta kekayaannya untuk meringankan beban sengsara ku.

Walaupun Aisyah memiliki sifat cemburu yang sebenarnya tidak membawa kepada keburukan, beliau sesungguhnya seorang yang amat pemurah dan penyabar. Beliau mengharungi kehidupan yang serba kekurangan bersama isteri-isteri Rasulullah yang lain. Beliau tidak betah hidup tanpa sesuap makanan pun dalam jangka waktu yang panjang. Berhari-hari lamanya dapur rumah beliau tidak berasap dan beliau hidup bersama Rasulullah di atas buah tamar dan air semata-mata. Hidupnya yang miskin tidak membawa sebarang tekanan atau memalukan Aisyah r.a.; hidup berdikari tidak mengganggu cara hidup beliau walau sedikit pun.

Pernah suatu ketika, Rasulullah telah memutuskan perhubungan dengan isteri-isteri baginda sehingga sebulan lamanya. Ini disebabkan mereka meminta sesuatu yang Rasulullah tidak mampu berikan. Peristiwa ini berlaku selepas peperangan di Khaibar dimana kemenangan umat Islam membawa harta rampasan serta membuahkan keinginan terhadap harta kekayaan. Setelah kembali dari beruzlah, baginda Rasulullah pertama sekali menuju ke rumah Aisyah. Beliau begitu gembira melihat baginda telah kembali, namun Rasulullah mengkhabarkan kepadanya tentang penerimaan wahyu yang menyuruh baginda memberikan Aisyah dua pilihan. Baginda seterusnya membacakan ayat :

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mutah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” (al-Ahzab 28-29)

Jawab Aisyah:

Sesungguhnya aku memilih Allah dan RasulNya dan kehidupan di akhirat, dan jawabnya itu disetujui isteri-isteri baginda yang lain.

Beliau setia terhadap pilihannya itu sepanjang hidupnya bersama Rasulullah dan begitu juga setelah kewafatan baginda. Apabila umat Islam dilimpahi harta kekayaan yang banyak, beliau pernah dihadiahkan seratus ribu dirham. Walaupun ketika itu beliau sedang berpuasa dan hidup dalam kekurangan, seluruh pemberian itu disedekahkan kepada fakir miskin. Sejurus selepas itu, seorang pembantu rumahnya bertanya, Bolehkan engkau menggunakan satu dirham untuk membeli daging buat berbuka puasa?

Jika aku terfikirkan hal ini tadi, pasti aku sudah melakukannya, jawab Aisyah r.a. Kasih sayang Rasulullah terhadap Aisyah berkekalan sehingga akhir hayat baginda. Ketika baginda sedang nazak, baginda telah pulang ke rumah Aisyah atas izinisteri-isteri baginda yang lain. Kebanyakan masa baginda hanya terlantar di katil dengan kepala baginda di atas pangkuan Aisyah. Saiditina Aisyah telah meminta kayu siwak dari abangnya (or adik lelaki?) serta mengunyah kayu siwak itu untuk melembutkannya lalu diberikan kepada Rasulullah. Walaupun sudah berkeadaan tenat, baginda menggosok gigi baginda dengan bersungguh-sungguh. Tidak lama kemudian, baginda jatuh pengsan dan tidak sedarkan diri dan Aisyah melihat itu adalah tanda-tanda ajal baginda telah sampai. Namun sejam kemudian, baginda kembali membuka mata.

Aisyahlah yang menyaksikan dan menyampaikan kisah saat-saat akhir sebelum kewafatan insan mulia ini, kekasih Allah moga dilimpahi rahmatNya.

Setelah baginda sedar kembali, Aisyah mengingati Izrail telah berkata kepadanya: Tidak seorang Nabi itu diambil nyawanya melainkan dia telah ditunjukkan tempatnya di syurga serta diberikan pilihan samada untuk hidup atau mati,

Baginda tidak akan memilih untuk bersama kita, kata Aisyah pada dirinya. Kemudian Aisyah terdengar baginda berkata, Demi pertemuan agung di syurga, demi hamba-hambanya yang dilimpahi rahmatNya, para Nabi, para syuhada dan orang-orang yang beriman…. Dan sekali lagi beliau terdengar baginda berkata ya Tuhanku, demi pertemuan agung di syurga… Inilah kata-kata terakhir baginda yang didengar oleh Saidatina Aisyah r.a. Sedikit demi sedikit, kepala Rasulullah semakin berat di pangkuan Aisyah, sehinggalah sahabat-sahabat yang lain mula menitiskan air mata. Lalu Aisyah meletakkan kepala Rasulullah di atas bantal dan turut serta menangisi permergian baginda.

Di lantai rumah Aisyah, berhampiran tempat pembaringan Rasulullah ketika baginda sedang nazak, sebuah kubur digali dan di situlah bersemadi jasad penutup segala Nabi, di kala umatnya sedang dalam kegelisahan dan kesedihan yang mendalam.

Aisyah hidup selama hampir lima puluh tahun setelah kewafatan Rasulullah s.a.w. Sepuluh tahun hidup beliau sebagai isteri Rasululluah. Sebahagian besar waktu itu diluangkan dengan mempelajari dua sumber penting petunjuk Allah, iaitu al-Quran dan sunnah Rasulullah. Tiga orang daripada isteri-isteri Rasulullah yang menghafaz al-Quran, dan salah seorang daripadanya adalah Aisyah r.a.(di samping Ummu Salamah dan Hafsah). Seperti Hafsah, Aisyah juga mempunyai salinan al-Quran yang ditulis setelah kewafatan Rasulullah.

Berkenaan dengan hadith baginda Rasulullah, Aisyah merupakan salah seorang daripada empat orang sahabat (termasuk Abu Hurairah, Abdullah ibn Umar dan Anas Ibn Malik) yang meriwayatkan lebih dua ribu hadith. Kebanyakan hadith-hadith ini berkaitan amalan-amalan peribadi Rasulullah yang hanya mampu diketahui oleh Aisyah r.a. Satu aspek penting berkenaan hadith yang diriwayatkan Aisyah ialah hadith-hadith tersebut disampaikan dalam bentuk tulisan oleh, antara lainnya, anak saudara beliau, Urwah ibn az-Zubair yang merupakan salah seorang ulama terkenal di kalangan tabiin.

Ramai di kalangan sahabat Rasulullah dan pengikut-pengikut mereka yang menimba dari ilmu pengetahuan Aisyah r.a. Abu Musa alAshari pernah berkata: Sekiranya kami di kalangan sahabat Rasulullah menghadapi kemusykilan, maka akan kami bawa kepada Saidatina Aisyah r.a.

Urwah ibn az-Zubair menegaskan bahawa Aisyah bukan sahaja arif dalam bidang fiqh, bahkan juga dalam bidang tibb(perubatan) dan syair. Ramai di kalangan sahabat baginda Rasulullah turut merujuk kepada Aisyah berkenaan masalah pewarisan harta yang memerlukan kemahiran tinggi dalam bidang matematik. Para ulama menganggap Saidatina Aisyah sebagai salah seorang ahli fuqaha Islam terawal di samping Umar Ibn al-Khattab, Ali dan Abdullah ibn Abbas. Kata baginda Rasulullah tentang dalamnya pengetahuan Aisyah dalam Islam; Pelajarilah sebahagian daripada agamamu dari al-Humaira,Al-Humaira, atau si merah adalah nama panggilan Rasulullah kepada Saidatina Aisyah r.a.

Saidatina Aisyah r.a. bukan sahaja memiliki ketinggian ilmu pengetahuan, bahkan turut memainkan peranan penting dalam proses pendidikan dan pembentukan masyarakat ketika itu. Sebagai seorang guru, beliau memiliki lisan yang jelas dan menarik hati serta kelancaran bertutur kata beliau digambarkan dengan begitu tinggi oleh al-Ahnaf: Aku pernah mendengar ucapan dari Abu Bakar dan Umar, dari Uthman dan Ali serta para khulafa hingga ke hari ini, tetapi belum pernah aku mendengar ucapan yang lebih indah dan lebih menarik hati dari mulut seorang pun melainkan Aisyah r.a.

Manusia dari segenap pelusuk tanah Arab telah pergi menemui Aisyah untuk mempelajari ilmu yang dimilikinya. Dikatakan lebih ramai bilangan wanita daripada lelaki yang datang untuk menimba ilmu daripada beliau. Di samping menjelaskan kemusykilan orang ramai, beliau turut mengambil anak-anak kecil, ada di kalangan mereka yatim piatu, untuk dibesarkan dan dilatih di bawah bimbingannya sendiri. Di samping itu juga terdapat saudara-saudara beliau yang mendapat bimbingan yang sama. Dengan demikian, rumah Saidatina Aisyah r.a. dijadikan sekolah dan sebuah institusi pengajian.

Ada di kalangan anak-anak didikan Aisyah yang cemerlang di bawah pimpinan beliau. Sudah disebut sebelum ini tentang anak saudara lelaki beliau iaitu Urwah ibn az-Zubair sebagai salah seorang perawi hadith terkemuka. Di antara pelajar wanita didikan Aisyah ialah Umrah binti Abdur Rahman. Umrah dianggap oleh para ulama sebagai seorang perawi hadith yang thiqah dan dikatakan bertindak sebagai setiausaha Aisyah r.a dalam menerima dan menjawab surat-surat yang diterima Aisyah. Peranan Aisyah dalam menggerakkan proses pendidikan terutamanya bagi kaum wanita seharusnya dijadikan contoh ikutan.

Selepas Khadijah al-Kubra (yang hebat) dan Fatimah az-Zahra (yang menawan), Aisyah as-Siddiqah (yang membenarkan) dianggap sebagai wanita terbaik dalam Islam. Dari keteguhan peribadinya, beliau menjadi seorang pakar dalam setiap bidang pengetahuan, dalam masyarakat, politik bahkan peperangan. Beliau sering menyesali penglibatannya dalam peperangan namun dibarkahi dengan umur yang panjang berpeluang membetulkan kedudukannya sebagai wanita paling dihormati sewaktu hayatnya. Beliau kembali ke rahmatullah dalam bulan Ramadhan pada tahun kelima puluh lapan selepas Hijrah. Atas arahan beliau sendiri, jasadnya disemadikan di Jannat al-Baqi di Madinah al-Munawwarah, di kalangan sahabat baginda Rasulullah s.a.w.

Kamis, 28 Juli 2011

Kisah Ma’ruf al-Kurkhi, Sang Murid Para Malaikat

Assalamu'alaikum wr.wb


Muhammad bin al-Mudzaffar berkata, “Diriwayatkan kepada kami bahwa semula kedua orang tua Abu Mahfudz Ma’ruf bin Fairuz al-Kurkhi adalah orang Persia yang beragama Nasrani.

Keduanya menyerahkan pendidikan anaknya (Ma’ruf) sejak dini untuk belajar menulis kepada seorang alim. Suatu hari sang guru memberi pelajaran, katakan, ‘Tuhan Bapak, Tuhan Anak, Dan Tuhan Ibu.’ Ma’ruf membantah dengan mengatakan, ‘Tuhan hanya satu.’ Kemudian sang guru memukulnya.

Guru pun melanjutkan pengajarannya untuk mengucapkan seperti yang semula. Lagi-lagi Ma’ruf menolak, dia mengucapkan, ‘Tuhan itu satu.’ Pada lain hari sang guru memukul dengan pukulan yang lebih keras, maka Ma’ruf pun melarikan diri.

Nampaknya kedua orang tua Ma’ruf tidak mampu lagi bersabar. Hampir-hampir keduanya berputus asa karena sangat khawatir dengan pembangkangan Ma’ruf. Akhirnya kedua orangtua Ma’ruf berkata, ‘Mudah-mudahan dia menemukan suatu agama yang berkenan di hatinya sehingga kita bisa turut memeluk agama itu.’

Ma’ruf, yang masih anak-anak itu terus berjalan mencari kebenaran sehingga bertemu dengan Ali bin Musa ar-Ridha, lalu menyatakan dirinya masuk Islam dihadapannya. Ia hidup dengan beliau dan membantu beliau dalam tempo yang tidak sebentar.

Tak berapa lama kemudian, ia minta izin kepada Ali bin Musa untuk pulang ke rumah orang tuanya. Ia tiba di rumah pada malam hari, setelah mengetuk pintu, orang tuanya bertanya, ‘Siapa?’ Ma’ruf menjawab, ‘Saya!’ Sebelum membuka pintu, orang tua Ma’ruf bertanya, ‘Sekarang kamu memeluk agama apa?’ Ma’ruf menjawab, ‘Islam.’ Kedua orang tuanya mempersilakan masuk dan memeluk Islam. Allah telah berkenan mengumpulkan keluarga ini dalam agama Islam’.”

Di antara riwayat yang sampai kepada kami adalah bahwa, “Ma’ruf mengajarkan agama yang dipeluknya dengan ucapan-ucapan yang tidak disukai kedua orang tuanya. Sehingga si Ibu berkata kepada sang ayah, ‘Anakmu ini masih sangat kecil, tidak pantas berkata-kata demikian. Jalan pikirannya telah dirusak oleh sebagian umat Islam, sebaiknya ia dilarang keluar rumah saja. Keputusan ini lebih baik untuk anak kita.’

Beberapa hari ia disekap dalam kamar rumahnya. Namun sang ayah tidak tega, lalu melepasnya. Akan tetapi Ma’ruf malah kembali mengunci diri di dalam kamar. Ia tidak mau keluar sebelum kedua orang tuanya memaksa untuk keluar kamar, sampai-sampai sang ayah bertanya, ‘Mau berapa lama lagi kamu akan mengunci diri dalam kamar?’

Ma’ruf menjawab, ‘Ayah, sebenarnya ketika aku berada di dalam kamar ini, aku mendapatkan seseorang yang mampu memberi pencerahan yang ayah ibuku sangka bahwa dia merusak jalan hidupku dan berdampak buruk pada ayah ibu berdua.’

Ayah Ma’ruf bertanya, ‘Siapa dia?’

Ma’ruf diam, tidak memberi jawaban. Sang Ayah marah kepada si Ibu, ‘Ini gara-gara kamu! Anak kesayanganku jadi gila!’ Sang ayah lalu membawa Ma’ruf pergi menemui seorang pendeta, untuk menceritakan kejadian tersebut dan agar pendeta bersedia menjampi dan mengobatinya.

Sang pendeta bertanya kepada Ma’ruf, ‘Siapakah yang dia maksud merusak jalan pikiranmu sehingga berdampak buruk kepada kedua orang tuamu?’

Ma’ruf menjawab, ‘Hati kecilku! Dia senantiasa merenungkan siapa yang telah menciptakan langit dan bumi juga memikirkan mengapa bisa demikian indah!’

Sang pendeta bertanya lagi, ‘Kalau begitu, bagaimana menurut pendapatmu wahai Ma’ruf mengenai renunganmu itu?’

Ma’ruf menjawab, ‘Menurutku, di sana hanya ada satu Dzat yang mampu mengatur seluruh alam raya ini, tidak boleh ada seorang pun yang menyerupai Dzat itu. Sebab sekiranya ada tentu ia ingin berbuat seperti yang telah diperbuatnya.’

Pendeta berkata, ‘Kalau demikian, tetaplah kamu di situ, sebentar lagi aku datang menemuimu.’

Kemudian pendeta kembali ke biaranya untuk mengambil tinta dan pena. Ia mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ma’ruf, lalu menulis jawabannya. Selanjutnya pendeta berkata kepada Fairuz (ayah Ma’ruf), ‘Wahai Fairuz, Sekiranya engkau berkata kepadaku bahwa anak ini adalah anakku, tentu aku akan mengatakan bahwa dia adalah salah satu murid para Malaikat.’

Fairuz bersama anaknya pulang dengan perasaan bahagia.

Ma’ruf berkata, ‘Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Ali bin Musa ar-Ridha, beliau pun berkomentar, ‘Memang kamu salah satu murid para Malaikat’.” (Anba’ Nujabail Abna’, hal. 185-187.)

Semoga dapat menjadikan suatu pelajaran bagi kita semua, Aamiin Ya Robbal 'Alamiin.


Wassalamu'alaikum wr.wb

Sabtu, 23 Juli 2011

Khulu'

Assalamu’alaikum wr.wb





Wanita pun behak mengajukan cerai

Disaat seorang wanita yang menjabat sebagai serang isteri, merasakan buntu dalam kehidupannya berumah tangga dan tidak memiliki hak untuk menceraikan, tidak sedikit perempuan yang salah kaprah dalam menjalani rumah tangganya. Padahal Islam telah lama menjawab tentang problem ini.

Khulu'

Secara defenitif, khulu' merupakan tebusan yang dibayar oleh seorang istri kepada suami yang membencinya, agar ia (suami) mau menceraikannya (istri). Jadi, ketika seorang istri bermaksud meminta cerai " ingin bercerai ," ia harus membayar sejumlah tertentu kepada suaminya sebagai tebusan atas pengajuan cerainya itu ('iwadh).

Dan tentunya khulu' tersebut diperbolehkan jika telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Pada zaman Rasulullah pernah terjadi persoalan seperti ini, yang mana seorang istri sahabat mengeluhkan tentang persoalan rumah tangganya. Dia adalah istri Tsabit bin Qais.

" Wahai Rasulullah, terus terang aku tidak mencela suamiku, baik dalam hal akhak dan agamanya, tetapi aku tidak menyukai kekufuran setelah (memeluk) Islam," keluh wanita tersebut.

Tergambar jelas gurat keputusasaan dari istri yang menanggung ketidak bahagiaan dalam menjalani hidup berumah tangga. Dan Rasulullah memberi solusi terbaik bagi perempuan itu. "Apakah kau bersedia mengembalikan kebun yang menjadi maharnya?" tanya Rasulullah.

Istri Tsabit yang bernama Jamilah itu manjawab dengan mantab, "Ya, aku bersedia." Lalu Rasulullah pun segera berkata kepada suami Jamilah, Tsabit bin Qais,"Wahai Tsabit, terimalah kebun itu, dan ceraikanlah istrimu." (HR Bukhari)

Gegabhakah Rasulullah dalam membuat keputusan tersebut? bukankah perceraian adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Allah kendati diperbolehkan? Jawabannya tentu saja tidak. Sebab syariat talak pun bisa menjadi sunnah bahkan wajib dalam sebuah kasus tertentu, teutama semisal kasus diatas. Perceraian dibenci apabila pasangan suami istri sebetulnya masih bisa mempertahankan biduk rumah tangga namun tetap memilih untuk bercerai.

Ketentuan khulu'

Sebelum khulu' dilakukan, hendaknya istri memerhatikan hal berikut dibawah ini :

Seorang istri meminta suaminya untuk melakukan khulu', jika memang tampak adanya bahaya yang mengancam dan merasa takut keduanya tidak dapat menegakkan hukum Allah. Khulu' hendaknya berlangsung sampai selesai tanpa adanya perlakuan penganiayaan (menyakiti) yang dilakukan suami terhadap istinya. Dan jika memang penganiayaan itu terjadi maka suami tidak boleh mengambil sedikitpun harta dari istrinya.

Khulu' juga juga berfungsi seperti talak ba'in, sehingga suami tidak lagi diperbolehkan merujuk istrinya, kecuali setelah mantan istrinya menikah dengan laki-laki lain dan diceraikan olehnya, baru kemudian melakukan akad nikah yang baru.

Disunnahkan bagi suami untuk tidak mengambil harta istri melebihi jumlah mahar yang telah diberikan kepadanya, apalagi meminta atau menetapkan sendiri dengan jumlah yang diinginkan. Jika khulu' tersebut itu sebagai talak, maka menurut jumhur 'ulama, istri yang di-khulu' harus menjalani masa 'iddahnya selama tiga kali quru' (tiga kali masa suci), yang juga tedapat dalam Al Qur an: Qs. Al Baqaah:228.

Dan diperbolehkan bagi wali seorang wanita yang masih kecil untuk mewakilinya sebagai peminta khulu' dari suaminya, jika memang sang wali melihat adanya bahaya yang mengancam wanita tersebut. Klulu' diperbolehkan, baik dalam masa suci maupun ketika haid, karena khulu' tidak memiliki waktu tertentu, dengan kata lain dapat dilakukan kapan saja.

Nah, dari apa yang telah tersurat diatas semoga dapat memberikan sebuah kemnafaatan bagi anda, dan juga saya tentunya. Namun saya berharap agar tidak ada perceraian diantara anda, begitu juga halnya dengan saya. Akhiron ihdinash shiratal mustaqim



Wassalamu’alaikum wr.wb



Iim Cah Boenkzoe, Najiv Alaska, Bunga Ilalang dan 8 lainnya menyukai ini.

o
Iim Arrosyid syukron jempol manisnya ya akhi .............^_^

o
Iim Arrosyid syukron atas jempol manisnya ya ikhwani .....^_^

o
Dien Noer Wizz zmi2 akhi

Jumat, 01 Juli 2011

Penemuan Ilmuan Islam (dalam celoteh santri melihat gerhana rembulan)

Assalamu'alaikum



ana mau cerita nich ikhwan

tadi malam lihat gerhana bulan mulai jam 01:22 WIB, dengan temen jadi bertiga dech ......

karena dingin banget ana pakai jaket, tutup kepala, sarung tangan + bawa selimut

yang satu duduk diatas motor, satunya lagi tiduran disebelah ana selimutan sarung. nunggu gerhana lama banget, ngobrol-ngobrol dech jadinya ............

Eh tidak cuma itu, ada pelajaran lho di celoteh kita bertiga ...^_^



* Ilmuan Islam telah menemukan sebuah penemuan terbaru dan subhanallah banget..............

ternyata bentuk dari alam semesta ini, itu ternyata seperti terompet !, telah ditemukan dengan alat tercanggih NASA

trus ana bilang " ooww wah berarti kita berada dalam sebuah terompet "

teman yang tiduran menjawab " sek ono meneh artikele, ditambahkan dari kitab Tanbihul Ghofilin ada sebuah hadits pada juz 1 halaman 60, dan di Al Qur an surat An Naml."



ternyata hadits tersebut juga menerangkan demikian, kalau mau tahu lebih jelas lihat sendiri yach di kitabnya/ di Al Qur an. Ana bilang lagi " wah malaikatnya pasti besar sekali ," temen ana bilang " iya wong terompete meliputi alam semesta sampai alam gaib," ana nyambung lagi sambil ngajak temen yang diatas motor ngobrol " Nas nek malaikate niup fuh gitu tok mesti guncang dunyo," dia jawab " alah ora tahun baruan kok."



agak lama kami diam sambil memandangi rembulan, tiba-tiba temen ana yang tiduran bilang lagi sambil lihat catatan di HPnya " ternyata tiupan sangkakala itu tiga kali, tiupan pertama untuk mengagetkan makhluk sealam semestam begitu juga yang dilangit, yang kedua membuat semua makhluk mati, yang ketiga pembangkitan kembali, dan hanya orang-orang shalih yang tidak takut dan tidak kaget karena kebangkitan mereka kembali," ana nyambungin " ooww begitu, wah kalau malaikat sing nyangga arsy bersin mesti guncang donyane,"

kami bertiga pun tertawa bersamaan he he he, ki kik kik, hem hem hem.



Dan sudah dulu dech ceritanya, semoga membawa manfaat dari qishoh yang ana sampaikan mohon maaf apa bila ada kesalahan. Ihdinas shiratal mustaqim



Wassalamu'alaikum



Mujahid Garis Keras, Iim Cah Boenkzoe, Najiv Alaska dan 5 lainnya menyukai ini.

Iim Arrosyid syukron jempol manisnya ya ukhti, smg menambah erat
persaudaraan......^_^
Suka · 2 orang

Iim Arrosyid syukron juga yang lain ^_^

Ain Nadziroh tanbihul ghofilin kaliii,,,bukn ghofulun. tp lucu kok,,,he

Iim Arrosyid eh salah tulis ....^_^, kok lucunya saja lha keilmuannya apa komennya ya ukhti ?