Rabu, 06 Juni 2012

Keutamaan Dari Sujud Tilawah


Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Kali ini kita mengangkat tema tentang sujud tilawah, mungkin teman-teman sudah banyak yang sudah tahu, tapi suatu ilmu yang sudah diketahui akan tambah-dan bertambah lagi pemahamannya saat diulangi, jadi jangan pernah merasa bosan dengan yang namanya mencari ilmu atau menghadiri majlis ilmu.......^_^

Apa Keutamaan Sujud Tilawah ?

Keutamaan sujud tilawah termaktub dalam hadits riwayat Abu Hurairah RA, Rasulullah bersabda: “Jika Adam membaca ayat sajadah, maka setan menjauh seraya menangis dan berkata, “celaka aku (setan). Anak Adam diperintahkan untuk sujud, maka ia bersujud sehingga akan mendapatkan surga. Sementara aku (setan ) diperintahkan sujud akan tetapi aku menolak, maka bagiku neraka.” (Riwayat Muslim dan Ibnu Majah)

Sesuai dengan namanya, sujud ini berkaitan erat dengan tilawah (membaca) ayat-ayat Al Qur an. ” Sebuah sujud yang disyariatkan Allah swt dan Rasul-Nya sebagai bentuk ubudiyah kepada Allah dikala membaca ayat-ayat suci Al Qur an dan menyimaknya, untuk mendekatkan diri kepada-Nya, menampakkan ketundukan di hadapan keagungan-Nya dan kehinaan di hadapan-Nya.” Jelas Syaikh Shaleh al-Fauzan RA dalam al-mulakhkhash al-Fiqhi (1/180). Ayat-ayat yang dimaksud sering kali disebut ayat sajdah (sujud) dan berjumlah 14 ayat dalam Al Qur an.

Memang benar sujud tilawah hukumnya sunnah sehingga bila tidak dikerjakan tidak berdosa, tapi dengan melihat keutamaan besar yang dijanjikan dalam hadits, tentunya tidak boleh dilewatkan saja oleh setiap Muslim. Dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah terbagi menjadi dua. Pertama, berisi akhbaar (berita) dari Allah Ta’ala tentang sujudnya seluruh makhluq kepada-Nya baik secara umum atau khusus yang dilakukan oleh kaum Mukminin yang bersujud karena takut kepada Allah Ta’ala. Maka disunnahkan bagi pembaca atau yang menyimak untuk menyerupai mereka itu ketika membaca ayat sajdah atau menyimaknya.

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami adalahorang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertsabih serta memuji Rabbnya sedang merka tidakmenyombongkan diri.” (As- sajdah: 15)
Kedua, ayat-ayat yang memang berisi perintah (awaamir) untuk bersujud kepada AllahTa’ala, semisal ayat terakhir pada surat Al-‘Alaq yang pastinya ikhwani semua sudah hafal. Kalau belum hafal , dihafalin ya!. Fokus lagi ya!, perhatikan ayat berikut, “Sekali-kali jangan. Janganlah kamu patuh kepadanya dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabbmu).” (Al-‘Alaq : 19)
Saat ini ayat-ayat sajdah sudah diberi tanda pada akhir ayatnya, dengan tanda atau tulisan sajdah.

Tata Cara Pelaksanaan Sujud Tilawah
Dalam melaksanakan sujud tilawah tidak ada syarat-syarat seperti shalat pada umumnya, seperti bersuci dan menghadap kiblat, karena sujud tilawah bukan sholat. Diriwayatkan Imam Bukhari secara muallaq, bahwa Ibnu Umar melakukan sujud tilawah tanpa wudlu (tidak bersuci), namun apabila dikerjakan dengan bersuci (memiliki wudlu) dan menghadap kiblat itu akan lebih utama.

Sujud tilawah dilakukan dalam shalat fardhu maupun sunnah (menjadi imam atau ketika sholat munfarid) juga pada saat diluar shalat, ketika kamu bertadarus, membaca ayat-ayat Al Qur an diwaktu luang dan kebetulan kamu membaca ayat sajdah, maka dianjurkan melakukan sujud tilawah.

Adapun bacaan dari sujud tilawah bisa dengan membaca bacaan seperti saat sujud ketika sholat subhana rabbiyal a’la wa bihamdihi, atau bacaan-bacaan lain yang juga berasal dari Nabi Muhammad saw, atau dengan bacaan-bacaan berikut:
Sajada wajhiya lilladzii kholaqahu wa showwarahu wa syaqqa sam’ahu wa bashorahu bihaulihi wa quwwatihi. Atau dengan bacaan yang berikut ini,
Allahumma ahthuth ‘annii biha wizran waktublii biha ajran waj’alhaa ‘indaka dzukhran.
Bagaimana ........ sudah paham kan......^_^

Budaya di Masyarakat
Sujud tilawah yang memiliki keutamaan sehingga tidak boleh dianggap remeh ini semestinya menjadi penggugah kita semua untuk bersemangat melaksanakan sunnah bersujud saat membaca ayat sajdah, dan sunnah-sunnah yang lain sesuai yang telah diajarkan oleh Baginda Nabi. Disayangkan kalau sampai lupa melaksanakannya, apalagi sampai-sampai tidak pernah membaca al-Qur an...... waduh nggak siip tuh, rugiiiiiii orang islam membaca kitab sucinya sendiri nunggu kalau Ramadlon. Apalagi yang tidak pernah, rugi banget tuh orang, bagaimana mau sujud tilawah, baca Qur an nunggu Ramadlan iya kalau kebagian baca atau menyimak, tadarusan saja tidak setiap hari berangkat. He he he.................payah-payah.
Dan praktek yang terjadi di masyarakat kebanyakan, saat membaca atau yang menyimak hanya membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir sebanyak tiga kali kemudian diakhiri dengan hauqolah. Mungkin di daerahmu atau kotamu juga terjadi, bisa dicoba untuk berdakwah lho untuk mengingatkan agar tidak cuma membaca seperti ini: subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallahu Allahu Akbar 3X, dan diakhiri dengan bacaan laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.
Perlu diketahui bahwasanya Allah memberi banyak jalan dan pintu kebaikan. Sehingga semakin tinggi ilmu seseorang maka semakin banyak pintu kebaikan yang diketahuinya dan diamalkannya dengan ikhlas. Cukuplah kiranya saya berbagi pengetahuan dengan anda sekalian, mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan pemahaman dari saya, karena kebenaran yang hakiki hanya milik Allah semata. Ihdinash shiratal mustaqiim, astaghfirullaha min qoulin bila ‘amalin.

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Sabtu, 26 Mei 2012

Himbauan KH.Hasyim Asy'ari

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Bismillahirrahmanirrahim
Sebagai seorang Muslim, saya merasa terenyuh dan terharu atas mulianya kita yang senantiasa bersikukuh dengan Ahlussunnah wal Jamaah, sehingga banyak cara dan gaya yang dilakukan oleh oknum atau golongan (kelompok) untuk melunturkan dan memecah belah Ummat Islam Ahlussunnah wal Jamaah, berkaitan dengan hal tersebut, saya ingin menyampaikan kembali/ mengingat bersama atas himbauan yang telah disampaikan oleh Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari.
Bahwa dengan merujuk kepada kitab Risalah Ahlissunnah wal Jamaah (Penerbit Maktabah At-Turast al-Islamiy; PP. Tebuireng Jombang.1417 H.) karya Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari sebagai Rois Akbar Nahdltul Ulama, bahwa Umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah harus selalu waspada terhadap upaya pelunturan dan perusakan akidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah. Upaya perusakan ini dilakukan oleh kelompok Syi'ah Ar Rofidhoh yang mengaku pecinta Ahlul Bait tetapi hakikatnya mereka adalah penebar fitnah dan pencaci para Sahabat Nabi rodhiyallahu 'anhum.
Dalam kitab Risalah Ahlissunnah wal Jamaah Pasal Penjelasan tentang Pedoman/Prinsip Penduduk Jawa (Indonesia)dalam bermadzhab Ahlussunnah wal Jamaah; serta Penjelasan tentang Macam-macam Ahlil Bid'ah yang Ada di Zaman Sekarang, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari menyatakan:
"Diantara mereka (ahli bid'ah) adalah kelompok Syi'ah Ar Rofidhoh. Mereka selalu mencaci Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar rodhiyallohu 'anhum. Mereka juga berlebih-lebihan dalam mencintai Sayyidina Ali dan Ahlul Baitnya Ridhwanullahi 'alaihim ajma'in."
Dalam kitab tersebut, hadhratu Syaikh KH. Hasyim asy'ari mengutip Hadits Nabi. Rasulullah Nabi Muhammad SAW bersabda," Janganlah kalian mencaci para Sahabatku. Barangsiapa yang mencaci mereka,maka dia akan mendapat laknat Allah, laknat para malaikat, dan laknat seluruh umat manusia."
Rasulullah Nabi Muhammad SAW juga bersabda, " Janganlah kalian mencaci para Sahabatku. Karena sesungguhnya kelak di akhir zaman akn datang suatu kaum (kelompok) yang selalu mencaci para Sahabatku. Maka janganlah kalian mensholati (jenazah) mereka. Janganlah kalian sholat (berjamaah) bersama mereka. Janganlah kalian menikah dengan (pria/wanita) mereka. Janganlah kalian duduk-duduk (interaksi) dengan mereka. Jika mereka sakit, maka janganlah kalian menjenguk mereka."
Sampai sedemikian rasulullah bersabda, padahal terhdap orang kafir sekalipun, yang setiap harinya melempari beliau dengan batu/ kotoran unta, beliau bersedia menjenguk dan mendo'akan terhadapnya ketika jatuh sakit. Tetapi kepada golongan (kelompok) diatas betapa beliau Baginda Nabi Muhammad SAW melaknat sedemikian rupa, na'udzu billahi min dzalik.
Berpijak pada hadits Nabi dan pesan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari tersebut, maka dihimbau kepada seluruh umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah agar selalu waspada terhadap segala bentuk propaganda yang mereka lakukan. Secara tegas kita MENOLAK segala bentuk kegiatan mereka, seperti Perayaan MILAD FATHIMAH, Perayaan ARBAIN, dan sebagainya.
Mungkin hanya sekian yang dapat saya sampaikan, kekurangan adalah dari hamba semata dan kebenaran milik Allah yang hakiki. Astaghfirullaha min qoulin bila 'amalin, ihdinash shiratal mustaqim.
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Senin, 30 April 2012

Bid’ah lagi, bid’ah lagi

Assalamu'alaikum wr.wb

Wahai saudara-saudaraku yang dirahmati Allah
Kali ini saya mengangkat topik yang sudah sering dibahas, mungkin dikatakan sudah basi, tetapi ini cukup

Dilingkungan mana dulu, di pandang dari mana, bid’ah itu ?
Kalau dilihat dari segi ibadah,
yakni ibadah mahdloh
dan ibadah mu’amalah

Pengertian :
Ibadah mahdloh ialah penghambaan murni yang hanya merupakan hubungan antara hamba yang langsung dengan Allah SWT.Yang mana kalau dalam lingkungan bid’ah, berarti juga segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.
Sedangkan Ibadah mu’amalah ialah segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah untuk dikerjakan.

Yang sering juga disebut orang mengenai bid’ah ialah segala sesuatu yang berbeda/ tidak dikerjakan oleh Rasulullah. Nah!, padahal kita tahu sendiri kalau tidak ada motor, mobil, pesawat, bahkan listrik sekalipun. Apa bisa kita tidak menggunakan kesemuanya itu?, padahal Allah memang telah membuat kemudahan untuk kita beribadah dijalannya, dengan kecerdasan dan kecanggihan alat dijaman sekarang, yang mana tidak ada pada jaman Rasulullah. Bahkan dari hal terkecil yang dilakukan oleh Rasulullah yakni makan, minum, atau cara beliau khajat (buang air) tidak ada yang bisa menirukan atau melakukannya, apalagi yang tahu bagaimana pastinya.
Dari yang telah dituliskan diatas, kita harusnya tidak mudah terpengaruh oleh pihak-pihak tertentu, apalagi kita sendiri sampai-sampai mudah untuk mengatakan kepada orang lain bahwa yang dilakukannya itu bid’ah. Karena rujukan utama kita dalam melakukan berbagai aktivitas ibadah kepada Allah SWT, tentunya beliau Baginda Nabi, yakni Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah dalam Al Qur an, sebagai berikut :

“Fain aamanuu bimitsli maa aamantum bihi faqadihtadau”
Artinya: maka jiak mereka beriman sebagaimana kamu beriman, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. (Qs. Al Baqarah: 137)

Tidak Perlu Membuat Cara Dan Inovasi Dalam Soal Ibadah
Dengan kata lain mudahnya, kita tirukan saja apa yang telah dicontohkan Rasulullah, kita lakukan saja apa yang diperintahkan Rasulullah!
Kalau seseorang hendak melakukan shalat, ya sebagaimana Rasulullah shalat. Kalau seseorang hendak melaksanakan haji, ia harusnya berhaji sebagaimana yang Rasulullah melaksanakan manasik hajinya.
Kalau seseorang berdakwah atau mau berjihad, ia harus berdakwah dan berjihad sebagaimana yang telah dikerjakan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dengan cara, aturan dan melihat sikontole (Situasi, Kondisi, dan Toleransi), sesuai denagn penempatan waktu yang telah beliau lakukan.“ Semata-mata dengan niatan tulus “, tidak akan menyelamatkan seseorang.
Karena segala yang diajarkan Rasulullah tentang Islam dan segala ajarannya yang kompleks, telah sempurna. Tidak perlu lagi kita menciptakan cara-cara dan inovasi dalam soal ibadah. Maka dari itu jangan mudah bagi kita terpancing dan terpengaruh dengan orang-orang yang berinovatif tentang cara ibadah, atau aliran-aliran baru yang kian hari bermunculan.

“Wa anzalnaa ilaika addzikra litubayyina linnaasi maa nuzzila ilaihim wa la’allahum yatafakkaruuna”
Artinya: Dan kami turunkan kepadamu Al Qur an agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah duturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.(Qs. An Nahl:44)

Minggu, 29 April 2012

Secuil Kisah Dari Saya

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Di pagi yang cerah dan aktifitas seperti biasa, setelah kegiatan saya membantu di dapur, yang kebetulan pada hari itu tidak ada jam di MTs. Kita membuat menu beda dengan yang disiapkan untuk para santri untuk sarapan, yaa lebih enak sedikitlah sambal terong campur tempe cemet eh penyet kok cemet, setelah sarapan saya meminjam notebook teman yang masih duduk dibangku SMK. Saat itu saya sedang ingin mengedit gambar, akan tetapi belum sampai 10 menit, ada teman pengurus datang ke kamar sembari berkata, “ piye bos,” katanya. Saya pun menjawab,” alhamdulillah.” Kemudian dia duduk disebelah saya yang sedang tengkurep di depan notebook, kemudian memegang pundak saya sembari berkata,” sampean seng sabar yo, anu...bape’e sampean,”, saya memotong pembicaraan,” he’em,”,lalu dia melanjutkan lagi,” anu, abahe sampean ninggal,” katanya dengan pelan. “ innaa lillahi wa inna ilaihi roju’uun,” sepontan saya menjawab dengan nada biasa seperti orang yang tidak kaget, padahal dalam batin saya tersentak. Teman saya yang memberi tahu saya kebetulan memiliki adik di pondok putri, dan kabar tersebut dari pondok putri bukan datang langsung dari pondok putra, itupun yang menelpon ‘ammah (tante) saya untuk memberi tahukan/ mengabari Ibu Nyai dan Abah Kyai, bukan untuk langsung mengabari saya.
Namun saya juga memaklumi hal itu, karena mungkin dirumah sedang repot dan sedang dalam keadaan bingung, dan juga bapak saya memang pernah berpesan kepada yang dirumah,” gak usah dikabari, kabari ga’ popo nek aku wes mati,” pesan bapak. Setelah mendapat kabar dari teman saya, kemudian saya menelpon ke no kakak perempuan saya untuk memastikan dan menanyakan abah kapan meninggalnya, ternyata memang benar, dan kakak saya langsung menyuruh saya agar lekas pulang,” ndang balik wes sampean sak iki,” kata kakak saya. Setelah telepon saya tutup saya pun langsung menuju Ndalem (kediaman Abah kyai) untuk meminta izin dan berpamitan, tetapi Abah dan Ibu Nyai tidak ada, namun selang beberapa saat saya menunggu dan menanyakan pada mbak-mbak yang di Ndalem terdengar suara mobil dan yang melintas mobil sedan milik Abah kyai saya pun langsung menunggu di depan pintu masuk Ndalem, ternyata yang turun hanya Ibu Nyai saja dan sedan pun menuju ke pondok putera, setelah ibu sudah sampai di dekat saya saya pun berkata,” pangapunten buk,”, dan Ibu Nyai menjawab,” nggih wonten nopo le,” kata beliau sembari duduk. Kemudian saya melanjutkan perkataan saya,” pangapunten bade nyuwun isti’dzan (izin),” Ibu Nya menjawab,” lho ajeng teng pundi sampean,” sambil menatap saya dengan tanya. Saya menarik nafas dan menyambung pertanyaan beliau,” bade wangsul, abahe kulo sampun boten wonten” jawab saya, Ibu nyai nenegaskan apa yang saya ucapkan,” piye le-piye,” kata beliau. Saya pun menjelaskan,” bapa’e kulo sampun ninggal,” dengan menatap Ibu Nyai dan kemudian saya menundukkan kepala. Setelah itu saya undur diri dengan berkat,” gih sampun buk, pangapunten kulo tak matur teng Abah, kaleh nyuwun idzin, assalamu’alaikum,” kata saya, dan Ibu Nyai menjawab,” gih,gih, wa’alaikumussalam, abahe teng bangunan menawi le,” tutur beliau. Setelah berpamitan dengan Ibu Nyai saya pun bergegas menuju proyek bangunan baru di pondok putera. Saya segera menghampiri Abah Kyai, dan setelah sampai agak dekat saya berkata,” assalamu’alaikum,” Abah pun menjawab,” wa’alaikumussalam, ono opo le” abah membuka pembicaraan, saya menjawab,”pangapunten bah, bade nyuwun isti’dzan, bade wangsul abahe kulo ninggal,” dengan tertunduk. “innaa lillahi wa inna ilaihi roji’uun,” dan Abah Kyai terdengar menarik nafas dan kembali berkata,” sampean seng sabar, onone abahe sampean barengi trus sak niki boten wonten, pengeran (Allah) tetep barengi,” tutur beliau. Saat itu air mata saya menetes dan saya menangis, akan tetapi karena saya masih sempat teringat akan peristiwa dimana saat Baginda Nabi wafat, shohabat Abu Bakar lah yang paling tidak percaya akan wafatnya Nabi, namun beliau menahan tangis dan mengingatkan kepada para shohabat yang lain agar tidak menangisi akan kepergian Nabi. Kemudian saya pamit dan berlari menuju kamar untuk berkemas, setelah selesai berkemas saya berpamitan dengan beberapa teman-teman kemudian berlari menghampiri Abah Kyai lagi.
Didekat Abah Kyai sudah ada Ibu Nyai yang berdiri di belakang dekat mobil, ketika saya sudah sampai di dekat beliau,” wes due sangu durung le,”tanya beliau.” Sampun, sampun gadah, taseh wonten bah,” jawab saya. Tetapi beliau tetap memberi saya uang, kemudian menatap saya dan melihat ke arah bawah,” sendale kok ape pedot, ganti iki,” sambil megeluarkan sandal japit dari dalam bagasi mobil, setelah itu Ibu Nyai berpesan kepada saya,” mengko neng dalan sampean jogo wudhune, trus dingajekne abahe sampean nggih,” saya menjawab,” inggih,” bareng dengan anggukan, dan Abah bertutur kembali,” nek sa’iki aku gak iso barengi sampean, tapi insyaallah sak durunge tanggal pitu aku wes tekan kono, yo wes ati-ati neg dalan,” pesan abah. Kemudian saya pun berpamitan dengan mencium tangan Abah dan Ibu Nyai sembari berkata,” assalamu’alaikum.”
Mungkin cukup sampai disini curhat atas apa yang saya alami sendiri, bukan orang lain atau sekedar cerita fiktif. Itulah sebab dari beberapa hal yang membuat saya tidak beraktifitas di blog ini selama beberapa bulan, semoga dari tilisan saya ini dapat diambil hikmah dan ada pelajaran yang bermanfaat di dalamnya, sekian dari saya mungkin ada salah-salah tulis dan sebagainya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, ‘ihdinash shiratal mustaqim.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Kamis, 05 Januari 2012

Tawassul Bukan Pekerjaan Haram Meskipun Dibilang Bid’ah

Assalamu’alaikum wr.wb


Seringkali orang salah persepsi akan tawassul, karena cara atau perbuatan mereka yang berlebih dan menyimpang dari syari’at, juga tuntunan para ‘alim ulama. Dan dari demikian itu golongan-golongan yang baru-baru muncul mengambil kelemahan atas itu dengan mengatakan bahwa tawassul adalah bid’ah dan haram. Sehingga kali ini saya mengangkat topic Tawassul, wahai para saudaraku muslimin yang dirahmati Allah, yang berkeyakinan sunni (ahlus sunnah) yakinlah bahwa bertawassul bukanlah perbuatan yang dibenci oleh Allah swt, asalkan kita tidak melenceng dari apa yang telah diajarkan oleh salafus sholih, berikut adalah macam-macamnya tawassul.

Macam-Macam Tawassul :

a) Tawassul Dengan Amal Solih

Hadits riwayat Imam Bukhori No. 2111 hal. 40 juz 8 menceritakan tiga orang yang terperangkap di dalam goa yang tertutup batu besar. Mereka keluar dengan selamat setelah memohon kepada Allah dengan wasilah amal-amal soleh mereka.

b) Tawassul Dengan Orang Solih Yang Hidup

Disebutkan dalam sohih Bukhori
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ

Diriwayatkan dari Anas bin Malik sesungguhnya Umar bin Khatthab RA ketika masyarakat tertimpa paceklik, dia meminta hujan kepada Allah dengan wasilah Abbas bin Abdul Mutthalib, dia berdo’a “Ya Allah! Dulu kami bertawassul kepada-Mu dengan perantara Nabi kami, lalu kami diberi hujan. Kini kami bertawassul kepadamu dengan perantara paman Nabi kami, berikanlah kami hujan”. Perawi hadits mengatakan “Mereka pun diberi hujan.”. HR Bukhory : 4/99.

Jelas sekali bahwa Sayidina Umar r.a. memohon kepada Allah dengan wasilah bbas, paman Rasulullah SAW padahal Sayidina Umar lebih utama dari Abbas dan dapat memohon kepada Allah tanpa wasilah

c) Tawassul Dengan Orang yang telah meninggal.

Dari Sayyidina Ali kr. “Sesungguhnya Nabi Saw ketika mengubur Fatimah binti Asad, ibu dari Sayyidina Ali Ra. Nabi mengatakan “Ya Allah! dengan Hakku dan Hak para nabi sebelumku ampunilah ibu setelah ibuku (wanita yang mengasuh Nabi sepeninggal Ibu-Nya)”. {HR. Thabrany dalam kitab Ausat juz 1 hal. 152}. Pada hadits tersebut Nabi betawassul dengan para nabi yang sudah meninggal.

d) Tawassul Dengan Yang Belum Wujud.

Allah berfirman :

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ

“Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”.(QS Al-Baqarah 89)

Diriwayatkan bahwa kaum Yahudi memohon pertolongan untuk mengalahkan kaum Aus dan Khazraj dengan wasilah Nabi Muhammad SAW yang kala itu belum diutus dan mereka diberi kemenangan oleh Allah, Akan tetapi setelah beliau diutus sebagai Rasul mereka mengkufurinya. (Tafsir Attobari juz2 hal.333)

Disebutkan pula
عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « لما اقترف آدم الخطيئة قال : يا رب أسألك بحق محمد لما غفرت لي ، فقال الله : يا آدم ، وكيف عرفت محمدا ولم أخلقه ؟ قال : يا رب ، لأنك لما خلقتني بيدك ونفخت في من روحك رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوبا لا إله إلا الله محمد رسول الله فعلمت أنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق إليك

Dalam hadits yang diriwayatkan Umar bin Khatthab Ra. Rasullulah bersabda “Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, Beliau berkata, “Wahai Tuhanku! aku meminta kepada-Mu dengan Hak Muhammad ampuni aku”. Kemudian Allah menjawab “Wahai Adam! bagaimana kamu mengetahui tentang Muhammad padahal Aku belum menciptakan-Nya?”. Adam berkata “Wahai Tuhanku! karena ketika Engkau ciptakan aku dengan kekuasaan-Mu dan Kau tiupkan ruh ke dalam diriku, setelah aku mengangkat kepalaku, aku melihat pada tiang Arsy tertulis “Lailaha illallah Muhammad Rasullullah” maka aku pun meyakini, tidaklah Kau sandarkan sebuah nama pada nama-Mu kecuali mahluk yang paling Engkau cintai”. {HR. Hakim dalam kitab Mustadrok juz 10 hal. 7. dan dishohihkan oleh al-Hafidz As-Suyuthy dalam kitab khosois an-Nabawiyyah, Imam baihaqy dalam kitab Dalailun Nubuwwah, Imam al-Qasthalany dan Zarqany dalam kitab al-Mawahib al-Ladzunniyah juz 2 hal. 62, dan Imam As-Subky dalam kitab Syifa’us Siqom}.

Ini adalah bukti bahwa Nabi Adam pun menjadikan Rasulullah SAW sebagai wasilah sehinga Allah menerima tobatnya, padahal beliau belum diwujudkan oleh Allah SWT.

e) Tawassul Dengan Benda Mati

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 248 :
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آَيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آَلُ مُوسَى وَآَلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman”.

Al Hafidz Ibn Kasir dalam kitab tarikh mengatakan: “Ibn Jarir berkata: “Bani Israil apabila berperang melawan musuh, mereka membawa tabut, dan mereka mendapatkan kemenangan berkat tabut, yang berisi bekas peninggalan keluarga Musa dan Imran”".

Ibn Kasir mengatakan pula dalam kitab tafsirnya “Tabut itu berisi tongkat Nabi Musa dan Nabi Harun serta baju Nabi Harun, sebagaian ulama mengatakan tongkat dan dua sandal”.

Apabila bertawassul dengan bekas peninggalan para Nabi, Allah SWT ridho dengan perbuaatan mereka dengan mengembalikan tabut itu ke tangan mereka setelah lama hilang, karena kemaksiatan mereka dan menjadikan tabut itu tanda keabsahan kerajaan Tholut, padahal isi tabut adalah benda-benda mati maka apakah menjadi syirik bila kita bertawassul dengan sebaik-baik Nabi?

Kesalahfahaman Kelompok Penentang Tawassul Dalam Memahami Ayat & Hadits

Sebagian orang mengatakan bahwa tawassul hukumnya haram dan menyebabkan kesyirikan, karena perbuatan ini sama dengan perbuatan orang musyrik, berdasarkan firman Allah Swt
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

Artinya “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya “.Az Zumar : 3

Sebenarnya ayat di atas tidaklah tepat jika ditujukan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah karena ayat itu diturunkan untuk menjelaskan kelicikan orang-orang musyrik di dalam membela diri mereka terhadap sesembahan mereka yaitu berhala-berhala yang sebenarnya mereka meyakini bahwa berhala-berhala itu berkuasa memberi manfat dan mendatangkan bahaya. Sedangkan orang yang beriman meyakini bahwa semua manfaat dan bahaya semata dari Allah.

Selain itu kalimat ما نعبدهم الا ليقربونا artinya kami tidak menyembah berhala-berhala itu kecuali untuk mendekatkan diri kami kepada Allah. Apakah sama yang diyakini orang yang bertawasul ?, Tidak, mereka menyembah kepada Allah dan tidak menyembah kepada selain Allah dan mereka tidak menjadikan apa yang mereka tawassuli untuk mendekatkan diri kepada Allah, mereka meminta kepada Allah berkat orang-orang yang soleh yang telah diridhoi oleh Allah.

Salah besar jika melarang tawassul dengan ayat di atas. Yang lebih mengggelikan, ayat yang ditujukan kepada musyrikin ini, mereka gunakan untuk menyerang orang-orang beriman yang meng-esakan Allah. Imam Bukhori berkata “Ini adalah perbuatan orang khawarij. Mereka mengambil ayat untuk orang kafir kemudian menimpakan ayat tersebut kepada muslimin dengan tanpa dalil dan disertai fanatik yang keterlaluan “. {lihat kitab Mas’alatul al-Washilah karya Muhammad Zaky Ibrohim hal. 8}.

:Mereka juga salah di dalam memahami hadits
اذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah” {HR. Turmudzy juz 9 hal. 56}

Dinyatakan hadits di atas dalil untuk mengharamkan bertawasul.

Sebenarnya hadits ini mengingatkan bahwa semua datangnya dari Allah Swt. Jelasnya, bila kamu meminta kepada salah satu mahluk, maka tetaplah berkeyakinan semuanya dari Allah Swt bukan larangan untuk meminta kepada selain Allah sebagaimana zhohir hadits. Sesuai dengan hadits berikut,
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

“Ketahuilah seandainya semua umat berkumpul untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah Swt kepadamu. Apabila mereka berkumpul untuk membahayakan kamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan atasmu”. {HR. Turmudzy juz 9 hal. 56}

Bandingkan ! hadits Nabi yang berbunyi :
لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

“Janganlah bergaul dengan kecuali orang mu’min dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertqwa” {HR. Abi Daud juz 12 hal. 458}

Apakah hadits ini sebagai larangan bagi kita untuk bergaul dengan orang kafir dan memberi makan orang yang tidak betaqwa itu haram ?. Tidak ! hadits di atas peringatan “janganlah disamakan bergaul dengan orang yang kafir dengan bergaul dengan orang yang beriman, dan lebih perhatikanlah membantu orang yang bertaqwa dari pada selainnya”. Hadits tersebut hanyalah anjuran, bukan kewajiban.

Sebenarnya banyak sekali dalil-dalil tentang diperbolehkannya tawasul bahkan menjadi suatu anjuran, tapi yang di atas kiranya menjadi cukup sebagai pemikiran tentang kekurang fahaman mereka terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits serta kefanatikan mereka terhadap pendapat diri sendiri tanpa menghargai pendapat orang lain yang lebih tinggi ilmu dan kesolehannya. Wallahu A’lam

Sekian dari saya, salah dan kekurangan semata dari saya pribadi dan kebenaran hanya dari Allah semata, mohon maaf apabila terdapat penulisan dan bahasa saya yang salah.

اللهم اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَاَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، آمـين.—

Wassalamu’alaikum wr.wb

Minggu, 13 November 2011

Mengutamakan ibadah kok Dilarang ?

Assalamu'alaikum wr.wb
Mengutamakan orang lain dalam beribadah (ibadah mahdhah) itu dilarang ! Sehingga kita harus mengedepankan diri kita sendiri, bukan mempersilahkan orang lain terlebih dahulu. Sebagai mana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW :
“al iitsaaru fil ’ibaadati mamnu’un”
Mengutamakan orang lain dalam beribadah itu dilarang
Ibadah mahdhah
Penegertian dari ibadah mahdhah ialah penghambaan murni yang hanya merupakan hubungan antara hamba yang langsung dengan Allah SWT. Ibadah ini hanya dapat diri pribadi yang dapat melaksanakannya, yakni antara lain 5 (lima) rukun yang harus diketahui seorang muslim:
Yang pertama yakni syahadat, seorang muslim tidak dapat mewakilkan atau diwakilkan dalam bersyahadat tentunya, apalagi bagi seorang yang baru masuk Islam (muallaf) ketika mengucapkan dua kalimat syahadat, karena syahadat merupakan rukun dari Islam itu sendiri.
Yang ke dua ialah sholat, apalagi dengan ibadah sholat lima waktu yang mana itu adalah dihukumi wajib. Sehingga tidak dapat ditinggalkan selama manusia itu masih bisa untuk bernapas atau masih hidup, kecuali dalam keadaan lupa yang tidak disengaja, dalam keadaan tidak sadar atau lupa ingatan entah itu gila, mabuk, pingsan. Namun harus tetap mengqada’ shalatnya ketika sudah sadar atau sudah kembali ingatannya (waras).
Yang ke tiga Zakat, nah!, untuk yang satu ini dapat diwakilkan dalam pelaksanaan pemberian zakat atau niatannya (pengucapan niatnya), akan tetapi setiap muslim yang hidup di dunia harus mengeluarkan zakat.
Yang ke empat puasa, ibadah yang satu ini juga tidak dapat diwakilkan atau mewakilkan, karena puasa Romadlon juga merupakan ibadah yang wajib hukumnya bagi seorang muslim, namun ada saatnya seorang muslim juga boleh untuk tidak berpuasa Romadlon, yakni pada saat seorang muslim tersebut sakit, yang mana jika ia memaksakan berpuasa dia akan bertambah parah penyakitnya, ia diperbolehkan tidak berpuasa akan tetapi harus mengqada’ puasanya ketika ia sudah sembuh, adapun orang yang sudah lanjut usia atau diperkirakan lama sembuhnya maka harus membayar kifarat (denda) atas puasanya yang tidak dapat ia kerjakan.
Yang ke lima haji, ada pengecualian untuk rukun Islam yang ke lima ini dalam pelaksanaannya hanya bagi yang mampu, dan juga dapat diwakilkan akan tetapi sama dengan rukun yang ke tiga, yakni diniatkan bagi yang diwakili karena berhalangan untuk dapat berangkat dan melaksanakannya sendiri.
Selain yang telah disebutkan di atas masih ada lagi yang dilarang bagi seorang muslim untuk mendahulukan orang lain, seperti halnya dengan menikah, kalau orang jawa atau yang berpedoman tidak baik (ora elok) mendahului kakak kalau menikah, padahal kalau dalam Islam tidak seperti itu, kalau memang sudah waktunya untuk menikah tidah usah terlalu memikirkan adat seperti itu, karena Allah SWT memang telah menetapkan demikian, meskipun yang muda lebih dulu kalau waktunya ya menikah saja, masak harus nunggu sampai yang lebih tua menikah, iya kalau satu dua minggu, kalau sampai satu tahun bagaimana hayo ?
Ada yang lain lagi, seperti mempersilahkan orang yang baru datang untuk menempati shof shalat dibagian depan, mempersilahkan orang lain untuk menempati tempat depan dalam acara atau kegiatan thalabul ‘ilmi, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan ibadah mahdhah itu sendiri yang mana ibadah mahdhah berumuskan (Karena Allah dan Sesuai Syariat ).
Ibadah Ghairu Mahdhah
Yakni ibadah yang tidak hanya semata berhubungan langsung dengan Allah SWT, yang dapat juga kita artikan hubungan antar sesama manusia atau makhluk hidup lainnya yang dilandasi atas (Berbuat Baik dan Karena Allah). • Keberadaan dari ibadah tersebut didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama Allah dan Rasul-Nya tidak melarang, maka ibadah bentuk ini boleh dikerjakan dan dilestarikan .
• Tata cara dan pelaksanaannya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul karenanya dalam ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah “bid’ah” , atau jika ada yang menyebut nya, segala hal yang tidak dikerjakan rasul bid’ah, maka bid’ahnya disebut bid’ah hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah disebut bid’ah dhalalah.
• Bersifat Masuk Akal ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika seorang hamba itu sendiri. Sehingga jika menurut akal sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.
• Azas dari ibadah tersebut adalah Manfaat Kita pandang dari segi kemanfaatan, selama itu bermanfaat bagi yang melaksanakan dan bagi orang disekitar, maka selama itu pula boleh untuk tetap dikerjakan. Tidak melanggar aturan syar'i dan membuat orang lain rugi (madharat terhadap orang lain).
Alhamdulillahi Rabbil 'alamin, sekian artikel yang dapat saya sampaikan kurang itu semata dari saya pribadi, kebenaran dan kebaikan hanya dari Allah semata. Ihdinash shiratal mustaqim
Wassalamu'alaikum wr.wb

Sabtu, 05 November 2011

"ROHNUN" HUKUM PERGADAIAN DALAM FIQIH ISLAM

حكم الرهن في الفقه الإسلامي

Assalamu'alaikum wr.wb

Kali ini pembahasan berkenaan tentang pergadaian (Ar-Rahn) dalam fiqih Islam.


A. Defenisi Ar-Rahn (Gadai):


Ar-Rahn (gadai) secara bahasa artinya adalah ats-tsubût wa ad-dawâm (tetap dan langgeng), dan bisa juga berarti al-ihtibas wa al-luzum (tertahan dan keharusan).

Sedangkan secara syar‘i, ar-rahn (gadai) adalah harta yang dijadikan jaminan utang (pinjaman) agar bisa dibayar dengan harganya oleh pihak yang wajib membayarnya, jika dia gagal (berhalangan) melunasinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Gadai ialah harta benda yang dijadikan sebagai jaminan (agunan) utang agar dapat dilunasi (semuanya), atau sebagiannya dengan harganya atau dengan sebagian dari nilai barang gadainya itu”.

Sebagai contoh, bila ada seseorang memiliki hutang kepada anda sebesar Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah). Lalu dia memberikan suatu barang yang nilainya sekitar Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah) sebagai jaminan hutangnya. Maka di dalam gambaran ini, hutangnya kelak dapat dilunasi dengan sebagian nilai barang yang digadaikannya itu bila dijual.

Contoh lain, bila ada seseorang yang berhutang kepada anda sebesar RP.5.000.000,- (lima juta rupiah). Lalu dia memberikan kepada anda sebuah barang yang nilainya sebesar Rp.500.000,- (Lima ratus ribu rupiah) sebagai jaminan hutangnya. Di dalam gambaran kedua ini, sebagian hutang dapat dilunasi dengan nilai barang tersebut. Akan tetapi orang yang berhutang masih menanggung hutang dari sisa yang masih belum dibayarnya.

Nah!, dalam dua gambaran di atas, baik nilai barang gadaiannya itu lebih besar ataupun lebih kecil dari jumlah hutang, hukumnya tetap sama, diperbolehkan.



B. Landasan Disyariatkannya Gadai:


Gadai diperbolehkan dalam agama Islam baik dalam keadaan safar maupun mukim. Hal ini berdasarkan dalil Al-Qur’an, Al-Hadits dan Ijma’ (konsensus) para ulama. Di antaranya:

a. Al-Qur’an:

:Firman Allah

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS. Al-Baqarah: 283)

menyebutkan “barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berhutang)”. Dalam dunia finansial, barang tanggungan biasa dikenal sebagai jaminan atau obyek pegadaian.

b. Al-Hadits:

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُودِىٍّ إِلَى أَجَلٍ ، وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ

Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo (kredit) dan beliau menggadaikan kepadanya baju besi.” (HR Bukhari II/729 (no.1962) dalam kitab Al-Buyu’, dan Muslim III/1226 (no. 1603) dalam kitab Al-Musaqat).


عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – قال : لَقَدْ رَهَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – دِرْعًا لَهُ بِالْمَدِينَةِ عِنْدَ يَهُودِىٍّ ، وَأَخَذَ مِنْهُ شَعِيرًا لأَهْلِهِ

Anas Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menggadaikan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, sementara Beliau mengambil gandum dari orang tersebut untuk memenuhi kebutuhan keluarga Beliau.” (HR. Bukhari II/729 (no. 1963) dalam kitab Al-Buyu’).



c. Ijma’(kesepakatan)para ulama:


Para ulama telah bersepakat akan diperbolehkannya gadai (ar-rahn), meskipun sebagian mereka bersilang pendapat bila gadai itu dilakukan dalam keadaan mukim. Akan tetapi, pendapat yang lebih rajih (kuat) ialah bolehnya melakukan gadai dalam dua keadaan tersebut. Sebab riwayat Aisyah dan Anas radhiyallahu ‘anhuma di atas jelas menunjukkan bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan muamalah gadai di Madinah dan beliau tidak dalam kondisi safar, tetapi sedang mukim.



C. Unsur dan Rukun Gadai (Ar-Rahn):


Dalam prakteknya, gadai secara syariah ini memiliki empat unsur, yaitu:

1. Ar-Rahin, Yaitu orang yang menggadaikan barang atau meminjam uang dengan jaminan barang.

2. Al-Murtahin, Yaitu orang yang menerima barang yang digadaikan atau yang meminjamkan uangnya.

3. Al-Marhun/ Ar-Rahn, Yaitu barang yang digadaikan atau dipinjamkan.

4. Al-Marhun bihi, Yaitu uang dipinjamkan lantaran ada barang yang digadaikan.


Sedangkan rukun gadai (Ar-Rahn) ada tiga, yaitu:

• Shighat (ijab dan qabul).

• Al-‘aqidan (dua orang yang melakukan akad ar-rahn), yaitu pihak yang menggadaikan (ar-râhin) dan yang menerima gadai/agunan (al-murtahin)

• Al-ma’qud ‘alaih (yang menjadi obyek akad), yaitu barang yang digadaikan/diagunkan (al-marhun) dan utang (al-marhun bih). Selain ketiga ketentuan dasar tersebut, ada ketentuan tambahan yang disebut syarat, yaitu harus ada qabdh (serah terima).

Jika semua ketentuan tadi terpenuhi, sesuai dengan ketentuan syariah, dan dilakukan oleh orang yang layak melakukan tasharruf (tindakan), maka akad gadai (ar-rahn) tersebut sah.


Syarat gadai (ar-rahn):

Disyaratkan dalam muamalah gadai hal-hal berikut:

Pertama: Syarat yang berhubungan dengan orang yang bertransaksi yaitu Orang yang menggadaikan barangnya adalah orang yang memiliki kompetensi beraktivitas, yaitu baligh, berakal dan rusyd (kemampuan mengatur).

Kedua: Syarat yang berhubungan dengan Al-Marhun (barang gadai) ada dua:

1. Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi hutangnya, baik barang atau nilainya ketika tidak mampu melunasinya.

2. Barang gadai tersebut adalah milik orang yang manggadaikannya atau yang dizinkan baginya untuk menjadikannya sebagai jaminan gadai.

3. Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran, jenis dan sifatnya, karena Al-rahn adalah transaksi atau harta sehingga disyaratkan hal ini.

Ketiga: Syarat berhubungan dengan Al-Marhun bihi (hutang) adalah hutang yang wajib atau yang akhirnya menjadi wajib.


D. Kapan Serah Terima Ar-Rahn (Barang Gadai) Dianggap Sah?

Barang gadaian adakalanya berupa barang yang tidak dapat dipindahkan seperti bangunan/rumah dan tanah, Maka disepakati serah terimanya dengan mengosongkan isi bangunan/rumah tersebut untuk pemberi hutang tanpa ada penghalangnya.

Dan ada kalanya berupa barang yang dapat dipindahkan. Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati serah terimanya dengan ditakar pada takaran, bila barang timbangan maka disepakati serah terimanya dengan ditimbang pada takaran. Bila barang timbangan, maka serah terimanya dengan ditimbang dan dihitung, bila barangnya dapat dihitung. Serta dilakukan pengukuran, bila barangnya berupa barang yang diukur.

Namun bila barang gadai tersebut berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara tumpukan, dalam hal ini ada perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya. Ada yang berpendapat dengan cara memindahkannya dari tempat semula, dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak yang menggadaikannya, sedangkan murtahin dapat mengambilnya.

Ketentuan Umum Dalam Muamalah Gadai:

Ketentuan umum dalam muamalah gadai setelah terjadinya serah terima barang gadai. Di antaranya:

1. Barang yang Dapat Digadaikan.

Barang yang dapat digadaikan adalah barang yang memiliki nilai jual, agar dapat menjadi jaminan bagi Ar-Rahin. Dengan demikian, barang yang tidak dapat diperjual-belikan dikarenakan tidak ada harganya, atau haram untuk diperjual-belikan, adalah tergolong barang yang tidak dapat digadaikan. Yang demikian itu dikarenakan, tujuan utama disyariatkannya pergadaian, sehingga pergadaian tidak dapat dicapai dengan barang yang haram atau tidak dapat diperjual-belikan.

Barang yang digadaikan dapat berupa tanah, sawah, rumah, perhiasan, kendaraan, alat-alat elektronik, surat saham, dan lain-lain. Sehingga dengan demikian, bila ada orang yang menggadaikan seekor anjing, babi, dan yang dilahirkan dari keduanya (karena hasil persilangan), maka pegadaian ini tidak sah hukumnya, karena kesemuanya tidak halal untuk diperjual-belikan.

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ – رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِىِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam melarang hasil penjualan anjing, penghasilan (mahar) pelacur, dan upah perdukunan.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Seseorang tidak dibenarkan untuk menggadaikan sesuatu, yang pada saat akad gadai berlangsung, (barang yang hendak digadaikan tersebut) tidak halal untuk diperjual-belikan.”

2. Barang Gadai Adalah Amanah.

Barang gadai bukanlah sesuatu yang harus ada dalam hutang piutang, dia hanya diadakan dengan kesepakatan kedua belah pihak, misalnya jika pemilik uang khawatir uangnya tidak atau sulit untuk dikembalikan. Jadi, barang gadai itu hanya sebagai penegas dan penjamin bahwa peminjam akan mengembalikan uang yang akan dia pinjam. Karenanya jika dia telah membayar utangnya maka barang tersebut kembali ke tangannya.

Status barang gadai selama berada di tangan pemberi utang adalah sebagai amanah yang harus ia jaga sebaik-baiknya. Sebagai salah satu konsekuensi amanah adalah, bila terjadi kerusakan yang tidak disengaja dan tanpa ada kesalahan prosedur dalam perawatan, maka pemilik uang tidak berkewajiban untuk mengganti kerugian. Bahkan, seandainya orang yang menggadaikan barang itu mensyaratkan agar pemberi utang memberi ganti rugi bila terjadi kerusakan walau tanpa disengaja, maka persyaratan ini tidak sah dan tidak wajib dipenuhi.

3. Barang Gadai Dipegang Pemberi utang.

Barang gadai tersebut berada di tangan pemberi utang selama masa perjanjian gadai tersebut, sebagaimana firman Allah: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang).” (QS. Al-Baqarah: 283).

Dan sabda Nabi:

الظَّهْرُ يُرْكَبُ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَلَبَنُ الدَّرِّ يُشْرَبُ إِذَا كَانَ مَرْهُونًا وَعَلَى الَّذِى يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ نَفَقَتُهُ

“Hewan yang dikendarai dinaiki apabila digadaikan. Dan susu (dari hewan) diminum apabila hewannya digadaikan. Wajib bagi yang mengendarainya dan yang minum, (untuk) memberi nafkahnya.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari (no.2512), dan At-Tirmidzi (no.1245), dan ini lafazhnya).

4. Memanfaatkan Barang Gadai.

Pihak pemberi hutang tidak dibenarkan untuk memanfaatkan barang gadaian. Sebab, sebelum dan setelah digadaikan, barang gadai adalah milik orang yang berutang, sehingga pemanfaatannya menjadi milik pihak orang yang berutang, sepenuhnya. Adapun pemberi hutang, maka ia hanya berhak untuk menahan barang tersebut, sebagai jaminan atas uangnya yang dipinjam sebagai utang oleh pemilik barang.

Dengan demikian, pemberi hutang tidak dibenarkan untuk memanfaatkan barang gadaian, baik dengan izin pemilik barang atau tanpa seizin darinya. Bila ia memanfaatkan tanpa izin, maka itu nyata-nyata haram, dan bila ia memanfaatkan dengan izin pemilik barang, maka itu adalah riba. Karena setiap pinjaman yang mendatangkan manfaat maka itu adalah riba. Demikianlah hukum asal pegadaian.

Namun ada kalanya keadaan tertentu yang membolehkan pemberi hutang memanfaatkan barang gadaian, yaitu bila barang tersebut berupa kendaraan atau hewan yang diperah air susunya, maka boleh menggunakan dan memerah air susunya apabila ia memberikan nafkah untuk pemeliharaan barang gadaian tersebut. Pemanfaatan barang gadai tersebut, tentunya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. Hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda: “Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya (makanannya) bila sedang digadaikan, dan susu binatang yang diperah boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan. Orang yang menunggangi dan meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no.3962, Fathul Bari V/143 no. 2512, ‘Aunul Ma’bud IX/439 no.3509, Tirmidzi II/362 no.1272 dan Ibnu Majah II/816 no.2440).

Syaikh Abdullah Al-Bassam menjelaskan bahwa para ulama sepakat bahwa biaya pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya. Demikian juga pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga menjadi miliknya, kecuali pada dua hal, yaitu kendaraan dan hewan yang memiliki air susu yang diperas oleh yang menerima gadai.

5. Biaya Perawatan Barang Gadai.

Jika barang gadai butuh biaya perawatan -misalnya hewan perahan, hewan tunggangan, dan budak (sebagaimana dalam as-sunnah) maka:

- Jika dibiayai oleh penggadai/pemiliknya sendiri, maka pemilik uang tidak boleh menggunakan barang gadai tersebut.

- Jika dibiayai oleh pemilik uang, maka dia boleh menggunakan barang tersebut sesuai dengan biaya yang telah dia keluarkan, tidak boleh lebih.

Maksud barang gadai yang butuh pembiayaan, yakni jika dia tidak dirawat maka dia akan rusak atau mati. Misalnya hewan atau budak yang digadaikan, tentunya keduanya butuh makan. Jika keduanya diberi makan oleh pemilik uang(Al-Murtahin), maka dia bisa memanfaatkan budak dan hewan tersebut sesuai dengan besarnya biaya yang dia keluarkan. Hal ini berdasarkan hadits Nabi yang telah lalu dalam masalah pemanfaatan barang gadai.

6. Pelunasan Hutang Dengan Barang Gadai.

Apabila pelunasan hutang sudah jatuh tempo, maka Ar-Rahin berkewajiban melunasi hutangnya sesuai denga waktu yang telah disepakatinya dengan Al-Murtahin. Bila telah lunas maka barang gadaian dikembalikan kepada pemiliknya. Namun, bila Ar-Rahin tidak mampu melunasi hutangnya, maka Al-Murtahin berhak menjual barang gadaian itu untuk menggantikan pelunasan atas hutang tersebut. Apa bila ternyata ada sisa dari barang yang dijual, maka sisa tersebut menjadi hak pemilik barang gadai tersebut (Ar-Rahin). Sebaliknya, bila harga barang tersebut belum dapat melunasi hutangnya, maka orang yang menggadaikan barangnya tersebut masih menanggung atas sisa hutangnya.

Demikian atas penjelasan singkat seputar hukum mu'amalah gadai dalam fiqih Islam. Dari penjelasan di atas, Nampak jelas bagi kita atas kesempurnaan, keindahan dan keadilan Islam dalam mengatur segala aspek kehidupan manusia. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.kurang lebihnya mohon maaf. Ihdinash shiratal mustqim

Wassalamu'alaikum wr.wb