Dari Abu Hurairah ra., diceritakan : Orang-orang berkelompok-kelompok dari Abu Hurairah, Natil penduduk Syam berkata padanya : "Wahai Tuan, ceritakanlah kepadaku sebuah hadits yang engkau dengar dari Rasulullah saw. !". Ia berkata : "Ya, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : "Sesungguhnya orang yang paling pertama diadili pada hari qiyamat adalah seseorang yang mati syahid, ia didatangkan dan ditanyakan ni'mat-ni'matnya, lalu ia mengakuinya. Dia berfirman : "Apakah yang kamu amalkan di dunia ? ". Ia menjawab : "Saya berperang sampai mati syahid". Dia berfirman : "Kamu berdusta, tetapi kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan itu telah dikatakan". Kemudian ia diperintahkan, lalu wajahnya ditarik sehingga ia dilemparkan kedalam neraka. Seorang yang memperlajari Ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur'an didatangkan. Nikmat-nikmatnya, ditanyakan dan ia mengakuinya. Dia berfirman : "Apakah yang kamu kerjakan di dunia ?". Ia menjawab : "Saya mempelajari Ilmu, mengajarkannya, dan saya membaca Qur'an karena-Mu". Dia berfirman : "Kamu berdusta, karena kamu mempelajari Ilmu agar dikatakan pandai dan kamu membaca Al Qur'an agar dikatakan sebagai qari', dan itu semua telah diucapkan". Kemudian diperintahkan, lalu wajahnya ditarik sampai dicampakkan kedalam neraka. Dan seorang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberi berbagai macam seluruh harta didatangkan dan ditanyakan ni'mat-ni'matnya lalu ia mengakuinya. Dia berfirman : "Apakah yang kamu kerjakan di dunia ?". Ia menjawab : "Saya tidak meninggalkan jalan yang mana engkau senang untuk di infakkannya (harta) melainkan saya menginfakkannya karena-Mu". Dia berfirman : "Kamu berdusta, tetapi kamu kerjakan agar dikatakan sebagai dermawan, dan itu telah dikatakan". Ia diperintahkan, lalu ditarik wajahnya kemudian dilemparkan kedalam neraka". (
SukaTidak Suka · · Bagikan · Hapus
*
Suka item ini
Muthia Dewie, Lutfi Noer, Ely Sofa Soepardjo dan 3 lainnya menyukai ini.
*
o
Iffa Fatma ILliyya ya ya. . . . jdi inget dulu pas dterangin guruku ttng hadits ni, aaaaaaaaaaaaaa
#waktu berlalu begitu cepat#
o
Iim Arrosyid ^_^
31 menit yang lalu · SukaTidak Suka
o
Iim Arrosyid syukron jempol manisnya smg menambah erat persaudaraan ya ikhwani..............^_^
Jumat, 10 Juni 2011
Senin, 06 Juni 2011
LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN
Assalamu'alaikum wr.wb
Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini ?"
Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"
Tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?"
Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik mahupun yang buruk."
Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?"
Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."
Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."
Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlomba-lomba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."
Sekian semoga dapat membawa manfaat bagi anda, terlebih bagi saya, astaghfirullaha min qoulin bila 'amalin.
Wassalamu'alaikum wr.wb
Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, "Siapakah kamu ini ?"
Jawab kami, "Kami adalah orang beriman." Kemudian baginda bertanya, "Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu ?" Jawab kami, "Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?"
Tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu ?"
Jawab mereka, "Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik mahupun yang buruk."
Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, "Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu ?"
Jawab mereka, "Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu."
Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, "Apakah lima perkara yang kamu masih terbiasakan sejak zaman jahiliyyah ?" Jawab mereka, "Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh." Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, "Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama mahupun dalam tatacara berbicara, hampir sahaja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi."
Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, "Mahukah kamu aku tunjukkan kepada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai ? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlomba-lomba dalam sesuatu yang bakal kamu tinggalkan,, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat."
Sekian semoga dapat membawa manfaat bagi anda, terlebih bagi saya, astaghfirullaha min qoulin bila 'amalin.
Wassalamu'alaikum wr.wb
Rabu, 13 April 2011
Ksempurnaan (kamilan) Dalam Menyusui Bagi Sang Ibu
Assalamu'alaikum wr.wb
Dalam proses tumbuh kembang sang bayi tentunya tidaklah lepas dari yang namanya ASI (air susu ibu ), yang mana asi sangat penting bagi bayi sebelum bayi tersebut dapat menerima atau mengkonsumsi makanan-makanan lain selain asi. Selain itu dipandang dari hukum islam, sang ibu dianjurkan memberikan asi kepada anaknya sampai berusia dua tahun jika menginginkan kesempurnaan dalam menyusui, bahkan tanpa diberikan apapun, asi saja sudah cukup untuk mewakili semua kebutuhan vitamin bagi bayi hingga berusia dua tahun. Dan ada juga perintah bagi kita sebagai seorang muslim dan muslimah atau yang sudah menjadi suami –istri oleh Allah Ta’ala, yang mana Allah telah berfirman dalam Al Qur anul karim :
233. Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Qs. Al Baqarah : 233
Nah sudah jelas bukan, bahwasanya sebagai seorang ibu yang mengnginkan kesempurnaan menyusui bayinya masanya adalah dua tahun, jangan malah dikasih susu sapi, nanti kalau niru sapi bagaimana ?, dan sebagai seorang suami atau seorang ayah, kita juga harusnya mendukung dengan itu semua.
Sekian terimakasih telah berkenan membaca taks diatas, semoga bermanfaat bagi anda terlebih lagi bagi saya, ihdinash shiratal mustaqim
Wassalamu'alaikum wr.wb
Afit Gbr Juventini, Malik Karim Deviana, Niswati Saniah Syarif dan 3 lainnya menyukai ini.
*
Dea Masyita makasih banyak ya mas udah di bantuin....
sangat bermanfaat
*
Malik Karim Deviana Bener !m,.,
ju5tru d9 dber! 5u5u 5ap! bay! akan mudah terkena penyak!t krna dlm 5u5u 5ap! tdk da anty b0dy ny 5pt a5!..,
*
Iim Arrosyid afwan ya ukhti dea
*
Iim Arrosyid syukron ya ukhti Malik, tambah lagi dech ilmunya ....^_^
Dalam proses tumbuh kembang sang bayi tentunya tidaklah lepas dari yang namanya ASI (air susu ibu ), yang mana asi sangat penting bagi bayi sebelum bayi tersebut dapat menerima atau mengkonsumsi makanan-makanan lain selain asi. Selain itu dipandang dari hukum islam, sang ibu dianjurkan memberikan asi kepada anaknya sampai berusia dua tahun jika menginginkan kesempurnaan dalam menyusui, bahkan tanpa diberikan apapun, asi saja sudah cukup untuk mewakili semua kebutuhan vitamin bagi bayi hingga berusia dua tahun. Dan ada juga perintah bagi kita sebagai seorang muslim dan muslimah atau yang sudah menjadi suami –istri oleh Allah Ta’ala, yang mana Allah telah berfirman dalam Al Qur anul karim :
233. Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Qs. Al Baqarah : 233
Nah sudah jelas bukan, bahwasanya sebagai seorang ibu yang mengnginkan kesempurnaan menyusui bayinya masanya adalah dua tahun, jangan malah dikasih susu sapi, nanti kalau niru sapi bagaimana ?, dan sebagai seorang suami atau seorang ayah, kita juga harusnya mendukung dengan itu semua.
Sekian terimakasih telah berkenan membaca taks diatas, semoga bermanfaat bagi anda terlebih lagi bagi saya, ihdinash shiratal mustaqim
Wassalamu'alaikum wr.wb
Afit Gbr Juventini, Malik Karim Deviana, Niswati Saniah Syarif dan 3 lainnya menyukai ini.
*
Dea Masyita makasih banyak ya mas udah di bantuin....
sangat bermanfaat
*
Malik Karim Deviana Bener !m,.,
ju5tru d9 dber! 5u5u 5ap! bay! akan mudah terkena penyak!t krna dlm 5u5u 5ap! tdk da anty b0dy ny 5pt a5!..,
*
Iim Arrosyid afwan ya ukhti dea
*
Iim Arrosyid syukron ya ukhti Malik, tambah lagi dech ilmunya ....^_^
Senin, 14 Maret 2011
Keutamaan Sholat Berjamaah
Keutamaan sholat yang di lakukan secara berjamaah yakni pahalanya berselisih 27 (dua puluh tuju) derajad di banding dengan sholat dengan sendirian (munfarid).
Ingat !! ada lima perkara yang akan di dapat oleh orang yang mau berjamaah :
Tidak mengalami fakir selama hidup di dunia.
Tidak akan mendapat siksa di dalam kuburnya.
Kelak fii yaumil qiyamah akan menerima buku catatan amal dari tangan kanannya.
Jua dapat melewati hsirothol mustaqim secepat kilat yangmenyambar.
Di persilahkan masuk surga tanpa di hisab dan di siksa terlebih dahulu.
Bukti Cinta kepada Nabi SAW. dan bebas dari sifat – sifat/ kelakuannya orang – munafiq, sebagaimana Sabda Nabi yang di riwayatkan Imam As Syaikhoni :
Barang siapa sholat ‘isya’ berjamaah, maka orang tersebut tercatat seperti melakukan ibadah selama 1/5 malam, sedang khushus shubuh orang tersebut tercatat seperti melakukan ibadah 1 (satu) malam penuh jika tidak ketinggalan takbirotul ihromnya ( Takbirotul Ulaa) imam.
Di ampuni dosanya ketika ia membaca Amiin bersamaan dengan aminnya Malaikat.
Caranya yaitu :
Nabi SAW. Bersabda “ketika imam membaca amin maka membaca aminlan kalian semua, karena sesungguhnya barang siapa bacaan aminya bersamaan dengan aminnya Malaikat Maka akan di ampuni Dosanya yang telah lampau”.
Simak saja dulu ya…
Dari Ahmad Dari Abi Umamah “Sesungguhnya Alloh dan para Malaikatnya bersholawat kepada Orang yang berjamaah pada Shof Awwal (ngarep dewe Cah…). Maka, luruskanlah barisan kalian dan luruskan antara Bahu kalian (maqsude Punda_e Kanggo mancer/ ngeker barisane gitu…), dan berlemah lembutlah kalian terhadap tangan – tangannya Saudara – saudara kalian (Seng di du/templekne dudu sikute rek ! loro anggite, tapi punda_e… begonon), dan isilah selah – selah (Barisan seng renggang). Karena sesungguhnya Syaithon itu Masuk (Nylempet/ njubel) di antara barisan kalian semua sebagaimana Anak kambing (CempE).
“Luruskanlah (Barisan kalian), maka Hati kalian semua akan lurus (di jalan tang benar), dan saling bersentuhanlah kalian semua akan di kasihi (oleh Alloh dengan Rohmatnya)”.
Rosululloh bersabda : “Manusia yang paling besar pahalanya dalam urusan sholat adalah yang paling jauh dan yang paling jauh lagi berjalannya, adapun orang yang menanti – nanti sholat sehingga ia menyolatinya bersama Imam iitu lebih besar pahalanya di banding orang yang sholat kemudian tidur”.
“Ketika kalian berdua telah melaksanakan Sholat di kendaraan kalian berdua (ada yang mengatakan di rumahkalian), kemudian kalian datang sedang di Masjid masih ada jamaah (yang melaksakan Sholat Fardlu), maka turut Sholatlah kalian berdua bersama mereka (yaitu Sholat yang baru di laksanakan tadi), Maka sesungguhnya Sholat kalian tadi (yang pertama) menjadi sunah untuk kalian”.
Nabi SAW. Bersabda :”Barang siapa bisa selalu berjamaah selama 40 hari maka Alloh akan menulis baginya terbebas dari neraka dan dari shifat Nifaq”.“Sholat yang paling terjaga syaithon dari padanya adalah Shof/ barisan yang paling pertama”.
Bakal di siksa oleh alloh dengan 12 (dua belas) mushibah siapa saja yang menganggap ringan / ngentengne sholat berjamaah (dapat melakukan sholat berjamaah tetapi malas melakukannya). Al – hadits, Kifayattu Atqiya’ hal. 45.Yang 3 (tiga) semasa hidup di dunia :
Rizqinya tidak berkah.
Tidak memiki cahaya sebagaimana orang sholeh memilikinya.
Tidak di sukai oleh hatinya orang – orang mu’min.
3 (tiga) mushibah lagi ketika syakarotul maut :
Bakal merasakan haus yang teramat sangat ketika rohnya akan keluar, sehingga walaupun menghabiskan air sungai, tiadalah hilang rasa dahaga (haus) tersebut,… wih……., tapi ma’lum aja_lah… namanya aja siksaan.
Sulit keluar rohnya.
Di khawatirkan terpeleset imannya, na’udzubillahi tsumma na’udzubillahi min dzaalik.
3 (tiga) mushibah selanjutnya di timpakan ketika ia berada dalam kuburnya :
Di persulit dalam menjawab pertanyaan malaikat mungkar wa nakir.
Kuburnya di jadikan gelap gulita.
Dia akan di himpit oleh liang lahatnya sediri sehingga tulang belulangnya terkumpul menjadi satu. (weh… saja_e kuburane melok nesu rek…).
Dan 3 (tiga) mushibah yang terakhir pada hari kebangkitan :
Hisapnya akan di persulit.
Bakal di murkai oleh alloh. Hayoh kono ape manggon nengdi iki terusan rek…?
Yaa… mustinya secara otomatis akan di siksa donk…… na’udzubillahi tsumma na’udzubillahi min dzaalik.
Sehingga tiada keuntungan sama sekali bagi orang yang mendengar adzan namun tidak mau sholat berjamaah. (durrotun naasihin hal. 137, istiqomah ky. Hasan abdillah hal. 68-69).
Chie-chie Fa'ah menyukai ini.
o
Risma Fitriani Wleh akh'e yech pegEl cmpex moc0ne maz.
o
Abdul Kader Memang menciptakan kebersamaan itu indah....
o
Najiv Alaska Berfirman Allah Ta’ala :
Sesungguhnya sholat itu bagi orang-orang mu’min adalah suatu kewajiban yang ditentukan waktu-waktunya
(An Nisa : 103)
o
Iim Arrosyid Alhamdulillah tambah lagi ilmunya, syukron ya akhi Najiv
Ingat !! ada lima perkara yang akan di dapat oleh orang yang mau berjamaah :
Tidak mengalami fakir selama hidup di dunia.
Tidak akan mendapat siksa di dalam kuburnya.
Kelak fii yaumil qiyamah akan menerima buku catatan amal dari tangan kanannya.
Jua dapat melewati hsirothol mustaqim secepat kilat yangmenyambar.
Di persilahkan masuk surga tanpa di hisab dan di siksa terlebih dahulu.
Bukti Cinta kepada Nabi SAW. dan bebas dari sifat – sifat/ kelakuannya orang – munafiq, sebagaimana Sabda Nabi yang di riwayatkan Imam As Syaikhoni :
Barang siapa sholat ‘isya’ berjamaah, maka orang tersebut tercatat seperti melakukan ibadah selama 1/5 malam, sedang khushus shubuh orang tersebut tercatat seperti melakukan ibadah 1 (satu) malam penuh jika tidak ketinggalan takbirotul ihromnya ( Takbirotul Ulaa) imam.
Di ampuni dosanya ketika ia membaca Amiin bersamaan dengan aminnya Malaikat.
Caranya yaitu :
Nabi SAW. Bersabda “ketika imam membaca amin maka membaca aminlan kalian semua, karena sesungguhnya barang siapa bacaan aminya bersamaan dengan aminnya Malaikat Maka akan di ampuni Dosanya yang telah lampau”.
Simak saja dulu ya…
Dari Ahmad Dari Abi Umamah “Sesungguhnya Alloh dan para Malaikatnya bersholawat kepada Orang yang berjamaah pada Shof Awwal (ngarep dewe Cah…). Maka, luruskanlah barisan kalian dan luruskan antara Bahu kalian (maqsude Punda_e Kanggo mancer/ ngeker barisane gitu…), dan berlemah lembutlah kalian terhadap tangan – tangannya Saudara – saudara kalian (Seng di du/templekne dudu sikute rek ! loro anggite, tapi punda_e… begonon), dan isilah selah – selah (Barisan seng renggang). Karena sesungguhnya Syaithon itu Masuk (Nylempet/ njubel) di antara barisan kalian semua sebagaimana Anak kambing (CempE).
“Luruskanlah (Barisan kalian), maka Hati kalian semua akan lurus (di jalan tang benar), dan saling bersentuhanlah kalian semua akan di kasihi (oleh Alloh dengan Rohmatnya)”.
Rosululloh bersabda : “Manusia yang paling besar pahalanya dalam urusan sholat adalah yang paling jauh dan yang paling jauh lagi berjalannya, adapun orang yang menanti – nanti sholat sehingga ia menyolatinya bersama Imam iitu lebih besar pahalanya di banding orang yang sholat kemudian tidur”.
“Ketika kalian berdua telah melaksanakan Sholat di kendaraan kalian berdua (ada yang mengatakan di rumahkalian), kemudian kalian datang sedang di Masjid masih ada jamaah (yang melaksakan Sholat Fardlu), maka turut Sholatlah kalian berdua bersama mereka (yaitu Sholat yang baru di laksanakan tadi), Maka sesungguhnya Sholat kalian tadi (yang pertama) menjadi sunah untuk kalian”.
Nabi SAW. Bersabda :”Barang siapa bisa selalu berjamaah selama 40 hari maka Alloh akan menulis baginya terbebas dari neraka dan dari shifat Nifaq”.“Sholat yang paling terjaga syaithon dari padanya adalah Shof/ barisan yang paling pertama”.
Bakal di siksa oleh alloh dengan 12 (dua belas) mushibah siapa saja yang menganggap ringan / ngentengne sholat berjamaah (dapat melakukan sholat berjamaah tetapi malas melakukannya). Al – hadits, Kifayattu Atqiya’ hal. 45.Yang 3 (tiga) semasa hidup di dunia :
Rizqinya tidak berkah.
Tidak memiki cahaya sebagaimana orang sholeh memilikinya.
Tidak di sukai oleh hatinya orang – orang mu’min.
3 (tiga) mushibah lagi ketika syakarotul maut :
Bakal merasakan haus yang teramat sangat ketika rohnya akan keluar, sehingga walaupun menghabiskan air sungai, tiadalah hilang rasa dahaga (haus) tersebut,… wih……., tapi ma’lum aja_lah… namanya aja siksaan.
Sulit keluar rohnya.
Di khawatirkan terpeleset imannya, na’udzubillahi tsumma na’udzubillahi min dzaalik.
3 (tiga) mushibah selanjutnya di timpakan ketika ia berada dalam kuburnya :
Di persulit dalam menjawab pertanyaan malaikat mungkar wa nakir.
Kuburnya di jadikan gelap gulita.
Dia akan di himpit oleh liang lahatnya sediri sehingga tulang belulangnya terkumpul menjadi satu. (weh… saja_e kuburane melok nesu rek…).
Dan 3 (tiga) mushibah yang terakhir pada hari kebangkitan :
Hisapnya akan di persulit.
Bakal di murkai oleh alloh. Hayoh kono ape manggon nengdi iki terusan rek…?
Yaa… mustinya secara otomatis akan di siksa donk…… na’udzubillahi tsumma na’udzubillahi min dzaalik.
Sehingga tiada keuntungan sama sekali bagi orang yang mendengar adzan namun tidak mau sholat berjamaah. (durrotun naasihin hal. 137, istiqomah ky. Hasan abdillah hal. 68-69).
Chie-chie Fa'ah menyukai ini.
o
Risma Fitriani Wleh akh'e yech pegEl cmpex moc0ne maz.
o
Abdul Kader Memang menciptakan kebersamaan itu indah....
o
Najiv Alaska Berfirman Allah Ta’ala :
Sesungguhnya sholat itu bagi orang-orang mu’min adalah suatu kewajiban yang ditentukan waktu-waktunya
(An Nisa : 103)
o
Iim Arrosyid Alhamdulillah tambah lagi ilmunya, syukron ya akhi Najiv
Minggu, 06 Februari 2011
Salam Rindu Bagi-Mu Ya Nabi
Berakarkan Tauhid... Berdiri teguh dibatang Iman...
Berdahankan Yaqin... Berdurikan Taqwa...
Berdaunkan Ihsan... Berkelopak dengan seindah Akhlaq...
Selembut warna Kejujuran.... Sesegar Kebijaksanaan....
Semerbak wangian Kasih Sayang... Sekuntum senyuman Keikhlasan...
Siapa sahja yang memandang wajahmu bisa jadi tenang dan bertambah Iman...
Mendengar namamu bergetar hati yang sedang dalam kerinduan...
Ingin kami memujimu walaupun tidak sebanding Pujian Tuhan...
Sungguh Engkaulah Makhluk sebaik-baik Ciptaan...
Bagaimana hati ini tidak rindu?
Bagaimana hati ini tidak bergetar tika namamu disebut-sebut?
Bagaimana kami tidak mendambakan sebuah pertemuan?
Sungguh kerna Kemuliaanmu ﷺ, kami turut Dimuliakan...
Engkaulah yang kami rindukan dan ingin segera dipertemukan...
Engkaulah Penghulu kami, Imam kami, Idola kami sepanjang masa dan zaman....
Semoga Engkau sudi memandang kami dengan Pandangan Cinta serta Kerinduan...
Pandanglah kami wahai yang menyayangi kami...
Kamilah Ummatmu yang Engkau Sebutkan, yang senantiasa dalam ingatan...
Kamilah jua yang mengharapkan Syafa`atmu serta kedekatan...
Ya RasuluLlah...
Hanya ALLAH sahja yang Berhak dan Maha Mampu
untuk membalas segala jasamu serta pengorbanan...
Juga diatas cercaan, kepedihan, kesakitan yang tidak bisa kami bayangkan...
Segalanya Engkau hadapi dengan kesabaran, untuk Ummatmu yang Engkau sayang...
Ya HabibALLAH...
Tanpamu, kami tidak akan mengenali siapa diri kami dan siapa Tuhan...
Semoga ALLAH ar-Rahman, Memilihmu dan Menempatkanmu
Di Maqam yang Tertinggi lagi Terpuji,
Sebagaimana yang telah DIA Janjikan...
Sebagaimana yang Engkau Idam-idamkan...
Amiin Bi Rahmatika Ya Arhamar-Rahimiin...
Ya Arhamar-Rahimiin...
Ya Arhamar-Rahimiin...
~ Dari tarikan nafas hamba yang kerdil Disisi Sang Pemilik, ♥
Wahai ALLAH, wahai Tuhan kami, Kurniakanlah kepada kami keinginan sungguh-sungguh
untuk mengikuti jejak langkah Junjungan kami Nabi Muhammad ﷺ awalnya,
akhirnya, lahirnya, batinnya, perkataannya, perbuatannya, ibadatnya dan amal baktinya.
Amiin Ya ALLAH, Ya Rabb, Ya Rahman, Ya Rahim, ya Qarib, ya Mujib, Ya Hayyu, Ya Qayyum,
Ya Dzal Jalali wal Ikram wa bi jaahi Sayyidina Muhammadinil Habibil Mahbub ﷺ... ♥
Berdahankan Yaqin... Berdurikan Taqwa...
Berdaunkan Ihsan... Berkelopak dengan seindah Akhlaq...
Selembut warna Kejujuran.... Sesegar Kebijaksanaan....
Semerbak wangian Kasih Sayang... Sekuntum senyuman Keikhlasan...
Siapa sahja yang memandang wajahmu bisa jadi tenang dan bertambah Iman...
Mendengar namamu bergetar hati yang sedang dalam kerinduan...
Ingin kami memujimu walaupun tidak sebanding Pujian Tuhan...
Sungguh Engkaulah Makhluk sebaik-baik Ciptaan...
Bagaimana hati ini tidak rindu?
Bagaimana hati ini tidak bergetar tika namamu disebut-sebut?
Bagaimana kami tidak mendambakan sebuah pertemuan?
Sungguh kerna Kemuliaanmu ﷺ, kami turut Dimuliakan...
Engkaulah yang kami rindukan dan ingin segera dipertemukan...
Engkaulah Penghulu kami, Imam kami, Idola kami sepanjang masa dan zaman....
Semoga Engkau sudi memandang kami dengan Pandangan Cinta serta Kerinduan...
Pandanglah kami wahai yang menyayangi kami...
Kamilah Ummatmu yang Engkau Sebutkan, yang senantiasa dalam ingatan...
Kamilah jua yang mengharapkan Syafa`atmu serta kedekatan...
Ya RasuluLlah...
Hanya ALLAH sahja yang Berhak dan Maha Mampu
untuk membalas segala jasamu serta pengorbanan...
Juga diatas cercaan, kepedihan, kesakitan yang tidak bisa kami bayangkan...
Segalanya Engkau hadapi dengan kesabaran, untuk Ummatmu yang Engkau sayang...
Ya HabibALLAH...
Tanpamu, kami tidak akan mengenali siapa diri kami dan siapa Tuhan...
Semoga ALLAH ar-Rahman, Memilihmu dan Menempatkanmu
Di Maqam yang Tertinggi lagi Terpuji,
Sebagaimana yang telah DIA Janjikan...
Sebagaimana yang Engkau Idam-idamkan...
Amiin Bi Rahmatika Ya Arhamar-Rahimiin...
Ya Arhamar-Rahimiin...
Ya Arhamar-Rahimiin...
~ Dari tarikan nafas hamba yang kerdil Disisi Sang Pemilik, ♥
Wahai ALLAH, wahai Tuhan kami, Kurniakanlah kepada kami keinginan sungguh-sungguh
untuk mengikuti jejak langkah Junjungan kami Nabi Muhammad ﷺ awalnya,
akhirnya, lahirnya, batinnya, perkataannya, perbuatannya, ibadatnya dan amal baktinya.
Amiin Ya ALLAH, Ya Rabb, Ya Rahman, Ya Rahim, ya Qarib, ya Mujib, Ya Hayyu, Ya Qayyum,
Ya Dzal Jalali wal Ikram wa bi jaahi Sayyidina Muhammadinil Habibil Mahbub ﷺ... ♥
Kamis, 03 Februari 2011
Lukisan Cinta, Berbingkai Kerinduan Kepada-Mu
oleh Najiv Alaska pada 03 Februari 2011
بســـــــــم الله الرحمان الرحيم
الحمد لله رب العالمين حمداً يوافى نعمه ويكافئ مزيده
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد الرؤوف الرحيم
ذي الخلق العظيم وعلى آله وأصحابه وأزواجه
في كل لحظة عدد كل حادث وقديم
- Selawat ar-Ra`uf ar-Rahim
اللهم أنت ربي لا إله إلا أ نت خلقتني وأنا عبدك
وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت
أعوذ بك من شر ما صنعت
أبوء لك بنعمتك علي وأبوء لك بذنبي
فاغفر لي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت
- Sayyidul Istighfar
الســــلام عليكم ورحمة الله وبركـــاته
Salam Sejahtera bagimu wahai Nabi yang paling Mulia...
Salam Sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang yang Bertaqwa...
Salam Sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang Sufi...
Salam Sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang yang Suci...
Salam Sejahtera bagimu wahai Ahmad wahai Kekasihku...
Salam Sejahtera bagimu wahai Thaaha wahai Pelipur hatiku...
Salam Sejahtera bagimu wahai Keharumanku dan Pewangi hatiku...
Salam Sejahtera bagimu wahai Ahmad wahai Muhammad...
Salam Sejahtera bagimu wahai yang Menghindarkan bencana-bencana...
Salam Sejahtera bagimu wahai Nabi yang memiliki Kharisma dan wajah yang indah...
Salam Sejahtera bagimu wahai Bulan Purnama yang terang benderang...
Salam Sejahtera bagimu wahai Cahaya yang menerangi kegelapan...
Salam Sejahtera bagimu wahai Nabi yang paling Mulia...
Salam Sejahtera atas Pemimpin yang terkemuka...
Salam Sejahtera atas Pemberi khabar gembira dan keselamatan...
Salam Sejahtera atas Pemberi Syafa`at pada hari Kiamat...
^ Qasidah Assalamu`alaika
بســـــــــم الله الرحمان الرحيم
الحمد لله رب العالمين حمداً يوافى نعمه ويكافئ مزيده
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد الرؤوف الرحيم
ذي الخلق العظيم وعلى آله وأصحابه وأزواجه
في كل لحظة عدد كل حادث وقديم
- Selawat ar-Ra`uf ar-Rahim
اللهم أنت ربي لا إله إلا أ نت خلقتني وأنا عبدك
وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت
أعوذ بك من شر ما صنعت
أبوء لك بنعمتك علي وأبوء لك بذنبي
فاغفر لي فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت
- Sayyidul Istighfar
الســــلام عليكم ورحمة الله وبركـــاته
Salam Sejahtera bagimu wahai Nabi yang paling Mulia...
Salam Sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang yang Bertaqwa...
Salam Sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang Sufi...
Salam Sejahtera bagimu wahai Pemimpin orang-orang yang Suci...
Salam Sejahtera bagimu wahai Ahmad wahai Kekasihku...
Salam Sejahtera bagimu wahai Thaaha wahai Pelipur hatiku...
Salam Sejahtera bagimu wahai Keharumanku dan Pewangi hatiku...
Salam Sejahtera bagimu wahai Ahmad wahai Muhammad...
Salam Sejahtera bagimu wahai yang Menghindarkan bencana-bencana...
Salam Sejahtera bagimu wahai Nabi yang memiliki Kharisma dan wajah yang indah...
Salam Sejahtera bagimu wahai Bulan Purnama yang terang benderang...
Salam Sejahtera bagimu wahai Cahaya yang menerangi kegelapan...
Salam Sejahtera bagimu wahai Nabi yang paling Mulia...
Salam Sejahtera atas Pemimpin yang terkemuka...
Salam Sejahtera atas Pemberi khabar gembira dan keselamatan...
Salam Sejahtera atas Pemberi Syafa`at pada hari Kiamat...
^ Qasidah Assalamu`alaika
Rabu, 02 Februari 2011
Kitab Tentang Talak
1. Haram menceraikan wanita yang sedang haid tanpa redanya. Jika suami melanggar, talak tetap terjadi (sah) namun ia diperintahkan merujuknya kembali
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa Ia menceraikan istrinya dalam keadaan haid pada masa Rasulullah saw. Lalu Umar bin Khathab menanyakan kejadian tersebut kepada Rasulullah saw., beliau menjawab kepada Umar: Perintahkanlah ia untuk merujuknya kembali kemudian biarkanlah sampai ia suci, lalu haid lagi, kemudian suci lagi. Kemudian setelah itu kalau ingin ia dapat menahannya, dan kalau ingin (menceraikan) ia juga dapat menceraikannya sebelum menyentuhnya. Itulah masa idah yang diperintahkan oleh Allah Taala bagi wanita yang diceraikan. (Shahih Muslim No.2675)
2. Wajib membayar kafarat bagi orang yang mengharamkan istrinya namun ia tidak berniat mentalak
Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Bahwa ia pernah berkata tentang masalah orang yang mengharamkan istrinya, maka hal itu merupakan sumpah yang harus ia bayar kafaratnya. Selanjutnya Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya bagi kamu dalam diri Rasulullah saw. itu telah ada suri teladan yang baik. (Shahih Muslim No.2692)
Hadis riwayat Aisyah ra.:
Bahwa Nabi saw. berada di rumah Zainab binti Jahsy, lalu di sana beliau meminum madu. Kemudian aku dan Hafshah bersepakat, siapa pun di antara kami berdua yang ditemui Nabi saw. ia harus mengatakan kepada beliau: Sesungguhnya aku mencium bau maghafir (pohon bergetah yang rasanya manis tapi berbau tidak sedap) darimu, apakah engkau telah memakannya? Kemudian beliau menemui salah seorang dari kami, dan segera melontarkan pertanyaan tersebut kepada beliau. Beliau menjawab: Tidak! Tetapi aku baru saja meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maka turunlah firman Allah: Mengapa kamu mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kepadamu sampai firman-Nya: Jika kamu berdua bertobat, yaitu Aisyah ra. dan Hafshah. Sedang firman Allah: Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) tentang suatu peristiwa ialah berkenaan dengan sabda beliau: Melainkan aku baru saja meminum madu. (Shahih Muslim No.2694)
3. Tentang memberikan pilihan kepada istri tidak berarti mentalak kecuali dengan niat
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Ketika Rasulullah saw. diperintahkan memberikan pilihan kepada istri-istrinya, beliau memulai dari aku. Beliau berkata: Aku akan menyampaikan suatu hal kepadamu, dan aku harap kamu tidak perlu tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum kamu meminta pertimbangan kedua orang tuamu. Aisyah berkata: Padahal beliau telah mengetahui bahwa kedua orang tuaku tidak akan memerintahkanku untuk berpisah dengannya. Aisyah berkata lagi: Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah berfirman: Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut`ah (pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. Aisyah berkata: Lalu aku berkata: Jadi tentang soal inikah aku disuruh untuk meminta pertimbangan kedua orang tuaku? Sesungguhnya aku menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan akhirat. Ternyata istri-istri Rasulullah saw. yang lain juga mengikuti apa yang aku lakukan itu. (Shahih Muslim No.2696)
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. meminta izin kepada kami pada giliran hari istri beliau yang lain setelah turun ayat: Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Mu`adzah bertanya kepada Aisyah: Lalu apa yang kamu katakan jika Rasulullah saw. meminta izinmu? Aisyah berkata: Aku jawab: Kalau itu giliranku, maka aku tidak akan mengutamakan orang lain atas diriku. (Shahih Muslim No.2697)
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. pernah memberikan pilihan kepada kami dan kami tidak menganggap itu sebagai talak. (Shahih Muslim No.2698)
4. Tentang ila`, menjauhi istri dan memberikan pilihan kepadanya serta tentang firman Allah Taala: Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi
Hadis riwayat Umar bin Khathab ra.:
Ketika Nabi saw. tidak menggauli istri-istrinya, beliau berkata: Aku memasuki mesjid, lalu aku melihat orang-orang memukulkan tanah dengan batu-batu kerikil sambil berkata: Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya. Hal itu terjadi sebelum para istri nabi diperintahkan memakai hijab. Umar berkata: Aku berkata: Aku harus mengetahui kejadian sebenarnya hari ini! Maka aku mendatangi Aisyah ra. dan bertanya: Wahai putri Abu Bakar, sudah puaskah kamu menyakiti Rasulullah saw.? Aisyah ra. menjawab: Apa urusanmu denganku, wahai putra Khathab! Nasihatilah putrimu sendiri! Maka setelah itu aku langsung menemui Hafshah binti Umar dan aku katakan kepadanya: Wahai Hafshah, sudah puaskah kamu menyakiti Rasulullah saw.? Demi Allah, sesungguhnya kamu tahu bahwa Rasulullah saw. tidak menyukaimu. Seandainya bukan karena aku, niscaya Rasulullah saw. sudah menceraikanmu. Maka menangislah Hafshah sekuat-kuatnya. Aku bertanya: Di manakah Rasulullah saw. sekarang berada? Ia menjawab: Di tempatnya di kamar atas. Aku segera masuk, namun ternyata di sana telah berada Rabah, pelayan Rasulullah saw. yang sedang duduk di ambang pintu kamar atas sambil menggantungkan kedua kakinya pada tangga kayu yang digunakan Rasulullah untuk naik-turun. Lalu aku berseru memanggil: Wahai Rabah, mintakan izin untukku menemui Rasulullah saw.! Kemudian Rabah memandang ke arah kamar Rasulullah saw. lalu memandangku tanpa berkata apa-apa. Aku berkata lagi: Wahai Rabah, mintakan izin untukku menemui Rasulullah saw.! Sekali lagi ia hanya memandang ke arah kamar Rasulullah kemudian ke arahku tanpa berkata apa-apa. Akhirnya aku mengangkat suara dan berseru: Wahai Rabah, mintakan aku izin untuk menemui Rasulullah! Aku mengira Rasulullah menyangka aku datang demi kepentingan Hafshah. Demi Allah, kalau beliau menyuruhku untuk memukul lehernya maka segera akan aku laksanakan perintah beliau itu. Kemudian aku keraskan lagi suaraku, dan akhirnya Rabah memberikan isyarat kepadaku supaya menaiki tangga. Aku lalu segera masuk menemui Rasulullah saw. yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapat kutahan. Rasulullah bertanya: Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra Khathab? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar (raja Romawi) dan kisra (raja Persia) bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini. Rasulullah saw. lalu bersabda: Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? Aku menjawab: Tentu saja aku rela. Umar berkata: Ketika aku pertama kali masuk, aku melihat kemarahan di wajah beliau. Lalu aku tanyakan kepada beliau: Wahai Rasulullah, apakah yang menyusahkanmu dari urusan istri-istrimu? Jika engkau ceraikan mereka, maka sesungguhnya Allah dan seluruh malaikat-Nya akan tetap bersama engkau begitu juga Jibril, Mikail, aku dan Abu Bakar serta segenap orang-orang mukmin pun juga tetap bersamamu. Sambil mengucapkan kata-kata itu aku selalu memuji Allah dan berharap semoga Allah membenarkan ucapan yang aku lontarkan tadi. Kemudian turunlah ayat takhyir (memberikan pilihan) berikut ini: Jika Nabi saw. menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu. Jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya (pula). Pada saat itu Aisyah ra. dan Hafshah telah bersekongkol terhadap istri-istri Nabi saw. yang lainnya. Aku katakan kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, apakah engkau telah menceraikan mereka? Beliau menjawab: Tidak. Kemudian aku jelaskan kepada beliau, bahwa sewaktu aku memasuki mesjid, aku melihat kaum muslimin memukul-mukulkan batu kerikil ke tanah sambil berkata bahwa Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya. Apakah perlu aku turun untuk memberitahukan mereka bahwa sebenarnya engkau tidak menceraikan istri-istrimu. Beliau bersabda: Boleh, kalau memang kamu ingin. Aku masih tetap berbicara dengan beliau sampai akhirnya aku melihat beliau benar-benar reda dari kemarahannya. Bahkan beliau sudah dapat tersenyum dan tertawa. Dan Rasulullah saw. adalah orang yang paling indah gigi serinya. Kemudian Rasulullah turun dan aku pun ikut turun. Aku turun terlebih dahulu lalu aku pegang erat-erat batang pohon yang digunakan tangga tersebut dan Rasulullah pun turun seakan-akan beliau jalan di atas tanah dan tidak memegang apapun dengan tangannya. Aku berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau berada di dalam kamar itu selama dua puluh sembilan hari. Beliau bersabda: Sesungguhnya sebulan itu ada yang dua puluh sembilan hari. Lalu aku berdiri di pintu mesjid sambil berseru dengan suara sekeras-kerasnya: Rasulullah saw. tidak menceraikan istri-istrinya. Kemudian turunlah ayat: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Dan akulah orang yang ingin mengetahui perkara itu. Maka Allah Taala lalu menurunkan ayat takhyir. (Shahih Muslim No.2704)
5. Masa idah wanita yang ditinggal mati suaminya dan wanita lain berakhir dengan kelahiran bayi
Hadis riwayat Subai`ah ra.:
Umar bin Abdullah menulis sepucuk surat kepada Abdullah bin `Utbah untuk memberitahukan bahwa Subai`ah telah bercerita kepadanya bahwa ia pernah menjadi istri Sa`ad bin Khaulah dari Bani Amir bin Luay, yang pernah ikut dalam perang Badar dan wafat pada waktu haji wada ketika Subai`ah sedang hamil. Tidak berapa lama setelah kematian suaminya ia pun melahirkan. Setelah bersih dari nifas, ia lalu berdandan untuk menemui orang-orang yang akan melamarnya. Kebetulan pada waktu itu seorang lelaki dari Bani Abdud Daar bernama Abu Sanabil bin Ba`kak datang dan berkata kepada Subai`ah: Bagaimana ini, aku melihat kamu sudah mulai berdandan, barangkali kamu sudah ingin menikah lagi? Demi Allah, sesungguhnya kamu belum boleh menikah lagi sampai berlalu masa empat bulan sepuluh hari. Subai`ah berkata: Ketika mendengar ucapan lelaki itu, segera aku kumpulkan pakaianku dan pada sore harinya aku pergi menemui Rasulullah saw. untuk menanyakan masalah tersebut. Rasulullah saw. kemudian memberikan fatwa kepadaku bahwa aku sudah halal (sempurna idah) sejak aku melahirkan. Beliau menyuruhku menikah lagi jika aku mau. (Shahih Muslim No.2728)
Hadis riwayat Ummu Salamah ra., ia berkata:
Sesungguhnya Subai`ah Al-Aslamiah bernifas beberapa malam setelah kematian suaminya. Ketika hal itu dilaporkannya kepada Rasulullah saw. beliau menyuruhnya untuk menikah lagi. (Shahih Muslim No.2729)
6. Wanita yang ditinggal mati suaminya wajib berkabung selama masa idah dan haram selain di masa idah kecuali tiga hari
Hadis riwayat Ummu Habibah istri Nabi ra.:
Dari Zainab binti Abu Salamah ia berkata: Aku menemui Ummu habibah istri Nabi ketika ia ditinggal mati ayahnya yaitu Abu Sufyan. Ummu Habibah meminta diambilkan minyak wangi yang bercampur dengan minyak wangi kuning atau lainnya. Kemudian ia mengoleskan kepada seorang budak wanita serta mengusapkan ke kedua pipinya seraya berkata: Demi Allah, sebenarnya aku tidak memerlukan wewangian ini. Hanya saja aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda dari atas mimbar: Tidak dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat berkabung atas seorang mayat lebih dari tiga hari, kecuali karena kematian suami, maka ia harus berkabung selama empat bulan sepuluh hari. (Shahih Muslim No.2730)
Hadis riwayat Zainab binti Jahsy ra.:
Dari Zainab binti Abu Salamah ia berkata: Aku menemui Zainab binti Jahsy sewaktu ia ditinggal mati saudara lelaki kandungnya, lalu ia meminta diambilkan wewangian dan mengoleskannya seraya berkata: Demi Allah, sebenarnya aku tidak perlu memakai wewangian ini. Namun aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda dari atas mimbar: Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat berkabung atas seorang mayat lebih dari tiga hari kecuali karena kematian suami, maka ia harus melakukannya selama empat bulan sepuluh hari. (Shahih Muslim No.2731)
Hadis riwayat Ummu Salamah r. a ia berkata:
Seorang wanita datang menemui Rasulullah saw. dan bertanya: Wahai Rasulullah, putriku baru saja ditinggal mati suaminya lalu ia mengeluhkan matanya, apakah kami boleh memakaikannya sifat mata? Rasulullah saw. menjawab: Tidak (dua atau tiga kali). Lalu beliau bersabda: Ia harus berkabung selama empat bulan sepuluh hari. Dahulu kebiasaan wanita pada zaman jahiliah adalah melemparkan kotoran binatang di akhir tahun (untuk menandakan berakhirnya masa berkabung). (Shahih Muslim No.2732)
Hadis riwayat Ummu `Athiah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita berkabung atas seorang mayat selama lebih dari tiga hari kecuali karena kematian suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Selama itu ia tidak boleh mengenakan pakaian yang dicelup kecuali pakaian yang sangat sederhana. Ia juga tidak boleh memakai celak mata dan juga tidak boleh memakai wewangian, kecuali hanya sedikit dari qusth (sejenis cendana yang digunakan untuk membuat asap yang wangi) atau azhfar (sejenis wewangian). (Shahih Muslim No.2739)
Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Bahwa Ia menceraikan istrinya dalam keadaan haid pada masa Rasulullah saw. Lalu Umar bin Khathab menanyakan kejadian tersebut kepada Rasulullah saw., beliau menjawab kepada Umar: Perintahkanlah ia untuk merujuknya kembali kemudian biarkanlah sampai ia suci, lalu haid lagi, kemudian suci lagi. Kemudian setelah itu kalau ingin ia dapat menahannya, dan kalau ingin (menceraikan) ia juga dapat menceraikannya sebelum menyentuhnya. Itulah masa idah yang diperintahkan oleh Allah Taala bagi wanita yang diceraikan. (Shahih Muslim No.2675)
2. Wajib membayar kafarat bagi orang yang mengharamkan istrinya namun ia tidak berniat mentalak
Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Bahwa ia pernah berkata tentang masalah orang yang mengharamkan istrinya, maka hal itu merupakan sumpah yang harus ia bayar kafaratnya. Selanjutnya Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya bagi kamu dalam diri Rasulullah saw. itu telah ada suri teladan yang baik. (Shahih Muslim No.2692)
Hadis riwayat Aisyah ra.:
Bahwa Nabi saw. berada di rumah Zainab binti Jahsy, lalu di sana beliau meminum madu. Kemudian aku dan Hafshah bersepakat, siapa pun di antara kami berdua yang ditemui Nabi saw. ia harus mengatakan kepada beliau: Sesungguhnya aku mencium bau maghafir (pohon bergetah yang rasanya manis tapi berbau tidak sedap) darimu, apakah engkau telah memakannya? Kemudian beliau menemui salah seorang dari kami, dan segera melontarkan pertanyaan tersebut kepada beliau. Beliau menjawab: Tidak! Tetapi aku baru saja meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maka turunlah firman Allah: Mengapa kamu mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kepadamu sampai firman-Nya: Jika kamu berdua bertobat, yaitu Aisyah ra. dan Hafshah. Sedang firman Allah: Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) tentang suatu peristiwa ialah berkenaan dengan sabda beliau: Melainkan aku baru saja meminum madu. (Shahih Muslim No.2694)
3. Tentang memberikan pilihan kepada istri tidak berarti mentalak kecuali dengan niat
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Ketika Rasulullah saw. diperintahkan memberikan pilihan kepada istri-istrinya, beliau memulai dari aku. Beliau berkata: Aku akan menyampaikan suatu hal kepadamu, dan aku harap kamu tidak perlu tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum kamu meminta pertimbangan kedua orang tuamu. Aisyah berkata: Padahal beliau telah mengetahui bahwa kedua orang tuaku tidak akan memerintahkanku untuk berpisah dengannya. Aisyah berkata lagi: Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah berfirman: Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut`ah (pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. Aisyah berkata: Lalu aku berkata: Jadi tentang soal inikah aku disuruh untuk meminta pertimbangan kedua orang tuaku? Sesungguhnya aku menghendaki Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan akhirat. Ternyata istri-istri Rasulullah saw. yang lain juga mengikuti apa yang aku lakukan itu. (Shahih Muslim No.2696)
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. meminta izin kepada kami pada giliran hari istri beliau yang lain setelah turun ayat: Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Mu`adzah bertanya kepada Aisyah: Lalu apa yang kamu katakan jika Rasulullah saw. meminta izinmu? Aisyah berkata: Aku jawab: Kalau itu giliranku, maka aku tidak akan mengutamakan orang lain atas diriku. (Shahih Muslim No.2697)
Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. pernah memberikan pilihan kepada kami dan kami tidak menganggap itu sebagai talak. (Shahih Muslim No.2698)
4. Tentang ila`, menjauhi istri dan memberikan pilihan kepadanya serta tentang firman Allah Taala: Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi
Hadis riwayat Umar bin Khathab ra.:
Ketika Nabi saw. tidak menggauli istri-istrinya, beliau berkata: Aku memasuki mesjid, lalu aku melihat orang-orang memukulkan tanah dengan batu-batu kerikil sambil berkata: Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya. Hal itu terjadi sebelum para istri nabi diperintahkan memakai hijab. Umar berkata: Aku berkata: Aku harus mengetahui kejadian sebenarnya hari ini! Maka aku mendatangi Aisyah ra. dan bertanya: Wahai putri Abu Bakar, sudah puaskah kamu menyakiti Rasulullah saw.? Aisyah ra. menjawab: Apa urusanmu denganku, wahai putra Khathab! Nasihatilah putrimu sendiri! Maka setelah itu aku langsung menemui Hafshah binti Umar dan aku katakan kepadanya: Wahai Hafshah, sudah puaskah kamu menyakiti Rasulullah saw.? Demi Allah, sesungguhnya kamu tahu bahwa Rasulullah saw. tidak menyukaimu. Seandainya bukan karena aku, niscaya Rasulullah saw. sudah menceraikanmu. Maka menangislah Hafshah sekuat-kuatnya. Aku bertanya: Di manakah Rasulullah saw. sekarang berada? Ia menjawab: Di tempatnya di kamar atas. Aku segera masuk, namun ternyata di sana telah berada Rabah, pelayan Rasulullah saw. yang sedang duduk di ambang pintu kamar atas sambil menggantungkan kedua kakinya pada tangga kayu yang digunakan Rasulullah untuk naik-turun. Lalu aku berseru memanggil: Wahai Rabah, mintakan izin untukku menemui Rasulullah saw.! Kemudian Rabah memandang ke arah kamar Rasulullah saw. lalu memandangku tanpa berkata apa-apa. Aku berkata lagi: Wahai Rabah, mintakan izin untukku menemui Rasulullah saw.! Sekali lagi ia hanya memandang ke arah kamar Rasulullah kemudian ke arahku tanpa berkata apa-apa. Akhirnya aku mengangkat suara dan berseru: Wahai Rabah, mintakan aku izin untuk menemui Rasulullah! Aku mengira Rasulullah menyangka aku datang demi kepentingan Hafshah. Demi Allah, kalau beliau menyuruhku untuk memukul lehernya maka segera akan aku laksanakan perintah beliau itu. Kemudian aku keraskan lagi suaraku, dan akhirnya Rabah memberikan isyarat kepadaku supaya menaiki tangga. Aku lalu segera masuk menemui Rasulullah saw. yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapat kutahan. Rasulullah bertanya: Apakah yang membuatmu menangis, wahai putra Khathab? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar (raja Romawi) dan kisra (raja Persia) bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan Allah dan hamba pilihan-Nya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini. Rasulullah saw. lalu bersabda: Wahai putra Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka? Aku menjawab: Tentu saja aku rela. Umar berkata: Ketika aku pertama kali masuk, aku melihat kemarahan di wajah beliau. Lalu aku tanyakan kepada beliau: Wahai Rasulullah, apakah yang menyusahkanmu dari urusan istri-istrimu? Jika engkau ceraikan mereka, maka sesungguhnya Allah dan seluruh malaikat-Nya akan tetap bersama engkau begitu juga Jibril, Mikail, aku dan Abu Bakar serta segenap orang-orang mukmin pun juga tetap bersamamu. Sambil mengucapkan kata-kata itu aku selalu memuji Allah dan berharap semoga Allah membenarkan ucapan yang aku lontarkan tadi. Kemudian turunlah ayat takhyir (memberikan pilihan) berikut ini: Jika Nabi saw. menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu. Jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya (pula). Pada saat itu Aisyah ra. dan Hafshah telah bersekongkol terhadap istri-istri Nabi saw. yang lainnya. Aku katakan kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, apakah engkau telah menceraikan mereka? Beliau menjawab: Tidak. Kemudian aku jelaskan kepada beliau, bahwa sewaktu aku memasuki mesjid, aku melihat kaum muslimin memukul-mukulkan batu kerikil ke tanah sambil berkata bahwa Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya. Apakah perlu aku turun untuk memberitahukan mereka bahwa sebenarnya engkau tidak menceraikan istri-istrimu. Beliau bersabda: Boleh, kalau memang kamu ingin. Aku masih tetap berbicara dengan beliau sampai akhirnya aku melihat beliau benar-benar reda dari kemarahannya. Bahkan beliau sudah dapat tersenyum dan tertawa. Dan Rasulullah saw. adalah orang yang paling indah gigi serinya. Kemudian Rasulullah turun dan aku pun ikut turun. Aku turun terlebih dahulu lalu aku pegang erat-erat batang pohon yang digunakan tangga tersebut dan Rasulullah pun turun seakan-akan beliau jalan di atas tanah dan tidak memegang apapun dengan tangannya. Aku berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau berada di dalam kamar itu selama dua puluh sembilan hari. Beliau bersabda: Sesungguhnya sebulan itu ada yang dua puluh sembilan hari. Lalu aku berdiri di pintu mesjid sambil berseru dengan suara sekeras-kerasnya: Rasulullah saw. tidak menceraikan istri-istrinya. Kemudian turunlah ayat: Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Dan akulah orang yang ingin mengetahui perkara itu. Maka Allah Taala lalu menurunkan ayat takhyir. (Shahih Muslim No.2704)
5. Masa idah wanita yang ditinggal mati suaminya dan wanita lain berakhir dengan kelahiran bayi
Hadis riwayat Subai`ah ra.:
Umar bin Abdullah menulis sepucuk surat kepada Abdullah bin `Utbah untuk memberitahukan bahwa Subai`ah telah bercerita kepadanya bahwa ia pernah menjadi istri Sa`ad bin Khaulah dari Bani Amir bin Luay, yang pernah ikut dalam perang Badar dan wafat pada waktu haji wada ketika Subai`ah sedang hamil. Tidak berapa lama setelah kematian suaminya ia pun melahirkan. Setelah bersih dari nifas, ia lalu berdandan untuk menemui orang-orang yang akan melamarnya. Kebetulan pada waktu itu seorang lelaki dari Bani Abdud Daar bernama Abu Sanabil bin Ba`kak datang dan berkata kepada Subai`ah: Bagaimana ini, aku melihat kamu sudah mulai berdandan, barangkali kamu sudah ingin menikah lagi? Demi Allah, sesungguhnya kamu belum boleh menikah lagi sampai berlalu masa empat bulan sepuluh hari. Subai`ah berkata: Ketika mendengar ucapan lelaki itu, segera aku kumpulkan pakaianku dan pada sore harinya aku pergi menemui Rasulullah saw. untuk menanyakan masalah tersebut. Rasulullah saw. kemudian memberikan fatwa kepadaku bahwa aku sudah halal (sempurna idah) sejak aku melahirkan. Beliau menyuruhku menikah lagi jika aku mau. (Shahih Muslim No.2728)
Hadis riwayat Ummu Salamah ra., ia berkata:
Sesungguhnya Subai`ah Al-Aslamiah bernifas beberapa malam setelah kematian suaminya. Ketika hal itu dilaporkannya kepada Rasulullah saw. beliau menyuruhnya untuk menikah lagi. (Shahih Muslim No.2729)
6. Wanita yang ditinggal mati suaminya wajib berkabung selama masa idah dan haram selain di masa idah kecuali tiga hari
Hadis riwayat Ummu Habibah istri Nabi ra.:
Dari Zainab binti Abu Salamah ia berkata: Aku menemui Ummu habibah istri Nabi ketika ia ditinggal mati ayahnya yaitu Abu Sufyan. Ummu Habibah meminta diambilkan minyak wangi yang bercampur dengan minyak wangi kuning atau lainnya. Kemudian ia mengoleskan kepada seorang budak wanita serta mengusapkan ke kedua pipinya seraya berkata: Demi Allah, sebenarnya aku tidak memerlukan wewangian ini. Hanya saja aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda dari atas mimbar: Tidak dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat berkabung atas seorang mayat lebih dari tiga hari, kecuali karena kematian suami, maka ia harus berkabung selama empat bulan sepuluh hari. (Shahih Muslim No.2730)
Hadis riwayat Zainab binti Jahsy ra.:
Dari Zainab binti Abu Salamah ia berkata: Aku menemui Zainab binti Jahsy sewaktu ia ditinggal mati saudara lelaki kandungnya, lalu ia meminta diambilkan wewangian dan mengoleskannya seraya berkata: Demi Allah, sebenarnya aku tidak perlu memakai wewangian ini. Namun aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda dari atas mimbar: Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhirat berkabung atas seorang mayat lebih dari tiga hari kecuali karena kematian suami, maka ia harus melakukannya selama empat bulan sepuluh hari. (Shahih Muslim No.2731)
Hadis riwayat Ummu Salamah r. a ia berkata:
Seorang wanita datang menemui Rasulullah saw. dan bertanya: Wahai Rasulullah, putriku baru saja ditinggal mati suaminya lalu ia mengeluhkan matanya, apakah kami boleh memakaikannya sifat mata? Rasulullah saw. menjawab: Tidak (dua atau tiga kali). Lalu beliau bersabda: Ia harus berkabung selama empat bulan sepuluh hari. Dahulu kebiasaan wanita pada zaman jahiliah adalah melemparkan kotoran binatang di akhir tahun (untuk menandakan berakhirnya masa berkabung). (Shahih Muslim No.2732)
Hadis riwayat Ummu `Athiah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita berkabung atas seorang mayat selama lebih dari tiga hari kecuali karena kematian suami, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. Selama itu ia tidak boleh mengenakan pakaian yang dicelup kecuali pakaian yang sangat sederhana. Ia juga tidak boleh memakai celak mata dan juga tidak boleh memakai wewangian, kecuali hanya sedikit dari qusth (sejenis cendana yang digunakan untuk membuat asap yang wangi) atau azhfar (sejenis wewangian). (Shahih Muslim No.2739)
Langganan:
Postingan (Atom)
